Jumat, 15 Agustus 2014

Di Kaki Gunung Geulis

Jumat, 15 Agustus 2014
Yap. di hari kedua menulis 30 hari saya mau posting tentang kuliah lapangan saya semester lalu. Akhir Desember tahun lalu, saya mengikuti sebuah kuliah lapangan yang bisa dibilang ga biasa. Beberapa kali saya posting di blog menyinggung soal matakuliah yang satu ini, biokonservasi. Tulisan Menemukan Indonesia part 1 dan part 2 juga buah dari ikut kuliah ini. Haha, satu mata kuliah berjuta cerita ini mah namanya.

Jadi, kuliah lapangan atau kulap ini adalah pengganti satu sks untuk praktikum. Iya, bebannya 3 sks tapi kita-kita Cuma kuliah 2 sks tiap minggu. Satu sks nya ya buat kulap ini, di akhir semester. Kulap biokonservasi masih sama dengan dua tahun yang lalu, yaitu ke kaki gunung geulis. Tau gak yang mana gunung geulis? Yang geulis itu tea, eeeaaa #plaaak. Gunung geulis itu terletak di Jatinangor-Sumedang, teman-teman. Dikelilingi oleh beberapa wilayah.

Jadi, kenapa kita kulap ke gunung geulis? Teu asik? Eh, asik tau! Jadi ini teh *loh jadi pake logat sunda* proyek dosen gitu, buat mengetahui perubahan gunung geulis dari tahun ke tahun. Inti dari kulap ini adalah mengobservasi lingkungan sekitar gunung geulis, baik itu vegetasi, hewan, dan lingkungan sosialnya.

Kenapa harus gunung geulis?

Karena deket dari Bandung #eh. FYI, gunung geulis itu adalah salah satu lahan konservasi pemerintah. dulunya banyak penebangan liar di gunung geulis untuk dijadikan lahan perkebunan. Padahal kan resiko longsor jadi gedhe banget. Akhirnya dijadikanlah itu gunung geulis sebagai daerah konservasi. Gunung geulis dulunya ‘botak’ dan gersang, jadi bisa dibilang gunung geulis ini ga geulis lagi. Tapi sekarang sudah lumayan membaik.

*yak karena file gambar ngga ada di saya, saya ngasih gambar dari internet saja hohoa*
gunung geulis sekarang, udah lumayan hijau tapi masih kebanyakan perdu.
sumber gambar : arieanam.wordpress.com

Satu kelas dibagi menjadi delapan kelompok. Seperti yang sudah disebutkan tadi bahwa gunung geulis dikelilingi beberapa wilayah, nah, tepatnya ada delapan wilayah.  Masing-masing kelompok ada empat orang, yang ditempatkan ke daerah yang berbeda. Kelompok saya ada Cia anak Kimia, Weta anak biologi, Tio anak TL,dan tentunya saya yang juga anak TL. Tiap kelompok dapet budget dari dosen *kyaaaaah asiknyaaaah* yang bisa digunakan sebijaksana mungkin *tapi kalo sisa dibalikin  yaah*. Di desa penempatan kami itu kami menginap di rumah warga dua hari satu malam. Saya dan kelompok kebagian di rumah pak lurah, di desa Jatiroke.

Hari pertama, Jumat, setelah shalat Jumat kami berkumpul di kampus jatinangor untuk pembekalan materi dan pembagian budget *eaaa. Hal hal yang perlu dilakukan nantinya apa aja, kita harus nginep dimana, dijelasin semua itu. Karena kelompok saya kelompok pertama, jadi dapat lokasi paling deket. Setiap kelompok diberi beberapa lembar kuesioner yang berisi pertanyaan menyangkut dengan konservasi gunung geulis, tentang manfaat dari adanya gunung geulis tersebut, juga tentang perubahannya. Tak lupa, kondisi social warga juga jadi pertanyaan utama.

Kelompok saya sampai pertama kali di lokasi. Yaiyalah paling deket -__-. Kami satu kelas carter angkot gitu buat ke lokasi. Turunnya giliran. Sampai di gerbang desa kami turun, Tio sang ketua kelompok menghubungi pak lurah yang sudah di informasikan tentang kuliah lapangan ini sebelumnya, buat menginformasikan kedatangan kelompok. Setelah itu, kita-kita mau nginep ke sana ehehe.  Ya begitulah, suasananya masih menyenangkan sekali. Super dingin, udaranya bersih, dan orang-orangnya ramah. Kami jadinya nginep di rumah mertua pak lurah yang letaknya….. di depan rumah pak lurah, kehalang musolla doang hoho. Mertua pak lurah seneng banget ada yang nginep malah~~ karena bisasanya kan sepi tetiba ada ceciwi yang cerewet ke sana. Trus parahnya ga ada yang bisa bahasa sunda ahahahah padahal Cia sama Weta itu orang Bandung. Abdi mah teu tiasa basa sunda. Ngarti sakedhik sih *loh. Jadi pas diajak cerita, kami kami hanya tersenyum, tersenyum karena ga bisa nanggepin ,_, ngerti ngerti dikitlah ya. Ini adalah salah satu peringatan, di bandung empat tahun ga menjamin kalian bisa bahasa sunda ._.

Karena tio cowok sendiri dan di rumah mertua pak lurah Cuma ada satu kamar kosong *tapi gedhe*, jadinya tio nginep di rumah pak lurah. Malemnya, Weta main ke rumah pak lurah nemenin tio yang kagok ngobrol sendirian. Jadi saya sama Cia yang nemenin ngobrol nini di rumah. Cerita banyak dan panjang lebar mulai dari usaha pak mertua yang dulunya ketua RW di sana untuk mengalirkan air dari gunung ke warga dengan pipa sampai pendidikan rata-rata masyarakat yang hanya tamat SMP atau SMA. Selepas itu mereka bekerja di pabrik tekstil yang ada di dekat gunung geulis, KahaTex.

Pagi harinya setelah dikasih sarapan enak dan hangat, kami berempat mulai dengan misi selanjutnya yaitu pergi ke gunung geulis untuk observasi vegetasi dan hewan. Dari bawah naik ke gunung sampai tiga perempat tinggi nya. Ga sampe atas karena medannya licin abis hujan kemarin. Saya aja berkali kali kepleset. Oke, saya naik gunung pake kets karena ga punya sandal gunung -____- makannya kepleseeeet. Gunung geulis udah lumayan hijau dari sisi yang kelompok kami observasi. Untuk tumbuhan kebanyakan masih perdu, dan serangga agak jarang. Kami naik gunung jam setengah tujuh pagi.

Turun dari gunung, kami nemuin warga sekitar yang ketemu di sana, wawancara dengan mereka tentnag beberapa poin yang sudah saya sebutkan diatas. Warga sekitar sudah tahu banyak tentang gunung geulis, bahwa gunung tersebut adalah lahan konservasi, ga boleh di tebang lagi pohonnya, dan memberi banyak manfaat seperti menghasilkan mata air. Warga juga tahu mana batas patok lahan konservasi dan yang bukan. Intinya, masyarakat sudah ‘melek’ lah masalah ini. Kami juga sempat mampir ke SD yang ada di gerbang masuk gunung geulis, terus ngobrol-ngobrol sama kepala sekolah di sana tentang keadaan gunung geulis dan masyarakat juga.
ini tempat saya sama Cia 'nemuin' bapak-bapak buat diwawancara
sumber gambar : gambar-rumah.com

Setelah pengamatan sosial, vegetasi, dan hewan selesai, kami kembali ke rumah pak lurah untuk ambil barang dan pamitan. Tapi sebelum itu kita disuguhin makanan lagi. Dan itu udah yang kesekian kalinya mulai dari awal kami datang ke sana siang kemarin. Perut penuh banget dikasih makanan enak enak ahaha. Setelah makan, kami pamitan. Sedih uhuhu. Padahal baru kenal sehari tapi rasanya udah deket banget sama nini. Soalnya emang udah ngobrol banyak sih *walau kebanyakan senyum senyum sama bilang iyaa iyaaa doang sih hoho. Setelah pamitan, kami nunggu ‘jemputan’ alias angkot carteran lagi. Kali ini kelompok kami yang terakhir naik. Sampe di kampus jatinangor kumpul bentar, kemudian pulang. Kulap biokonservasi telah berakhir :””””””) tinggal laporan yang menunggu mulai dari rekap kuesioner, analisis, dan sebagainya akhirnya selesai juga dalam waktu dua minggu.


Ah ya, saya masih bertanya-tanya, kenapa gunungnya namanya gunung geulis? Dan jawaban yang saya dapatkan dari kakak yang sudah menjadi warga Negara jatinangor adalah karena dulu di atas gunung ada makam warga yang cantik, jadi namanya ya gunung geulis hoho. Ga tau bener apa enggaknya. Huaaaah~~~ Di kaki gunung geulis, menyimpan banyak cerita walau Cuma dua hari menapak kaki di dekat sana :D 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014