Rabu, 06 November 2013

Menemukan Indonesia (Part 2 -end)

Rabu, 06 November 2013
”Sekarang tiket ke Singapura sama ke Sulawesi lebih murah ke Singapura. Ya mending ke Singapura kalo gitu,” suatu kali saya berceloteh dengan teman saya, membicarakan tentang biaya pesawat yang lebih murah ke luar negeri daripada ke bagian timur negara sendiri. Ingat ini juga karena di situs jejaring sosial banyak yang meng-upload foto mereka saat di luar negeri.
”Kalau harga nya sama pun akan tetap pilih ke luar negeri, krena titel ’luar negeri’ itu sendiri bikin bangga,” teman saya menyahut. Memang benar sih, kalau sudah ke luar negeri itu rasanya bagaimanaa gitu.
”Mengeksplor Indonesia itu jauh lebih mahal daripada ke luar negeri,” atau ini gara-gara saya yang tidak pernah backpacking ya? Ah ya, saya ingat perkataan dosen matakuliah Kesehatan Lingkungan Kerja. Beliau hobi diving, yang pastinya itu bukan hobi yang ’murah’.
”Ini kalian lihat, ekosistem di Raja Ampat itu sebegitu indahnya,” kala itu pak Dosen memperlihatkan foto-foto beliau ketika menyelam di Raja Ampat. Sebelumnya beliau menjelaskan tentang prosedur menyelam yang benar agar tidak celaka saat bekerja di bawah air.
”Saya dulu kalo ngga dibayarin sama UNESCO juga ga akan ke Raja Ampat,” pak Dosen tertawa. ”Bisa sampai habis tigabelas juta satu minggu di sana,” wow, semahal itu? hem.. bisa jadi ada rupa ada harga, untuk menyelami lautan paling produktif di dunia ini. Indonesia punya semuanya, dari kutu air sampai paus sperma. Tapi tigabelas juta itu.... tetap saja mahal.

Ada satu teman saya yang lain, dia sangat bersemangat untuk mengajak berkolaborasi menulis tentang kehidupan mahasiswa yang cinta dengan Indonesia. Teman saya yang satu ini sangat semangat menjalani hidupnya sebagai mahasiswa, makannya beliau mengajak saya untuk menulis novel yang menceritakan tentang tema tersebut. Awalnya saya agak kesulitan mengikuti ritme kerja beliau, tapi ditengah-tengah saya mulai bisa menyamainya. Yah walau masih tetap sering ngaret sih hehe. Karena menulis tentang kehidupan mahasiswa yang kritis dan cinta Indonesia –lebih menggambarkan tentang teman saya ini bukan ke saya, makannya saya berusaha untuk mengimbangi pola pikirnya yang super itu. Saat asyik tumblr-ing, saya menemukan sebuah artikel yang direblog oleh Kuntawiaji (kalau yang punya tumblr pasti tahu). Yang  membuat saya melongo dan membaca artikelnya saat itu juga adalah baris pertama yang menyebutkan bahwa ”Indonesia itu kayak cewek cantik, tajir, tapi bodohnya minta ampun”. So Jleb banget lho. Dari kalimat itu saya jadi berfikir banyak tentang Indonesia ini. Indonesia yang cantik, Indonesia yang kaya... tapi Indonesia tidak bodoh. Penghuninya lah yang bertindak bodoh. Mungkin bodoh karena tidak tahu –atau pura-pura tidak tahu.

Ingat tentang cerita Ring of Fire? Indonesia adalah negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia, yaitu berjumlah 155 buah yang tersebar di pulau-pulau di Indonesia. Adanya gugusan gunung berapi tersebut membuat tanah di sekelilingnya subur. Setiap ada erupsi, dalam selang waktu tertentu luapan lava yang mengering itu akan menjadi lahan yang subur. Ingat tentang Pulau Jawa tadi? Kalau lahan subur berarti akan ada vegetasi atau tanaman yang tumbuh subur. Tanaman yang subur adalah sumber makanan dari spesies lain. Di situ, ekosistem baru akan terbentuk. Selain kaya akan jenis tanaman, Indonesia juga kaya dengan berbagai jenis spesies. Kembali ke film Discover Indonesia yang kami lihat dulu, banyak sekali spesies yang belum saya ketahui. Saya juga baru tahu bahwa orangutan di Sumatera tinggal di pohon, sedangkan di Kalimantan orangutan tinggal di tanah. Saya juga baru tahu, burung kasuari di Papua dapat ‘ditukarkan’ dengan seorang isteri.

Berbicara tentang spesies hewan dan tanaman, bagaimana dengan manusianya sendiri? Bisa ditebak, Indonesia juga punya berbagai ‘jenis’ manusia. Indonesia punya ratusan suku bangsa, yang menjadikannya kaya akan budaya dan bahasa/dialek daerah terbanyak kedua di dunia. Suku bangsa, bahasa, dan budaya ini terbentuk tidak secara instan. Budaya yang terjaga aman serta diwariskan secara turun menurun tersebut membuat Indonesia semakin istimewa.

Saya adalah salah satu manusia Indonesia bersuku Jawa. Dari lahir sampai SMA, di sekeliling saya semuanya orang Jawa. Saya belum merasakan bagaimana rasa keberagaman yang sebenarnya. Sampai ketika saat usia saya menuju tujuhbelas, saya merantau ke Bandung untuk menuntut ilmu di sebuah Institut Teknologi yang cukup terkenal di Indonesia. Dari tempat kehidupan yang baru tersebut, saya bertemu dengan orang-orang yang membuat saya semakin merasa bahwa Indonesia itu istimewa. Pada awal-awal kuliah, saya hanya berbaur dengan orang yang berbahasa sama, yaitu bahasa Jawa. Agak aneh juga, seperti menjadi bahan tertawaan mendengar saya berbicara bahasa Indonesia dengan aksen medhok karena tidak terbiasa berbicara dengan bahasa nasional ini. Tapi karena ciri khas ini, saya bisa memulai pembicaraan dengan teman dari daerah lain. Beberapa ada yang bertanya “apa bahasa jawa nya kata ini?” dan beberapa juga ingin diajari tulisan Jawa hanacaraka itu.

Memangnya apa yang bisa dilakukan mahasiswa untuk ikut serta dalam mempertahankan budaya Indonesia? Mungkin banyak yang bertanya tanya tentang itu. Mahasiswa itu bisa apa? Wah, sebenarnya mahasiswa itu bisa banyak lho karena belum terikat apapun hehe. Di kehidupan kampus yang ‘seperti ini’, kami tetap cinta Indonesia. Mahasiswa di kampus kami banyak yang mengikuti unit kebudayaan daerah yang dapat dikategorikan sebagai upaya pelestarian budaya. Tidak jarang juga ada mahasiswa dari daerah satu mengikuti unit kesenian daerah satunya, contohnya teman saya yang orang Cirebon ikut unit kesenian Irian Jaya. Mempelajari budaya negeri sendiri itu memang menyenangkan.

Lagi, saya bukan mahasiswa yang ikut di unit kesenian tersebut. Tapi bukan berarti saya ngga cinta budaya, lho. Saya dulu sempat ikut di salah satu unit kebudayaan daerah tetapi keluar karena ngga cocok sama atmosfernya. Saya terlalu pendiam, yang lain terlalu friendly. Di sana saya jadi merasa bersalah karena orang-orang sungkan kalau berbicara dengan saya. Ya sudah, keluar. Tapi benar, saya cinta dengan kebudayaan Indonesia, apalagi kebudayaan Jawa. Lalu, apa patokan seseorang ‘mencintai’ budaya sendiri? Hem, tanya saja pada diri sendiri. Mencintai kadang tidak bisa dideskripsikan, kan? Setiap orang punya cara untuk mencintai sesuatu. Ya, dengan caranya sendiri.

Oke, sudah terlalu panjang ya kayaknya saya berceloteh tentang Indonesia. Saya bikin artikel yang nyampe dua part ini karena sedikit merasa ’kehilangan’ Indonesia yang sebenarnya. Saya disadarkan oleh trilogi film discover Indonesia yang ditonton di matakuliah biokonservasi. Baiklah, saya akan menemukan Indonesia yang hilang dalam pikiran saya, dan saya tidak akan biarkan lagi Indonesia tersesat –tersesat oleh waktu.


Bandung, 06 November 2013

2 komentar:

  1. Tapi sayangnya Manusia -manusia yang tinggal di Indonesia udah terjajah oleh produk luar sis.
    fesyen, film, elektronik maunya dari luar karna semua itu emang lebih bagus dari luar. tapi coba kalo manusia indonesianya ngasi kesempatan buat Industri lokal untuk berkembang. tapi sayangnya, manusia di Indonesia ini kurang bisa menghargai apapun itu. Mereka cenderung ikut - ikutan cara negara lain menikmati hidup dan gak punya style sendiri.

    BalasHapus
  2. tapi ngga smuanya gitu kok. kalo milih produk karena kualitas lebih bagus sih itu kan hak mereka. nah, tapi misal ada produk yang kualitasnya sama pastinya disarankan milih produk lokal hehe. sekarang kan jaman globalisasi, jadi persaingan pun bukan cuma se daerah tapi se dunia. nah, tugas kita adalah membuat bagaimana kita bisa bersaing di dunia global itu~~ begitu. kalo buat ikut-ikutan, nanti juga balik sendiri pasti. aslinya orang Indonesia mah kemanapun ga akan bisa lepas titel nya...*ini ngomong apasih* hehe.

    BalasHapus

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014