Selasa, 03 Mei 2011

Tugas PRI 10: asalah perkeretaapian di Indonesia saat ini

Selasa, 03 Mei 2011
Sejarah Perkeretaapian di Indonesia
Diawali dengan pembangunan pertama jalan kereta api di desa Kemijen tanggal 17 Juni 1864. diprakarsai oleh NV.NISM yang dipimpin oleh J.P Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung sepanjang 26 Km dengan lebar 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka pada 10 Agustus 1867. Kemudian tahun 1870 dibangun pula jalan kereta api Semarang-Surakarta sepanjang 110 Km. Pertumbuhan panjang rel meningkat pesat dari tahun 1867 25 Km menjadi 3338 Km pada tahun 1900. Selain di Jawa, pembangunan juga dilaksanakan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, serta Sulawesi.

Kemunduran perkeretaapian Indonesia
Dibandingkan degan kerea api di jepang pada saat itu, kereta api SS jauh lebih maju. Masa tahun 1930-an prestasi kereta api Eendaagsche Express (Ekpress siang) merupakan salah satu rekor dunia. Sejak kehadiran kereta api di Jawa tahun 1867, yang 5 tahun lebih awal dibanding kehadiran kereta api di Jepang. Tahun 1934 kereta api SS sudah mencapai 100 km/jam kemudia n kecapatan kereta mencapai 120km/jam mulai duruntus sekitar tahun 1941 dan perusahan SS sudah mulai merencanakan perjalanan 150km/jam. Pada Jepan, untk kecepatan 110 km/jam baru menjadi kenyataan tahun 1958, dan kecepatan 120 km/jam tahuun 1968.

Bandingkan saat ini. Kecepatan maksimum KA yang diperbolehkan saat ini hanya 90km/jam. Artinya jauh dibawah kemampuan lokomotif yang mampu melaju dengan kecepatan 120 km/jam. Semua peralatan mutakhir yang dimiliki perkeretaapian Indonesia ternyata tidak membawa kemajuan transportaasi kereta api jika tolak ukurnya adalah kecepatan.

Jika mengacu pada tolak ukur pelayanan, maka perusahaan SS sebelum perang kemerdekaan kondisinya lebih baik dibanding sekarang. Kesimpulan itu diperoleh dari data frekuensi operasional sarana lokomotif, kereta dan gerbong per kilometer masa perusahaan SS masih lebih tinggi dibanding kondisi sekarang.

Kereta api di Indonesia Masa Kini
Sebagai sarana transportasi yang paling diserbu masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah, kereta api kelas ekonomi ternyata kirang mendapat perhatian dari pemerintah. Masih banyak hal yang memprihatinkan dalam pengelolaan KA ekonomi seperti diterapkannya sistem kanibalisme komponen KA ataupun sistem 4.1 yaitu dimana setiap empat gerbong, hanya satu gerbong yang dilengkapi REM. Belum lagi WC umumnya yang sangat tidak sehat karena ketiadaan air sehingga dapat menjadi tempat penularan penyakit.

Jika dilihat dari keadaan sekarang, hal-hal yang mengkhawatirjan keselamatan penumpang pun banyak kita jumpai. Menurut catatan Railway kecelakaan KA sepanjang tahun 1990 hingga 2003 telah merenggut 2771 jiwa. Angka ini tentu saja membengkakdalam kurun waktu 4 tahun kemudian, mengingat banyaknya kecelakaan KA seperti yang diakibatkan karena tanah longsor.

Hal yang membahayakan lainnya adalah kenyataan bahwa rel, bantalan rel hingga sinyal adalah warisan penjajahan Belanda (Kompas, 11 Desember 2004). Import KA bekas Jepang 20 tahunan yang suku cadangnya tidak diproduksi lagi pun menjadi hal yang memprihatinkan. Kegiatan import ini tentu saja mematikan produktivitas PT INKA Madiun akibat pola pikir jangka pendek kita.

Jika pengelolaannya jujur dan transparan, sebenarnya banyak jalan, cara, dan dana bagi pemerintah untuk membenahi perkeretaapian Indonesia.

Peningkatan jumlah penummpang KA tentu saja menyebabkan peningkatan jumlah pendapatan perusahaan bersangkutan. Tapi kenapa kita tidak bisa memproduksi kereta api sediri dan mengimpor kereta bekas dari luar? Di Indonesia terdapat pabrik Baja Krakatau Steel tapi kenapa kejadian ini masih saja terulang? Seharusnya kegiatan ini dihentikan agar tidak mengorbankan jiwa para penumpang.

Pengelolaan KA harus dibenahi, sarana juga harus di perbaiki. Semua sebenarnya tidak susah untuk terwujud jika ada suatu kecerdasan, kekuatan niat, dan keberanian pihak pemerintah untuk melakukan suatu perubahan.


Tanggapan saya mengenai Kereta Api di Indonesia
Melihat dari beberapa bacaan di Internet dan koran, saya pun memiliki pandangan dan pendapat untuk perkereta apian di Indonesia.

Saya asli Solo dan belajar di Bandung. Setiap akan berangkat dari Solo, saya menaiki kereta api Lodaya dari Stasium Solo Balapan yang berangkat pukul setengah sembilan malam. Tiket seharga Rp110.000,00 harga ini naik dari Rp100.000,00 sebelum lebaran 2010. Saat berangkat selalu tepat waktu, namun waktu sampai di Stasiun Hall Bandung selalu tidak tepat waktu. Selalu saja terlambat entah setengah sampai satu jam. Agar tidak memberi harapan palsu, hendaknya di tiket ditulis saja jamnya lebih. Dengan begitu penumpang tidak akan merasa resah kenapa pada jam yang ditentukan belum juga sampai.

Saya menyayangkan, sekitar pukul satu malam kereta api selalu saja ngetem di stasiun tertentu selama kurang lebih satu jam. Entah tujuannya apa. Dan selama itu pun banyak pedagang yang bersliweran serta berteriak mejajakan dagangannya, padahal itu pukul satu malam dimana banyak orang yang terlelap tidur.

Saat saya naik kereta dari Solo ke Jogja, saya menaiki kereta Pramex dengan tiket Rp7.500,00. Pramex terakhir yang saya naiki adalah kereta baru yang susunan duduknya seperti didalam bus transJakarta. Cukup nyaman dan bersih. Perjalanan Solo-Jogja memakan waktu dua jam. Walaupun titelnya kereta bisnis, ada juga yang tidak kebagian tempat duduk. Harus berdiri, bahkan pernah saat liburan saya menaiki kereta Pramex sampai duduk di lantai saja tidak bisa saking penuhnya. Saat itu, lucunya tidak ada pengecekan tiket seperti saat saya naik kereta yang lainnya. Petugas hanya mengatakan, “Mana tiketnya?” penumpang lalu mengacungkan tiket. Petugas berkata lagi, “Pada bawa semuanya kan? Yasudah,” lalu pergi. Ibu dan Bapak saya hanya berkata pelan, “Nah, kalau ada yang ndak bawa tiket bagaimana?”

Saat naik kereta dari Solo ke Semarang, saya menaiki kereta ekonomi dengan harga Rp13.500,00. Sudah terbayang menaiki kereta ekonomi dengan rentang waktu 3 jam pasti akan bejubel. Ternyata benar. Lagi-lagi kereta bejubel dengan penumpang tak hanya manusia. Ada ayam juga ikut merasakan panasnya udara kereta ekonomi. Lucunya lagi, si kereta berhenti bukan hanya di stasiun, tapi juga berhenti di tempat sepi tertentu untuk menarik penumpang. Si kereta ngetem.
“Buk, kenapa keretanya berhenti?”
“Lah, biasa itu. Kereta ekonomi memang seperti itu,”
Waduh. Menarik penumpang tanpa tiket dan tidak di stasiun. Kok rasanya aneh ya? Kereta kan beda dengan bus yang bisa menarik penumpang dari terminal maupun jalan?

Saya jadi agak ngeri saat membayangkan saat musim mudik lebaran. Teman saya yang berumah di Jombang dan Blitar, mereka menaiki kereta ekonomi entah Pasundan maupun Kahuripan. Di ceritanya mereka masih mendapat tempat duduk namun banyak sekali yang tidak mendapat tempat duduk. Mereka berangkat setelah sahur langsung ke Stasiun untuk membeli tiket. Tiket ekonomi dibeli pada hari H nya.

Selain tempat yang kurang nyaman, bisa saya bilang kereta ekonomi itu rawan pencopetan. Banyak teman saya yang hampir menjadi korban pencopetan. Bapak saya melarang saya naik kereta ekonomi saat pulang ke Solo karena keamanannya diragukan. Jangan sekali-kali naik kereta ekonomi sendiri tanpa teman, walau saya pulang dengan teman pun, bapak tetap tidak akan mengizinkan saya naik kereta ekonomi.

Mengenai komentar-komentar tentang WC yang tidak nyaman tersebut saya belum pernah membuktikan karena memang saya tidak pernah menilik keberadaan kamar mandi di dalam kereta. Bisa dibilang saat saya menaiki kereta Lodaya yang pintunya dekat WC, sudah tercium aroma mencurigakan. Saya lebih nyaman untuk pergi ke WC stasiun yang lumayan bersih walaupun harus membayar seribu rupiah setiap kali masuk.

Begitulah komentar saya tentang perkeretaapian di Indonesia. Seharusnya pemerintah juga menanggapi pelayanan kereta ekonomi yang morat-marit seperti itu. Saya juga setuju dari pernyataan di artikel di atas tentang penghentian impor kereta bekas dari luar negeri. Kenapa Indonesia tidak berusaha membuat sendiri tanpa harus menjadi tong sampah kereta impor yang kondisinya meragukan?

Mari kita sama-sama mengubah persepsi bahwa Indonesia bukan negara yang memiliki kemampuan baik. Indonesia juga bisa. Indonesia juga dapat melakukan sesuatu yang baik seperti negara maju lainnya. Indonesia hanya kekurangan percauya diri, percaya bahwa Indonesia juga bisa.


Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014