Senin, 16 Agustus 2010

Euforia Musim Hujan

Senin, 16 Agustus 2010
Senin, 2 November Tahun Pertama
Aku selalu menanti datangnya hujan. Aku selalu membayangkan sesuatu yang indah tentang hujan. Aku suka hujan.
Hari yang membahagiakan. Hari ini pertamakali hujan turun ke bumi setelah enam bulan lamanya. Bayanganku adalah aku pulang naik sepeda dengan baju seragam yang basah kuyub. Tapi niat itu urung ku laksanakan, mengingat besok hari Selasa jadi seragam OSIS masih dipakai. Dan banyak buku pelajaran yang sangat sayang untuk dirusak.
Sekolah sudah sepi. Anak-anak hampir semuanya sudah pulang karena diburu mendung. Ini tepat satu jam setelah bel pulang sekolah berbunyi. Aku yang doyan pulang telat selalu saja menunda waktu pulang.. Jadi begini, terjebak hujan bersama seorang teman di serambi musholla. Asyiknya, aku melewatkan waktu hujan ini di sekolah.
”Aku bosan di musholla terus,” Lia angkat bicara. Keheningan dari tadi tercipta karena aku memilih bermain dengan air hujan yang jatuh dari atap musholla.
“Terus kamu mau ke mana?” aku menoleh ke Lia. Sebagian roknya basah karena aku mencipratkan air ke roknya. Lia juga melakukan hal yang sama.
”Kalau ke atas gimana?”
”O...ooiy..aa...” aku menepuk jidatku. ”Ada barang yang ketinggalan di kelas. Ke atas sekalian masuk ke kelasku ya?” Lia mengangguk. aku dan Lia memang berbeda kelas. Dia di bawah dan di gedung lama, sedang aku di atas dan di gedung baru.
”Ayo Ma,” Lia menarik tanganku dan perlahan menaiki tangga. Tangga digenangi air karena memang atapnya terbuka sedikit. Aku dan Lia tidak memakai alas kaki.
”Humt,” Aku mengiyakan. Aku menendang-nendang air yang menggenang di lantai atas sambil sesekali tertawa bersama. Sesekali juga aku terpeleset dan hampir jatuh.
Akhirnya sampai juga di depan kelas. Aku merasa ada orang di dalam. “Aku ambil di dalam dulu ya,” Aku mulai melangkah masuk. Benar, ada dua cowok duduk di atas meja, tiga berdiri di depan. Mereka bukan warga kelasku. Mereka teman satu kelas Lia.
Aku memberi kode ke Lia untuk masuk. Aku malu masuk sendiri. Akhirnya setelah dipaksa, Lia mau juga menemaniku walau hanya menunggu diambang pintu. Aku menggunakan kesempatan itu untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Lem cair. Parahnya, lem itu ada di sebelah cowok yang duduk di meja. Sial.
Aku mengambil sambl menunduk. Kupencet lem tadi dan ternyata bocor. Aku berlari menghampiri Lia dan melapkan lem ke tangan Lia. Dia berteriak-teriak. Lia Lari. Aku berniat mengejarnya. Sebelum mengejarnya, aku menoleh ke belakang dan melihat cowok itu tersenyum. Manis. Aku berbalik lagi, mengejar Lia yang sudah jauh. Aku kembali mengingat kejadian tadi, senyuman itu. Aku juga sempat melihat bed namanya. ASTAGHFIRULLAH...bayangan itu harus hilang.
Tanpa sadar aku terpeleset. BRAK!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014