Sabtu, 25 September 2010

Runaway

Sabtu, 25 September 2010
Kata-kata yang kutulis ketika patah semangat:

Aku selalu berfikir bodoh
Aku selalu membuat diriku rusak
Aku selalu membiarkan diriku bagai bangkai yang berjalan
Aku layaknya seonggok sampah yang paling busuk.
Aku tak tau gambaran apa yang paling tepat untuk menggambarkan diriku.
Aku benci bila sesuatu telah terjadi
Aku benci perubahan yang semestinya tak kurasakan
Aku benci sesuatu yang merusak,
Aku………..benci…


Aku berfikir, masa SMA adalah masa terindahku. Memang, tapi masa itu juga termasuk masa paling hancur. Entah kenapa aku merasa tidak ada yang mengerti aku sepenuhnya. Aku selalu dipaksa untuk mengerti semuanya, tetapi semuanya selalu saja tak mengerti aku. Aku selalu memendam perasaan sendiri.

Aku bahkan tidak pernah bercerita tentang sesuatu yang mengganggu pikiranku.

Aku ingin cerita, tetapi waktu dan kesempatan tidak mengizinkan aku untuk berbuat seperti itu. Masa SMA, teman-teman selalu mengira aku adalah anak yang selalu bahagia dan tanpa masalah. Tapi mereka SALAH BESAR. Aku penuh dengan masalah, masalah, dan masalah.

Aku ingin berontak. Aku ingin dunia mengetahui keberadaanku. Aku ingin semua orang tahu, bahwa ada aku di dunia ini. Aku ingin lepas dari semua ini. Aku ingin semua ini berakhir. Aku ingin...

Sekedar cerita.

Dulu aku sering banget dimintai curhat dengan teman. Mulanya aku simpati, tapi kemudian aku mengutuknya diam-diam di dalam pikiran, karena dia tidak pernah memberiku kesempatan untuk mencurahkan apa yang ada di dalam otakku. Aku tahu dia dalam masalah besar. Dia selalu menganggap dirinya adalah satu-satunya orang yang mempunyai masalah di dunia ini. Akhirnya kesabaranku jebol juga. Aku tak kuat menanggung masalahku sendiri dan masalah orang lain sekalligus. Dalam satu pertemuan, aku terus terang padanya bahwa aku juga butuh tempat untuk menceritakan masalahku. Sambil menangis, aku mengakui kalau aku sering sebal kalau dia bercerita tentang semua keluh kesahnya di depanku tanpa tau apa yang kutanggung selama ini.

Dia meminta maaf dan bilang kenapa aku tidak cerita. Aku jawab kalau aku tak mau membebani pikirannya. Dan lagi aku tak terbiasa bercerita tentang masalahku pada orang lain. Sudahlah, ini bukan salahnya. Harusnya rasa toleransiku diperbesar.

Aku harus kembali tersenyum.

1 komentar:

  1. kenapa ya susah banget buat ikhlas dan menerima keadaan?? huffhh :c

    BalasHapus

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014