Selasa, 02 September 2014

Satu Jam ‘Bersama’ Ibuk

Selasa, 02 September 2014

Setiap hari Minggu sudah hampir pasti bapak dan ibuk selalu menelfon. Katanya dapat gratisan lima jam. Ya dipake aja buat nelfon. Seperti biasa yang menelfon pasti bapak karena handphone ibuk ga bisa buat nelfon. Walau gitu, bapak pasti hanya bicara sedikit kemudian handphone diberikan ke ibuk. Selalu saja setiap minggu seperti itu, satu jam berbicara lewat telefon.

Masih ingat di awal-awal kuliah dahulu, yang ternyata bulan pertama kuliah bersamaan dengan bulan puasa, yang artinya saya akan menjalani puasa pertama hampir sebulan penuh tanpa orang tua. Yang biasanya saya sahur tinggal nunggu dibangunin dan sudah ada makanan yang tersedia, sekarang saya harus mengupayakan semuanya sendiri. Hampir setiap malam ibuk selalu menelfon, dan saya di hari-hari pertama itu pun sahur sambil menangis.

Saat masih kecil sampai SD kelas enam, saya lebih dekat dengan bapak karena beliau yang selalu mengantar-jemput saya kalau sedang tidak ada jadwal mengajar. Saat kelas enam SD, bapak mendapat beasiswa S2 di Bandung, yang berarti mengharuskan Bapak untuk ‘hijrah’ sementara ke Bandung, meninggalkan ibuk dan saya serta kakak di rumah. Yang dahulu biasanya banyak urusan yang diurus bapak, jadi pindah ke tanggung jawab ibuk semua, termasuk mengantar saya sekolah. Kakak sekolah naik sepeda, dan saya pulang sekolah naik angkot. Keadaan ibuk yang menjadi satu-satunya orang tua di rumah kala itu membuat kedekatan saya dan kakak kepada ibuk makin lekat.
“Buk, nilaine jelek semua,” saat itu setelah pengumuman UTS TPB, dan seperti dugaan saya, nilainya jeblog.
“Yowis rapopo, sing penting habis ini kuliah seng tenanan,” kata beliau.

Banyak telfon beliau yang tidak terangkat. Banyak juga SMS yang kadang tidak dibalas. Beberapa diantaranya karena memang saya tidak tahu kalau ada telfon, beberapa kali saya merasa malas mengangkat, dan beberapa kali sengaja tidak mengangkat karena saking rindunya. Saya ga pernah mau ketahuan kalau sedang kangen. Pernah suatu kali telfon masuk dan saya hanya menangis karena saking rindunya. Tapi tidak saya angkat. Maafkan anakmu ini buk.

Dan saya sebenarnya tidak ingin ibuk tahu, kalau anak perempuannya di sini masih sering malas-malasan, masih sering ga belajar, dan masih juga cengeng.


Dan sampai sekarang saya masih sangat-sangat menunggu saat-saat itu di setiap minggu pagi, satu jam ‘bersama’ ibuk. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014