Selasa, 23 Juni 2015

Throw Back

Selasa, 23 Juni 2015


Saya punya kebiasaan ketika sedang murung, yaitu membaca diary yang telah saya tulis bertahun-tahun yang lalu. Buat apa? Ya, buat ngeliat ke-alay-an saya dulu hahaha.

Tapi bohong ding.

Sejujurnya, tujuan saya membaca diary jaman jebot itu adalah untuk mencari pelajaran berharga.

Hah? Emangnya bisa?

Iya. Bisa. Pake banget. Karena saya orangnya ekspresif dalam tulisan, saya seringkali nulis hal-hal gak penting di diary haha. Juga kegagalan-kegagalan yang saya alami.

NAH! ITU DIA!

Karena saya menulis kegagalan yang pernah saya alami, saya kemudian menyadari sesuatu yang berharga, yaitu.... saya masih bisa survive sampai sekarang. Kegagalan yang saya alami, ternyata saya bisa melewatinya. Walau dengan terseok.

Dulu, seringkali saya curhat gak penting, nulis gak penting, pokoknya setiap hari harus nulis entah itu tentang nilai ulangan yang jeblok, atau ketemu gebetan di depan kantin *eh. Pokoknya harus nulis!! Dan kemudian, sekarang saya sadar, bahwa hidup bergelombang itu lebih mengasyikkan.

Kehidupan saya akhir-akhir ini datar-datar saja. Jadi enggak banyak yang dapat ditulis.

Ah, itu sih, gegara kenal blog, terus ng-alay di blog à ketauan senior à diejekin à malu à berhenti curhat di blog hahaha. Maafkan kealay an saya dahulu. Sudah tobat saya sekarang curhat gak jelas kayak bahasa diary. Ternyata emang diary Cuma pantes dibaca sendiri, buat ketawa-ketawa, dan malu-maluin.

Iya. Diary saya itu isinya malu-maluin banget.

Ah apa lah post ini, gak ada alurnya -__- acak bangeet -__-

Oke, saya kasih satu rahasia untuk kalian. Saya seringkali membaca diary lama saya, di bagian dengan tanggal yang sama di hari saya membaca. Di tahun yang berbeda. Istilah kerennya, throw back (eh bener gak ya? :hammer). Jadi, di tanggal yang sama, tujuh taun kemarin gueh ngapain yak? Galau, kah? Remidi bahasa inggris kah? HAHA.

Yaudah deh. Saya Cuma lagi pengen celoteh gak jelas :””D.

Yang pasti, tulis aja diary dari sekarang. Enggak apa-apa bahasa nya alay. Justru itu jadi hiburan di masa mendatang hahaha.

Aduh gaje, gak jelas. Maafkan, saya mulai ngerandom lagi :””)


Bai bai, sampai jumpa lagii ~~

Senin, 22 Juni 2015

SMILE

Senin, 22 Juni 2015
“Senyum mu itu lho, gak natural,” seseorang berkata pada saya, saat melihat foto-foto selepas suatu acara.
“Haha, iya gituh?” dan saya menanggapi, tertawa satir.

Senyum tidak bisa berbohong. Mana yang tulus, mana yang palsu.

“Kamu, kok kayaknya banyak pikiran ya?”
“Haha, begitulah,” lagi, saya tersenyum. paksa.
Dan kemudian, dia terus-terusan membaca mikroekspresi di wajah saya, sampai saya benar-benar kikuk.

Ah ya! Tebak saja. Saya memang pemurung, saya memang terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tak perlu, dan saya, iya, saya, merasakan bahagia yang palsu.

Dan saya tau itu. Sisi kecil dari diri saya sangat tau tentang hal itu. Tapi sang sisi dominan, tak mau tau.

Bahkan kamera, yang merupakan benda mati pun bisa membedakan mana senyum asli dan palsu. Wajah senyum saya tak pernah berhasil membuat sebuah kamera digital dengan smile sensor menjepret secara otomatis. Percaya atau tidak? Percayalah. Saya tidak berbohong.

Saya tidak tahu, kenapa saya susah sekali tersenyum dengan hati. Bukan hanya melengkungkan bibir ke arah atas saja, bukan hanya sebuah simbol, melainkan sebuah ekspresi dari dalam diri.

Bahkan, saya membuat sebuah sajak dengan tema tersenyum pun, malah jatuhnya ke melankolis-nangis-putus asa begini.

Boleh saya tulis lagi sajak nya? Baiklah, saya ingin tersenyum lagi... bukan karena terpaksa.

Ada satu hal yang pernah seseorang katakan kepadaku
Bila bersedih tersenyumlah
Bila bersedih tertawalah
Karena... itu kan hapus laramu
Dia juga berkata padaku
Senyum adalah senjata
Tertawa adalah obat bagi luka hatimu
            Jangan biarkan senyum hilang dari wajahmu, dari bibirmu
            Jangan biarkan kesedihan, hapus rona wajahmu
            Maka tersenyumlah, tertawalah

            Dan rasakan bahagia mengalir ke dalam jiwa
アイサ の ノート © 2014