Kamis, 31 Maret 2011

Curcol

Kamis, 31 Maret 2011
Apa itu curcol? Curcol adalah Curhat colongan. hahaha. aku tahu dari Cholid. fuuaaahhhh... rasanya kangen bisa ngetik langsung di Blog, heu heu heu...

Ehm. dimulai ceritanya yaaakkk

Musim UTS telah tibaaaaa (siiiiinnngggggg)

Huaaaaa UTS dataaaaanggg!!!! 

Sekarang sudah mulai lagi belajar terus menerus. ga kerasa banget besok udah bulan April, dan besok saya UTS KPIP (Konsep Pengembangan Ilmu Pengetahuan) huaaaa!!!! sampai pertengahan Mei saya dan teman seperjuangan di ITB akan beramai-ramai pesta UTS, xixixi. Agenda padat (mode sok: ON), banyak acara, ikutan kepanitiaan, huahhahha.

Tetap sehat, tetap semangat, supaya kita bisa jalan-jalan lagi bersama saya, ^o^

Sudah, curcol sampai di sini >_<

Selasa, 29 Maret 2011

Keinginan yang (hahaha)

Selasa, 29 Maret 2011
Ada yang tahu rasanya jatuh dari GKU Barat lantai empat?
Ada yang tahu rasanya renang di Indonesia Tenggelam?
Ada yang tahu rasanya teriak di titik gaung ITB?
Ada yang tahu rasanya manjat pohon di dekat Aula Barat?
Ada yang tahu rasanya mecahin kaca di CC Barat?
Ada yang tahu rasanya ngilangin proxy cumi?
Ada yang tahu rasanya main bola di taman rumput ITB?
Ada yang tahu ngga? Ada ngga?

Soalnya aku mau tanya, Gimana rasanya itu semua?

Masalah!

Hoi masalah! Aku punya Allah yang mahaBESAR!!!!

Kayaknya kata-kata itu tuh sering banget aku denger, bahkan aku dapat empat sampai lima sms yang isinya sama. HOI MASALAH! AKU PUNYA ALLAH YANG MAHABESAR!!!
Kelihatannya klasik banget ya kata-kata itu. Bisa juga dibilang jayus. Jujur aja dulu aku agak ngga ngeh saat dapat SMS yang seperti itu (hhooiii apa yang terjadi denganmu?)

Tapi saat itu…
“Haduuuh deadline ini itu aku belum belajar buat UTS, belum lagi amanah yang berat, beli konsumsi seminar…”

Saat itu aku dapat amanah banyak karena ikut berbagai kepanitiaan. Kenmi dan pengkaryaan gamais. Nah, di Kenmi saya diamanahi jadi seksi konsumsi. Saat uda fix semua, ternyata ada yang salah pemesanan. Ada yang harus pesan prasmanan untuk pembicara. Prasmanan untuk lima orang. H-2 acara, padahal. Saya nyari-nyari katering ternyata pada ngga nyanggupi karena mendadak.
Di pengkaryaan, saya jadi divisi internal. Si kadiv akhwat mengamanahi saya untuk njalanin ‘misi’ tertentu, yaitu reward, dan diminta untuk menggantikan kadiv untuk rapat berikutnya karena ada halangan.
Masih lagi soal konsumsi kenmi. Belum pesan snack berat untuk 350 porsi karena lagi-lagi deadline nya terlalu mepet. Huhuhu.

Ya Allaaaaah aku punya masalah BESAR!!!!!
Aku lalu iseng menuliskan masalah itu di selembar kertas dengan spidol merah serta tulisan yang besar pula. Di bawahnya iseng aku nulis kata-kata ’HOI MASALAH! AKU PUNYA ALLAH YANG MAHABESAR!!!!’

Triiingg....

Tiba-tiba suatu keajaiban terjadi. Lewat malaikat yang menyusup di seorang teman bernama Uli.
”Rahma, ayo ngurus snack yang buat seminar, hari ini aja, takut ngga sempet,”
Masalah satu selesai.
”iya, bisa, katering prasmanan lima orang,” sebuah SMS masuk. Konfirmasi dari satu katering.
Masalah dua selesai.
”Buat divisi internal, di SMS saja kadivnya, buat minta progress nya,”
Masalah tiga hampir selesai.

Plong
Tiba tiba suatu perasaan yang begitu nyaman menyusup. Masalah yang besar selesai. Kata-kata yang ajaib, benar benar ajaib. Allah memang mahaBESAR. Allahu akbar!

Dibalik Bidik Misi ternyata...

Selasa, 22 Maret 2011

Hari ini Hari Selasa. Terus???
Agak ‘wah’ karena saya agak syok dengan cerita seorang teman. Sebut saja dia AT.
“Rahma, aku mau ceritaa,” AT berkata setengah teriak saat kami bertemu di perjalanan masuk kelas.
“Iya, nanti ya, buru-buru mau praktek FiDas nih,” aku mendahului AT.
“OK,”

Pulang praktikum, saya ketemu AT di Salman.
”Huuy, katanya tadi mau cerita, kok kayaknya bahagia gitu, hehe,” aku menghampiri AT.
”Ngga jadi ah, ngga penting juga,” AT cengingisan.
”Hayu ah cerita, uda penasaran, juga,”
Akhirnya AT mulai bercerita karena saya terus mendesak.
”Tau ngga Ma, inget ngga, dulu aku kan pernah cerita tuh ngajuin berkas bidikmisi, tadi aku dipanggil ke LK,” AT berkata setengah berbisik.
”Buat apa?” aku masih belum mengerti jalan pikirnya.
”Bapaknya bilang,’kamu mau melengkapi berkas ini tidak?’, nah, saya ditawarin buat beasiswa bidik misi, Ma,”
”He? Jadi dulu itu kamu nyerahin berkas?”
”Iya, iseng aja. Terus bapaknya lagi bilang gini, ’kamu tahu kan gaji orang tua kamu berapa, kenapa nekat mendaftar bidik misi?”,”
”Bapaknya bilang gitu?”
”Iya, terus nanya juga ayahku kerja di perusahaan mana,”
”Lha kamu jawab apa?”
”Saya sih bilang gini,’jujur ya pak, saya berani ngajuin berkas ini juga karena melihat realita yang terjadi, banyak teman saya yang sebenarnya sangat mampu malah dapat bidikmisi, sedangkan teman saya yang kurang malah tidak dapat beasiswa ini’,”
”...terus si bapaknya ngangguk-angguk. Saya ngelanjutin,’pak, kenapa bisa seperti itu? Sebenarnya syarat apa yang bisa membuat mereka yang mampu itu bisa dapat beasiswa bidikmisi?’. Si bapak njawab,’jujur memang ini ada kesalahan sebenarnya. Data yang awal itu sebenarnya tidak diproses secara teliti. Kami dulu dapat desakan dari atas untuk segera mengirimkan data anak yang mendapat bidikmisi, jadi karena deadline, semua itu belum diproses secara lanjut’,”
”...’lalu bagaimana itu yang kaya pak? Kan mereka merampas yang bukan haknya?’. Si bapak njelasin lagi. ’kemarin memang sudah ditelusuri, memang ada pejabat yang anaknya bisa dapat bidik misi. Dalam waktu dekat ini LK akan memfilter data anak bidikmisi. Kemungkinan besar, yang sebenarnya tidak berhak, akan dicabut beasiswanya, bisa juga diminta kembali biaya kuliah yang telah dibayarkan dengan dana bidikmisi’,”
”...terus bapaknya bilang, ’kamu salah kan?’ aku ngangguk. Aku tahu kesalahanku itu ya ngajuin bidikmisi padahal sebenarnya keluargaku masih mampu. Terus bapaknya bilang lagi ,’saya juga salah, membiarkan sembarang orang dapat dana bidikmisi’,”

Aku melongo. Deg-degan, kaget bercampur penasaran. Ada apa sebenarnya dibalik bidik misi ini? Ini tahun pertama mahasiswa dapat bidikmisi, tapi pengolaannya sudah kacau begini. Bagaimana seterusnya???


Wahai orang beriman, tak sepatutnya seorang saudara mengambil hak saudaranya tanpa seizin darinya . Hoi hoi hoi!!!! Lo lo anak-anak borjuis, jangan cuma pengen kuliah gratis dengan biaya ga halal ya, itu hak sodara-sodara lo yang lain. Jangan diambil dong sobs! Begitu juga ortu, pak eRTe, pak Lurah yang bantuin bikin surat keterangan tidak mampu yang sesungguhnya itu palsu. Penipuan sekarang sudah merajalela ni. Hoooi apa kata duniaaaa?????


Dari cerita asli, dengan perubahan tata bahasa.

Praktek oh Praktek T.T

Selasa, 15 Maret 2011
Hari ini seperti biasa, ada praktikum. Sekarang minggu giliran praktikum kimia.
“Atia gimana praktikumnya?” Aku bertanya ke Atia, teman satu kosan. Anak FMIPA itu praktikum setiap hari Senin. Anak FTSL hari Selasa.
”Tadi praktikumnya asik banget, titrasi gitu, terus ngga ada tes akhir,” Atia menceritakan sebuah kabar gembira.
”Huaaa... oke deh, semangat!”

Itu cerita tadi malam. Hari ini praktikum kimia. Dan faktanya adalah: samasekali tidak menyenangkan.

Pertama, karena sampul jurnal.
Mulai semester dua ini kelompok praktikum kimia berganti anggota. Setiap kelompok itu sampul jurnal harus sama tapi beda sama kelompok yang lain. Karena misskom, kutau punya kelompokku warnanya sama, sampai bawa buat temen juga, eh, ternyata diganti warna. Teman yang sudah datang kertas warnya nya habis, dan walhasil saya menumpuk jurnal tanpa sampul TT.

Kedua, karena praktikum.
Siapa bilang titrasi itu nyenengin? Saya.
Siapa bilang titrasi itu nyebelin? Saya.

Kedua-duanya benar.
Baru pertama kali ini praktikum kimia, kami pake alat sesndiri-sendiri dan nilainya langsung dari pimprak (pemimpin praktikum). Tapi resiko buat ngerusakin barang juga lebih gede, tapi untungnya saya belum pernah ngerusakin barang.

Kali ini kami pake alat yang lumayan banyak, ada pipet volum, labu elenmenyer, buret, sampai gelas kimia. Keinget tentang buret, kata kakak matematika, temennya pernah mecahin dan beli seharga seratus enampuluh ribu rupiah, astaghfirullah, uang makan saya sepuluh hari, T.T

Praktikum ini ada dua tahap, dan saya kewalahan saat tahap kedua. Menitrasi HCL dengan NaOH. Nah, harusnya volume NaOH yang dipake sekitar 22mL lah, lah, masa kedua-duanya (setiap tahap dilaksanakan 2 titrasi) saya dapet antara 17-18 mL? Siapa yang ga sebel juga? Apalagi yang satunya terlalu pekat warnanya, gara-gara ngobrol (hehe, ini salah saya).

Liat jam, waktu praktek tinggal satu jam lagi. Saya ngulang tahap ke dua. Perhatiin langkah kerjanya ya...
a. mengambil 25mL HCl dengan pipet volum (susah T.T)
b. memasukkan HCL ke labu pengenceran, terus nambahin aqua dm ke sana sampai batas air (sampai volume campuran 100mL), terus dikocok.
c. Mengambil 25mL HCl tadi dengan pipet volum, terus dikasi ke labu elenmenyer, terus ditetesin indikator phenophtalen 4 tetes.
d. Dititrasi, netes-netesin dari buret, jangan sampai pandangan teralihkan, waspada saat volume sudah 20mL, jangan alihkan pandangan
e. Ulangi proses di atas sekali lagi

Gimana? Sebenernya nyenengin, tapi gara-gara salah bikin larutan HCl yang dimasukin ke labu pengenceran (terlalu pekat), jadi bet mut dan males nitrasi lagi. Aku selesai baru seperempat jam sebelum waktu habis, dan cuma aku yang belum selesai di kelompok, huhuhu.

Ketiga karena tanda tangan
”Pak, saya belum tanda tangan,” itu kalimat saya dua minggu lalu. Si bapak uda pergi, ya udah saya cuekin ajah. Tanda tangan buat bon peminjaman maksudnya.

”Saya belum tanda tangan gimana?” ini pertanyaan hari ini.
”Loh, biasanya kalau praktikum, kalo ada yang belum tanda tangan, bapak petugasnya manggil suruh tanda tangan,” si temen bilang.

Dan... sampailah tragedi itu...
Petugas lab kimia datang menghampiriku, memeriksa bon peminjaman seperti biasa.
”Pak, kemarin saya lupa tanda tangan bon peminjaman,” alesan aja, padahal kemarin mau tanda tangan bapaknya uda keburu pergi.
”Kenapa bisa lupa sih? Ini konsekuensinya berat, tau ngga?” si bapak membuat pernyataan yang membuat saya terkejut. ”Ya jangan di lupa-lupain begitu, dong, bagaimana sih?”
Astaghfirullah. Saya tanya baik-baik dijawab begitu, siapa yang ga ngerasa tertekan coba?
Aku hanya tertunduk.
”Mau cepet urusannya selesai ngga?” si bapak berbicara tanpa menoleh.
”Iya pak,”
Lalu si bapak menghampiri saya dan berkata,
”Ini sebenarnya urusan bisa panjang, dan bisa aja kamu harus ngganti semua alat minggu kemarin,”
Deg
”....kalau begitu, besok bawa ini saja, pipet sepuluh biji, pipet disini udah pada rusak nih” si bapak memperlihatkan pipet yang ada di meja praktikum.
Deg
Aku mengangguk pasrah.

Ya Allah, salah sepele jadi kaya gini...

Keluar dari lab langsung lesu. Ga mau ngapa-ngapain nginget bapak-bapak lab kimia sensi tadi.
“Emang bapak-bapak yang mana?“ si temen nanyaiin pas saya curhat.
“Yang begini..“ saya menyebutkan ciri-cirinya.
“O... kalo itu mah memang bapaknya sensi banget, nyebelin,“
“Orang aku dulu ya, kalau belum tanda tangan di bon aja dipanggil buat tanda tangan dulu,“

Yasudahlah...
“Sudah, dibuat pembelajaran saja, kali lain tanda tangan,“ temen ngasi masukan. ”..emang suruh ngapa, Ma?”
“Suruh beli pipet sepuluh biji, cuma karetnya aja sih, tapi masih sebel sama sikap bapaknya yang ga ramah,“
“Waa... itu kesempatan tuh, buat kamu suruh ganti-ganti peralatan yang rusak,“

Entah iya atau tidak ada peraturan seperti itu, ngganti atau tidak peralatan, tolong dong bantu praktikan yang lupa buat tanda tangan bon peminjaman, dan tolong juga bapak penjaga lab kimia *yang itu tuh* bisa bersikap lebih ramah. Oke. Sekian curhatan untuk hari ini. Sampai jumpa di lain waktu, dan... selamat praktikum kimia!

Apa Hubungan antara Ngerajut dan Pengamen GelapNyawang?

Jum’at, 25 Februari 2011

Hari ini setelah kuliah, tutorial GFTSL, terus mentoring elQi, liat rumah kontrakan, males pulang, jadi ngetem di Salman dulu sama Isna dan Atia. Ga taunya ketemu sama Una dan Cytta. Waktunya sekitar pukul setengah lima. Habis solat, ngobeol-ngobrol di kortim.
“Aku males pulang,” si Isna curhat. Aku dan Atia ngangguk-angguk tanda setuju.
“Ayo belajar wae,”
“Belajar apa nih?”
“Terserah,”

Si Atia sama Isna ngeluarin buku Purcell tebal, sedangkan saya ngga bawa buku apapun. Jadinya ngeliatin bukunya Atia dan Isna secara bergantian. Si Isna buka bab limit, Atia bab deret. Aku di tengah tengah. Karena bingung plus frustasi, aku ngeluarin benarng rajutan dan mulai merajut. Eh, si Isna dan Atia malah berhenti belajar dan ngikutin saya, xixixi. Dasar setan.

“Rahmaaaaaa ajariiiiinnnn,” si Isna minta diajarin ngerajut. Ini minggu kedua aku belajar ngerajut. Gara-gara ada tugas dari elQi, jadilah saya diajarin ngerajut, hehehe.
Akhirnya saya ngajarin ngerajut si Isna. Si Atia asyik sama kerajinan yang pake benang yang lebih kecil. Saya ngga tau apa namanya.

”Ikatan pertama gini...” ngajarin pembukanya buat ngerajut. Butuh 5 kali..
”Ikatan seterusnya begini,” butuh 10 kali ajaran.
”Isna dari tadi ga ada progressnya,” si Atia ngece. Isna cemberut.
“Aku kan baru pertama kali nyoba,”

Alhamdulillah, akhirnya Isna bisa juga. Sampai deret ke dua...
“Rahmaaaaa..... lepaaasss ikatannyaaaa...” wooo bocaaahhh.....
Saya dengan sabar membetulkan benangnya. Lepas cuma dua iket.
Lima menit kemudian...
“Rahmaaaaa lepas lagiiiiii”
Saya masih sabar. Kali ini tiga ikatan.
Beberapa menit kemudian...
”Lepaaaasss.... aduh, maaf Rahma, ngrepoti....”
Krikkk kriiikkk kriiikkk.... kali ini lepas beberapa.
Beberapa saat kemudiaaannnn...
”Rahmaaaa.... huhuhuhuhuuuuu,”
Kkrrriiiiiiiiiiiiiiiikkkkk.... satu deret lepas semua.
”Hooooiiiiii I’m fed up with youuu,” aku akhirnya murka juga.
”Maaap... aduhhh..” Isna minta maaf. Kasihan juga, akhirnya saya betulkan. Tapi, beberapa saat kemudian, lepas lagi.
”Licin ma, sumpitnyaaa,”

Alesan tuh..

Alhamdulillah, setelah itu tak lepas lagi. Hehehe.

Hm... ga kerasa magrib pun datang. Jengj jeng jeng jengggg....

Habis magriban di Salman, kami ber empat, Una ngga ikut, cari makan malam. Nah, kali ini di gelap nyawang. Rencanannya sih maem nasi bakar, tapi tutup, T.T, akhirnya di kedai dekat yang jual Ayam bakar keju-keju yang uenak itu.

”Mau pesen apa niiii,” Isna ngeliat-liat daftar menu. Harganya paling murah enam ribu. Paling mahal 14 rebu. Bebek kremes.
Setelah menimbang-nimbang lamanya sampai yang jualan celingak-celinguk ngeliatin dan pasti berguman, ’nulis apaan yah? Dari tadi ngobrol terus’, akhirnya kami berempat sepakat pesen pecel lele kremes.

Si bapak hedon pisan ketika melihat kami selesai menulis pesanan. ’akhirnyaaa’
Tapi tiba-tiba setelah itu, ”Wah, lelenya habiss,”

Gubrak!!!
Akhirnya kami berempat pesen beda-beda kecuali saya sama Atia sama.

Habis makanan datang. Biasa, banyak pengamen yang datang. Mulai dari pake amplop sampai bekas teh kotak. Nah, ini dia...
”kumpulin uang gopek, nanti banyak yang datang,” si Isna ngasi saran. Kami nyedain uang gopek-gopek.
”Haduh, pernah ya, pas kumpul taplok, ada bencong, astagfirullah,” si Cytta histeris. Alhamdulillah saya belum pernah berhadapan langsung sama banci pas makan di Ganyang (gelap nyawang).
”Ya Allah,”
”Teman saya yang cowok di pegang, ya Allah, saya takut,” si Cytta kayaknya takut banget.

Tengah tengah makan, tiba-tiba si Cytta berseru keras, ”ASTAGHFIRULLAAAH,” dan langsung menunduk. Saya kira dia ngeliat sesuatu, ternyata...

”Dicolek bbaaaannnggg aaahhhh...” si mas-mas banci ada di belakang. Kriiikkk...
“Adududuudddhhhh... teteh jangan takut ih... saya mah udah jinaakkk,”
“Minta receh nya mbbaakkk... buat belii eehhh...” si mas-mas banci ngomong sambil ndesah-ndesah. Untung masih ada receh. Saya senyum dan ngasih receh ke mas tadi.
“Ini teeehhh,”
“Makassiiiihhhh,”

Dia pergi. Si Cytta masih paranoid.
“Kok ngga takut? Ya Allah, untung ada kamu, aku ga berani,” si Isna juga nih. Atia dari tadi diem. Saya ketawa-tawa. Baru aja diomongin, eh, si mas banci datang. Hadeehh..

”Sebenarnya kenapa ya kayak gitu?” si Isna sok menyelidiki.
”Kamu bawa ke salman, terus diwawancarai di sana. Ayo Is,” si Cytta ngasi ide yang....
“Apaan sih? Pasti ekonomi ya,”
”Iya, pas dulu taplokan itu, temen saya cewek daeri SBM juga ngewawancarai banci di pinggir jembatan. Emang biasanya masalah ekonomi, astaghfirullah,”
Kami berempat istigfar, terus ngelanjutin makan.

Haduh. Dari ngerajut sampai ketemu pengamen yang tiiiiiiiiiittttt *sensor*, apa hubungannya coba?

Hari yang melelahkan. Fuuhh.

RUN!

Kamis, 24 Februari 2011

Hari ini tes pertama lari. Oiyaa… kuliah ini ternyata ada Makul (mata kuliah) Olah raga sebanyak 2 sks di tahun pertama. Bravo ITB!!!

Sebelumnya sih teori empat pertemuan, terus praktek seterusnya. Enak sih enak olah raga, tapi tahukah anda jam berapa olahranganya???

Jeng jeng jeng jeng....

Jam dua siang!!!! :c huaaa nangis.

Sampai di Saraga (Sarana Olah Raga) deket sabuga, lihat lapangannya wusss.... panas cing...
“Apaan tuh... astagfirullah,” ngelihat debu yang beterbangan dari trek jadi ngga ngeh.
“Panas, huhuhu,”

Panas ga panas, tetap ada tes lari. Lari kali ini ga dipungut nilainya, tapi kalo bagus bisa dipertimbangkan nggantiin tes kebugaran dua dan tiga. SEMANGAT!!!

Tes pertama dimulai dengan baris. Pak Edi ngasi perintah dengan galak biar cewek bikin satu baris, cowok bikin satu baris di belakang cewek. Buat apa eehh? Pak Edi mah kalo galak bukan serius.

”Sekarang yang putri balik badan ya,” Pak Edi ngasi komando. wualllaaa....
”Yang di depan kalian adalah pasangan kalian saat olah raga ini,”
Di depanku ada si Aldi. Terus karena ada cewek satu yang nambah barisan di kanan, jadinya cowoknya geser. Sekarang di depanku ada Zachlul. Bagus bagus bagus. Aku bersyukur pasanganku dia \(^o^\). Huhuhu. Dia partner yang baik. Zachlul itu di kelas absenya satu di atasku. Dia anak minang, yang kalo praktek fisika satu kelompok sama aku. Seenggaknya dia pendiam, ga ngajak ngomong macem-macem, fuuhh..
“Ingat partner kalian baik-baik,” pak Edi mbagiin kain yang ada nomornya untuk penanda. Saya dapet nomor 30. “Partner ini buat ngitung lari kalian, jadi ga usah pakai stopwatch sendiri, konsentrasi saja,”

Yang kebagian lari duluan cewek dan cowok yang berpartner cowok. Kami diharuskan lari enam keliling dan dicatat waktunya.

Siang siang?? Lari lari?? Beeehhh...

“Siap yaaa,” pak Edi lalu meniup peluit dan kami mulai lari. Aku menyetel lagu di HP jadul ku keras keras pake earphone, biar semangat, ehhee..

Satu putaran.. okeee...
Dua putaran... hmmm
Tiga putaran.. Ya Allah, kuatkan aku. Kalau berhenti pasti ga mau lari lagi. Aku masih kuat.
Putaran ke empat...
Haduh... rusuk ku...

Semangat!!!


Ashita wo terasu yo sunshine
Doko made mo tsuzuku
Me no mae ni hirogaru, hikari no sakie
Mirai no sunshine kagayaku sunshine
I KNOW IT’S HARD just take a chance
Shinjite
Ashita mo hareru kara

Lagu Sushine-nya Monkey Majik ku putar. Oke, sunshine, haduh, panas cui, tapi semangat!!

Nyampe lari dekat anak-anak yang namatin pasangannya, tiba-tiba ada anak cowok yang teriak, “Rahma!! Pasanganmu manaaaaa????” sambil nunjuk nunjuk. Apaan hheee???
Cuma ngeliatin sekilas dan senyum. Ayo semangaaaatt…. Dua putaran lagiiii hiks.

Akhirnya enam putaran selesai juga, huuff.. waktu yang tercatat 18.57, huaa, padahal buat dapat A itu haksimal kita lari 16 menit buat cewek. Tak apalah, permulaan yang lumayan.

Kisah Study Tour SMP

SMP, pertengahan tahun kedua

Sebentar lagi, sekitar satu bulan lagi ada agenda wajib yang biasa dilakukan oleh semua murid kelas dua: Study Tour. Ada tiga pilihan, Jakarta, Bali, dan Malang. Pemilihan lokasi menggunakan angket, dan hasil voting terbanyak itulah yang akan kita tuju untuk pergi study tour. Aku sendiri memilih Bali, karena aku belum pernah ke sana.

”Kalian mau milih apa?” aku membuka forum antara aku, Afif, Ida, Faridh, Nanda, dan Maya.
”Bali,” si Faridh dan Maya sama.
“Kita milih Malang, ya Da? Aku rencana ngga ikut, males banget ntar malah daddy ngikutin sampe sana, kaya mbak Una dulu,” si Nanda malah curhat. Ida mengangguk.
“Aku juga nggak ikut, males banget ke Bali, Jakarta,” si Ida menambahkan.
“Ya... kok pada ngga ikut, tah?” Maya protes, tapi protesnya sia-sia. Kalau si Afif sih ndak usah ditanya, aku tahu apa jawabannya, pasti dia ngga akan ikut. Masalahnya apalagi kalau bukan biaya.
“Ya.. banyak yang ngga ikut, ngga asik nih,” aku menimpali.

Seminggu setelah itu, surat edaran dibagikan. Bali mendapat suara terbanyak, Jakarta nomor dua, dan yang terakhir Malang. Haiyahh..

Mereka yang tidak mengikuti study tour ini harus berwisata ke tempat lain, karena perjalanan kali ini mewajibkan murid kelas 2 membuat semacam makalah resmi atawa laporan perjalanan. Sekitar enam atau tujuh orang, atau bahkan lebih (lupa, maaf) dari kelasku yang tidak mengikuti study tour ini. Alasannya macam-macam, ada yang tepatan sama acara keluarga, sampai alasan kebohongan seperti Nanda dan Ida (hehehe). Yang alasannya paling beda itu si Afifah, dia menulis ”karena terhalang biaya”.

”Masa Afifiah nggak ikut, aku ntar duduk sama siapa?” Aku membuka forum dengan orang biasanya, tanpa Afifah. Dia sedang pergi ke kamar mandi.
”Iya eh, kasihan, ngga bisa ikut karena cuma masalah sepele kayak gitu,” si Nanda angkat bicara.
”Inget ceritanya buguru ngga, yang kakak kelas itu,” si Ida tiba-tiba mengagetkan.
Cerita ibu guru yang kemarin itu, ceritanya begini, ada juga kakak kelas yang ngga ikutan study tour karena kehalang biaya, terus temen-temennya nyumbang secara sukarela buat biaya keberangkatan temennya itu, so sweet...
”Kita bilang aja ke teman-teman,” si Nanda langsung cling.
Kami semua setuju dan koordinasi sama Herliena yang notabene suaranya kenceng dan dia selelu diperhatikan, ciri-ciri orang populer gitu. Pas itu, si Afifah udah masuk kelas, dan si Nanda tiba-tiba ngajak keluar lagi si Afifah, dan pas mereka berdua keluar, si Herliena ngomong di depan kelas. Si Nina lalu membuat draft untuk surat edaran khusus buat kelas 8B. edaran minta sumbangan.

Si Afifah baru tahu beberapa hari kemudian, dan dia berterimakasih sekali. Hahaha kadang-kadang emang punya sahabat itu perlu.

Teman-teman juga responnya cukup baik, tapi ada juga yang tega banget, udah ngga ngasih, masih comel juga. Dia cowok, masa ngomong gini, ”Heh, aku aja ngga ikut, masa harus nyumbang sih? Buat apa?” perasaan kata-katanya biasa aja, tapi dia ngomong di depan si Afifah, apa ngga sakit tuh? Kalo ngga mau nyumbang ya udah, ngga usah protes, dasar. Cowok kok ngga bisa ngontrol bicaranya.

Sampu, sampun.

Dan berkat sumbangan anak-anak kelas 8B, Afifah bisa duduk di bis buat study tour, dan satu kamar dengan saya, hohoho. Saya bahagia, Afifah juga bahagia...

Itu sekelumit kisah yang menurut saya mengharukan, hiks.. lebai.. :P
アイサ の ノート © 2014