Senin, 28 Oktober 2013

HALO JEKARDAH!! –PART 1 (Bagaimana Cara ke Jakarta dari Bandung)

Senin, 28 Oktober 2013

Halo halo!!! Bagaimana kabarnya?? Baik? Sehat? Semoga selalu dalam kondisi yang menyenangkan yaa aamiin :D. BTW, udah lama saya ga memposting sesuatu yang fresh #plaak hehe. Maksudnya disini, saya kemarin-kemarin lagi sedikit suka nyastra nih uhuk :3 dan sekarang mau balik lagi ke dunia nyata: kembali lagi.

Baiklah, minggu kemarin saya UTS, jadi ga posting yang aneh-aneh *padahal postingan sebelumnya saya post pas UTS lho hoho* jadi saya sekarang memutuskan untuk posting curcol kyaa #lemparsendal

Minggu, 27 Oktober 2013 ada satu acara di Jakarta, namanya Japan Education Fair yang diselenggarakan oleh JASSO. Apa itu JASSO? JASSO adalah Japan S* S* Organization :3. Education Fair ini diselenggarakan dua kali lho, yaitu di Surabaya tanggal 26 nya, dan di Jakarta tanggal 27 nya. Beberapa hari sebelum ke festival ini, saya berfikir panjang. Kenapa harus di Jakarta?? Saya baru ke Jakarta satu kali pas study tour SMA, belum pernah kesana lagi ._. harus naik apa? Gimana nanti nasib saya disana? *abaikan

Oke, akhirnya tetap ke sana juga, bersama kakak Ayik yang ternyata mau ke event JASSO juga. Kyaaa akhirnya ada teman kyaa ke Jakarta kyaaa naik busway kyaaaa *sebenarnya transjakarta sih, busway itu jalurnya -_-

Baiklah, saya disini mau berceloteh tentang dua hal: perjalanan kami, dan acara itu sendiri. Yak oke, saya mau cerita yang pertama yaa~~

Karena kakak anak UNPAD Jatinangor, jadinya kami berangkat dari Jatinangor hehe. Oh iya, lokasi event JASSO itu di Jakarta Convention Center di Senayan (jalan Gatot Subroto). Kami berdua SUPERDUPERBUTA Jakarta. Untung sih ada google, jadi kita donlot gambar jalur busway transjakarta dan mengira-ira bakalan naik yang jalur mana. Lihat jalur kayak gitu aja udah bingung apalagi nanti lihat jalur shinkansen yak?? *menghayaldanmenerawang

Baiklah, jadi kita harus bagaimana untuk mencapai Jakarta??? Itu, tahap pertama sudah saya kasih tau. Katakan peta! Dan begitulah #plaak. Oke, saya akan sedikit lebih serius. Jadi setengah tujuh pagi kami –aku dan kakak pergi ke pertigaan Cileunyi dan nunggu bis PrimaJasa (bisa pake Tasik-Jakarta atau Garut-Jakarta). Pilihan jatuh ke bus ini karena lebih murah. Mau tahu harganya berapa? Buat satu kali jalan Cileunyi – Jakarta, kita cukup bayar 30ribu. Bandingin sama kereta yang 45 ribu (seat terbatas) dan travel yang nyampe 75ribu. Oh iya, bus ini tipenya AC Ekonomi. Pake AC tapi seatnya agak sempit. Ga apalah ya, saya kan kurus (ini bohong kok, tapi beneran ga masalah. Ukuran seat nya masih normal). Di bus ada pembatasnya, yang bagian belakang adalah smoking area. Ga terlalu ganggu menurut saya. Tapi masi rada bau rokok ._.

Setelah naik bus kira-kira dua jam, sampai lah kami pada pangkalah PrimaJasa. Letaknya di dekat PGC atau Pusat Grosir Cililitan. Yak lanjut ke step dua: naik transjakarta yeay!!!

Naik transjakarta cukup dengan 3500 rupiah sekali jalan. Saya kira kalo ganti halte harus bayar (misal harus nyambung) ternyata tidak, saudara-saudara!!! Halte yang kami pilih adalah yang berada di hampir depan pangkalan, yaitu halte BKN. Di setiap halte ada peta jalur kok, jadi kalo bingung mau naik apa tinggal lihat peta :D. Dari apa yang kami lihat, kalau mau ke JCC senayan cuma butuh sekali naik busway koridor 9, tapi ternyata hari ini ada tantangan khusus. Apa itu? Jeng jeng jeng ~~~

”Wah ke Senayan tutup,” mbak-mbak yang menjaga loket melumpuhkan kebahagiaan hari ini.
Hah? Tutup?
”Itu ada pengumumannya,” lalu mbak-mbak tersebut menunjuk ke arah kertas ukuran A4 di samping loket. Bah! Beberapa jalur ditutup karena ada jakarta marathon. Kyaaaa lupa kyaaaaa terus kami harus gimanaaaa

Dan akhirnya saya dan kakak memutuskan untuk putar-putar dulu, jari jalur lain. Pilihan kami jatuh pada jalur Matraman, terus pindah ke Dukuh Atas 1 lalu jalan ke Dukuh Atas 2 dan baru menuju ke bendungan hilir, jalan ke semanggi terus nyampe ke JCC senayan.

Sekitar pukul setengah sebelas, uda nyampe tuh di Dukuh Atas. Dan ternyata akses jalan ke Dukuh Atas 2 masih ditutup. Prediksi sampe jam 11 doang jadinya kami keluar shelter dan jalan ke D.A 2 lewat luar. Beneran sepi karena gate jalan belum dibuka. So, kita makan dulu dipinggir jalan #bawabekal #hemat habis itu lanjut ke DA2. eh ternyata eh ternyata, halte dibuka jam 12!!!!!! Aaaaarrrrgggghhhh oke, akses ke Senayan ditutup pake banget, dan sebagai amatiran kami ga mau ambil resiko. Akhirnya ngalah, nunggu sampe jam 12. jam 12, uda pada ngantri di loket nih, tapi kebahagian lagi-lagi bobrok karena dijelaskan bahwa bus yang lewat halte ini belum keluar kandang. Mau teriaaaakkkk *mana sakit perut lagi huhu*. Karena ga sanggup lagi nunggu satu jam, akhirnya putusin pindah halte. Oke, benar-benar pindah halte.

Kita jalan lagi ke DA1, beli tiket lagi deeh :””” padahal kalo tadi ga keluar halte ga usah bayar lagi ya haha. Oke lupakan kisah sedih ini. Jadi dari halte DA1, naik transjakarta yang berhenti sampai kuningan timur. Dari kuningan timur jalan dulu ke halte kuningan barat, setelah itu naik sekali yang ke Senayan. Kyaaaaa kita nyampe di JCC senayan yang letaknya persis samping tangga turun halte jam satu seperempat :”””””) untung gerak cepat yaa kalo nunggu di DA2 mungkin sampe jam dua belum juga nyampe huhu.

Masuk ke JCC nyaa~~ rame banget lho! Karena lagi ada acara gitu sama rokok Dj*rum, terus ada acara wisudaan juga dan ada acara anak-anak juga. Gedungnya besar sekaliiiii *harap maklum saya anak desa*.

Sebelum masuk ke pameran, saya dan kakak solat dulu. Letak musholla nya itu di ujung barat-utara. Bagian paling barat, terus jalan ke kanaaaan sampe mentok. Itu ada musholla di situ. Kami solat dulu :D

Okeee~~ ini akhir dari part 1 yaa biar ga kepanjangan :3. acara JASSO nya di part 2 hehe

Btw ini adalah metode yang harus digunakan untuk ke JCC Senayan dari Cileunyi:
Pertigaan Cileunyi -> Naik PrimaJasa ke Jakarta -> sampai di pemberhentian akhir -> ke halte terdekat (BKN) -> naik jalur 9 yang ke arah Senayan. Cukup satu kaliiii.

Kalo balik -> keluar JCC -> masuk ke halte (kalo sebelumnya kita dari kiri, sekarang naiknya dari halte sebelah kanan kita, yang jalannya lebih jauh pokoknya) -> naik yang bus gandeng -> sampai di BKN -> keluar halte menuju pangkalan PrimaJasa -> naik -> sampai deeeh!!!

Btw kalo yang dari Bandung, ke Cileunyi bisa diakses pake bus DAMRI. Kalo engga ya naik angkot caheum-cileunyi.

*rute diatas rute normal, kalo rute yang lain pas ada jalan diblokir, bisa muter-muter aja turun di halte apa gitu ganti-ganti bus itu juga bisa :D

Biaya perjalanan yang digunakan:
Kalo dari bandung:
Naik bis DAMRI -> 6 ribu x 2 = 12 ribu
Naik bis PrimaJasa -> 30 ribu x 2 = 60 ribu
Naik Busway -> 3.5 ribu x 2 = 7 ribu
Total = 79 ribu  *BISA KE JAKARTA MANAPUN LHOO* -> yang ada rute busway nya maksud ane


Baiklah titik ini adalah dimana postingan ini selesai. Semoga membantu yaa buat yang masih agak ragu atau ga tau gimana cara ke jakarta dari bandung dengan harga yang terjangkau. Bye bye :D

Kamis, 24 Oktober 2013

ambigu dalam sebuah deskripsi

Kamis, 24 Oktober 2013
“Aku ngerasa agak ambigu sama cerita yang kamu bikin, Ren,” Satu siang di musim ujian. Seseorang memintaku untuk berpendapat tentang apa yang ia buat. Sebuah cerita tentang cinta, tapi dia lebih suka menyebut ‘sayang’ daripada ‘cinta’.
“Oh ya? Ambigu bagaimana?” dia bertanya lagi, mencoba membaca pikiran saya. Mungkin.
“Aku ngerasa kalau.. sebenarnya cewek ini cuma kagum,” aku menyentuh layar handphone yang menampilkan sinopsis cerita. Ceritanya, temanku satu ini ‘menang’ lelang sinopsis novel dari satu penerbit dan dalam dua hari harus membuat cerpennya.
“…Dia suka? Bukan kagum? Aku ngerasanya dia itu cuma kagum, bukan suka. Dia hanya bingung dengan deskripsi suka dan kagum. Mungkin. Eh, itu cuma pendapatku lho ya,” aku melanjutkan.
“Oh, jadi, mungkin di cerpen yang akan dibuat harus ditulis apa yang mau dituju, biar ga ambigu.”
“Iya, kalo kamu mau dia suka, bilang suka. Kalau kagum, bilang kagum. Sampai yang aku baca sekarang ini aku masih ngerasa kalau ini hanya sekedar kagum,” aku mengeluarkan pendapat yang sedikit –entahlah sok tahu. Haha, tapi dia memang butuh brainstorming dan masukan –walau saran dari saya ga lebih dari sampah.

Baiklah, mendefinisikan sesuatu itu memang tidak mudah. Definisi itu kalau ditulis bisa bebas sebebas bebasnya, mungkin bisa sampai puluhan lembar. Coba definisikan sendiri, apa itu rasa suka? Apa itu kagum? Saya sendiri bingung.

”Menurutmu, apa yang membuat ini istimewa?” dan ini adalah salah satu pertanyaan yang bisa membuat saya terdiam lama.

Saya bukan tipe orang yang suka menilai dengan data: kuantitas atau kualitas. Saya adalah orang yang menilai semua dengan rasa *haha* ga tau. Kalau saya rasa itu istimewa, berarti itu istimewa. Kalau tidak, ya tidak. Titik. *terlihat saklek? Mungkin :D. Oke, dan sebenarnya saya sendiri tidak tahu apa yang membuat itu istimewa. Saya hanya merasa, itu istimewa. Begitu saja. Hey, bukankah tidak setiap hal butuh dideskripsikan?

Saya jadi ingat tentang satu kuliah (yang merupakan salah satu mata kuliah favorit saya di semester tujuh ini) yang pernah nyerempet tentang definisi. Di situ dosen berkata bahwa ”banyak sekali para ahli berlomba untuk membuat definisi, biar dikenal, biar dicatat dalam sejarah. Berlomba membuat definisi serumit mungkin, sepanjang mungkin, padahal nantinya semakin banyak yang membuat definisi, akan semakin hilang arti sesungguhnya instrumen tersebut,”

Dan jadi ingat lagi, salah satu tugas deskripsi puisi Sitor Situmorang, judulnya malam lebaran tapi puisinya hanya satu baris: bulan di atas kuburan. Singkat, padat, jelas, tapi pas di deskripsikan beeuuhhhh sampai dua halaman folio.

Hey, sebenarnya apa inti post ini? sebenarnya saya hanya ingin menegaskan bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu. Setiap orang punya cara mendefinisikan sesuatu, dan itu adalah keunikan tersendiri bagi orang tersebut. Maka ... yah... hargai saja pendapat orang lain. Hargai saja, kecuali kalau benar-benar menyimpang atau salah.


Sekian. Semoga tulisan ini tidak bermakna ambigu, ya :)

Selasa, 08 Oktober 2013

Apa Sekarang Kau Merasa Bahagia?

Selasa, 08 Oktober 2013
Dalam sebuah diskusi kecil, aku dan tiga jiwa lainnya membahas tentang kebahagiaan. Sebuah kata bermakna yang menimbulkan banyak tanya.

“Hal apa yang bisa membuatmu bahagia?”

Dan satu pertanyaan sederhana itu sukses membuatku bungkam. Klasik, tapi selalu saja merasa kesulitan bila ada yang mempertanyakan hal ini. Setiap dari kami diharuskan menjawab apa hal yang bisa membuat kami bahagia.

Hal apa ya? Apa yang bisa membuatku bahagia?

Satu dari kami menjawab bahwa dia akan bahagia kalau lulus tepat waktu. Satu lainnya menjawab bahwa dia akan bahagia bila dapat membahagiakan orang tuanya. Aku sendiri menjawab akan bahagia bila menjadi editor yang hebat.

Dari ketiga jawaban itu muncul berbagai renungan. Disebutkan bahwa kebahagiaan yang sejati itu adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah pudar seiring berkembangnya zaman. Dan katanya juga, bahagia itu seperti jatuh cinta. Ketika kau berbahagia dengan sesuatu, maka sesuatu itu memperlakukan apapun yang buruk kepadamu, kau akan tetap bahagia.

Menekuni profesi yang diinginkan juga bisa termasuk bahagia. Bahagia walau selalu dikejar deadline, bahagia walau masih sering dimarahi dan disuruh ini itu, bahagia karena kita melakukan hal yang dicintai.

Tapi disini, aku sendiri tidak sepenuhnya ingin menjadi editor.

Membohongi diri sendiri untuk mendapat makna bahagia.

Hey, kenapa hal ini menjadi agak kompleks? Bukankah bahagia itu sederhana? Ya. Aku menganggapnya sebagai hal yang sederhana. Saking sederhananya sampai-sampai tidak bisa mendeskripsikan hal tersebut. Bahagia adalah bahagia, tidak ada kata atau kalimat lain yang tepat menjelaskannya.

Dan hey, lalu apakah yang bisa membuatmu bahagia?

Apa, ya? Oh ya, mungkin hal yang bisa membuatku bahagia adalah menemukan hal yang bisa membuatku bahagia :)
アイサ の ノート © 2014