Senin, 16 September 2013

(merasakan rasa) Percaya

Senin, 16 September 2013
Bayang-bayang. Aku tidak heran, banyak orang yang tertipu dan terpikat oleh hal ini. Dia bisa dilihat, tetapi tidak bisa disentuh ataupun dirasakan. Banyak orang terpikat oleh bayang-bayang, dimana dia hanya melihat indahnya, dan mengira bahwa apa yang ia lihat adalah hal yang sesungguhnya. Bayang-bayang seolah bersahabat dengan kita. Padahal bila saja kalian tahu, bayang-bayang bisa saja berupa fatamorgana.



Apa yang kau lihat itu tidaklah selalu benar. Memang benar, pertama melihatnya mungkin kau akan merasa bahwa ‘ini’lah yang terbaik. Tapi tahukah kalian? Derajat bayang-bayang itu sangat rendah. Dia tukang tipu. Tukang tipu yang tak akan bisa kau hapuskan. Berkali-kali kau mencoba membunuhnya, itu tidak akan berhasil. Bayang-bayang hanyalah benda mati, dan kau tidak bisa membunuh sesuatu yang memang tidak hidup.

Angin. Tak terlihat tetapi kau bisa merasakannya. Nyatanya, bila kau merasakan sesuatu, matamu pun tak akan mengganggu. Nyaman. Dan tak ada yang bisa merayumu lagi. Yang kau perlukan hanya satu: rasa percaya walau kau secara kasat mata tak dapat melihatnya.

Aku ingin kalian tidak mengenal apa itu bayang-bayang. Dari dulu, mungkin kalian hanya melihat wujud yang tidak sebenarnya. Kalian benar-benar telah tertipu. Aku hanya mengutarakan apa yang kuketahui. Berhati-hatilah dengan bayang-bayang. Mereka tidak akan berhenti mengganggumu bila kau sendiri tidak menyadari bahwa kau sedang tertipu. Aku ingin kalian mengenal angin. Kalian tahu, kan? Angin tak pernah berbohong. Saat dia benar-benar ada, dia akan memberimu sinyal agar kau tahu bahwa dia memang benar-benar ada. Kadang sinyalnya tidak terlalu besar, jadi kau bisa saja tak merasa.

Pilihlah sendiri bagaimana kalian merealisasikan rasa percaya. Angin, atau bayang-bayang? Apa kalian hanya akan melihat kebohongan demi kebohongan indah tetapi itu tak nyata, ataukah tanpa kata tetapi bisa terasa?


Rasa Percaya. Merasakan rasa percaya. Benar-benar hal yang abstrak. 

Minggu, 15 September 2013

Lari

Minggu, 15 September 2013


Apa kau akan berfikir dua kali sebelum melarikan diri?

Berkali-kali pertanyaan itu muncul di benakku. Lari, lari, lari. Seseorang pernah mengatakan, ”Apa yang akan kau dapatkan jika kau terus berlari? Hanya lelah saja, bukan?” dan itu membuatku mengiyakan pertanyaanku tadi. Aku akan berusaha untuk tidak lari

Nyatanya, teori dan praktik itu jauh berbeda. Di dalam angan kita sudah tertancapkan skenario yang luar biasa, bahwa aku pasti bisa dan tidak akan lagi berlari menghindari. Saat melihat realita, semuanya berbeda. Baiklah, aku gagal. Aku masih saja berlari dan berlari.

Hei, apa kau pernah mencoba untuk menoleh kebelakang? Sebentaaaar saja! Dan lihatlah apa yang terjadi. Apakah semuanya baik-baik saja kau tinggalkan di sana? Apa semuanya menjadi luar biasa saat kau tinggalkan? Apakah ada perubahan?

Pertanyaan demi pertanyaan muncul lagi. Ya, itu membuatku berfikir lagi. Aku harus tau, apa jadinya (mereka) tanpa aku. Apa semua akan baik-baik saja? Apa semua akan berubah menjadi lebih baik? Apa semua (masalah) terselesaikan dengan benar? Tidak. Nyatanya tidak.

Aku lari karena sebuah transformasi separuh hati. Aku harus melakukan sesuatu, bertemu seseorang yang tak dikehendaki. Semua harus terselesaikan, tapi aku rasa, aku tidak mampu dan aku tidak mau.

Ah ya, sebenarnya mereka adalah zona kerjaku, dan aku hampir berhasil keluar dari zona nyamanku. Tapi sekarang aku malah berlari, berlari menuju zona dimana aku bisa merasa aman nyaman tanpa beban. Tapi sesungguhnya aku tahu bahwa bila aku berhasil masuk, maka untuk keluar akan membutuhkan usaha yang sangat keras.

Melarikan diri hanya akan membawaku ke zona itu, zona berbahaya bertopeng surga. Aku tahu aku tidak mau ke sana, dan aku tahu aku harus berhenti berlari dan kembali. Aku tahu, aku tahu.

Tapi aku takut, takut untuk kembali. Takut menghadapi realita bahwa masalah di sana lebih rumit. Takut bahwa aku nanti tidak akan sanggup. Takut akan pikiran-pikiran yang terus meracuni otakku

Dan hei, jawab aku! Apa yang harus kulakukan? Apa aku masih harus berlari?

バンドン、日曜日 09月14日2013年

*Gambar diambil dari:

Senin, 09 September 2013

Perfect Melancholy

Senin, 09 September 2013
Apa kau pernah menyukai orang yang bahkan suaranya pun belum pernah kau dengar? Aku pernah. Cerita ini bisa saja disebut konyol, atau entah apa pun itu sebuatannya, tetapi tetap saja memiliki arti tersendiri untukku.

Hei, bukankah rasa suka itu bisa datang begitu saja? Kadang aku berfikir entah kenapa ini semua bisa terjadi. Berkali-kali aku mencoba untuk mengerti, aku tetap tidak bisa menemukan jawabannya.

Sering sekali aku ingin berbagi cerita yang sedikit aneh dan bersifat rahasia. Tetapi aku tidak tahu harus membaginya dengan siapa. Saat mencoba berbicara dengan seseorang, sepertinya ada sesuatu yang menghalangiku untuk bercerita. Maka dari itu, aku lebih memilih untuk diam dan memutuskan untuk tidak lagi membuka dunia. Biar aku saja yang bisa memasukinya.

Dan yah, sudah lama sekali aku ingin melakukan hal seperti ini. Hal yang bisa dibilang kekanak-kanakan, dan bisa juga disebut cengeng. Berbagi dunia. Aku ingin membagi duniaku dengan orang lain. Pada akhirnya, beberapa hari yang lalu aku membukanya. Aku membagi duniaku dengan seseorang.

Seseorang itu adalah sahabat lama. Kami berkenalan saat menduduki bangku SMA. Kami bisa dibilang tidak terlalu dekat. Aku juga dulu berkali-kali merasa sebal dengan beberapa kelakuannya yang masih kekanak-kanakan. Tapi entah kenapa setelah lulus, ikatan kami menguat. Aku merasakan itu. Aku nyaman berada di sampingnya, dan aku tidak merasa sungkan untuk meminta tolong kepadanya.

Dan kepadanya pula, aku membagi duniaku. Ini yang pertama kali, setelah kututup pintu selama lima tahun. Aku sudah berhenti bicara dengan orang lain sejak lulus SMP. Aku kehilangan kepribadian, dan aku tidak merasa nyaman. Tapi entah kenapa, dengan adanya dia sekarang, membuatku menemukan jati diriku sendiri. Walau sebentar.

Hey kak, kau orang pertama yang mendengar cerita-cerita konyolku malam itu. Dan itu pertama kalinya aku menangis saat bercerita dengan orang lain. Eh keduakalinya. Yang pertama aku ingat, aku pernah menangis di depan teman SMP saat naik sepeda. Hahaha, kekanak-kanakan sekali, bukan?

Ah, kenapa postingan ini jadi melantur seperti ini? Terus, apa hubungannya paragraf satu dua dan paragraf selanjutnya? Haha, paragraf satu dua itu adalah satu dari sekian banyak cerita yang ku bagi bersamanya.

eh, kenapa gambarnya dandelion? ya, sedang ingin saja haha. entah kenapa kalau sedang melankolis seperti ini, dandelion adalah bunga yang pas. setelah mekar, bisa terbang bebas di udara. berjuang untuk kembali mekar lagi. menurutku itu hal yang luar biasa. 

月曜日 09月09日2013年

アイサ の ノート © 2014