Rabu, 06 November 2013

Menemukan Indonesia (part 1)

Rabu, 06 November 2013
“Indonesia adalah negara yang tersesat oleh waktu,” kala itu dosen mata kuliah biokonservasi mengulangi penggalan kalimat dalam film yang menerangkan tentang keragaman Indonesia. Mata kuliah ini saya pilih untuk menggantikan mata kuliah jurusan lain –lingkungan tambang yang diambil sebelum masa penggantian rencana studi atau PRS. Rumor-rumor nya sih paket A, yang mana jadi incaran kebanyakan mahasiswa. Tapi rencana saya mengambil ini jauh sebelum rumor itu terdengar. Saya memang tertarik dengan mata kuliah program studi biologi ini. Awalnya tidak jadi mengambil mata kuliah ini karena belum ada teman yang mengambil. Rasanya agak aneh juga kalau masuk ke kelas jurusan lain sendirian. Tapi pada akhirnya ada sekitar sebelas orang dari jurusan saya mengambil mata kuliah ini, setelah PRS tentunya.

Indonesia adalah negara yang tersesat oleh waktu. Saya suka sekali dengan kalimat itu walau sebenarnya kurang paham dengan maksudnya. Di tiga pertemuan awal kelas, dosen tidak mengajar dengan slide atau menulis di papan tulis. Mata kuliah ini berbeda. Kami hanya duduk manis di kelas, dan ‘bertugas’ untuk melihat ke layar putih di depan sambil mencatat hal yang sekiranya menarik dan belum diketahui. Ya, tiga minggu pertama kuliah kami hanya menonton film! Film yang diputar tersebut adalah ‘trilogi’ Discover Indonesia.

“Apa yang menurut kalian menarik dari film kemarin? Apa fakta yang baru kalian tahu?” mengawali kuliah, Pak Dosen melontarkan pertanyaan. Hey, apa yang menarik dari film kemarin? Tentang Indonesia? Rasa-rasanya biasa saja, sudah terlalu sering didengar di telinga. Mungkin beberapa ada yang berfikir seperti itu karena tidak ada satupun mahasiswa yang menjawab pertanyaan Pak Dosen.
“Jalak bali yang hanya tinggal empat belas ekor, pak,” saya menyahut perlahan. Ya, benar! Di film dokumenter tersebut dikemukakan bahwa jalak bali –yang notabene ikon pulau Bali itu tinggal EMPATBELAS EKOR saja.
“Baik, apa lagi?” Pak Dosen sepertinya menganggap hal yang ‘wow’ untuk ukuran saya itu tidak terlalu ‘wow’ untuk ukuran Pak Dosen. Maklum, saya bukan orang biologi pak jadi fakta tersebut masih terlalu mengejutkan buat saya.
“Eh… sawah di Pulau Jawa sudah ada dari duaribu tahun yang lalu, Pak,” dan saya angkat bicara lagi karena mahasiswa lain tidak ada tanda-tanda untuk bersuara. Benar lho, saya baru tahu fakta ini bahwa kehidupan rakyat Indonesia sudah begitu majunya di abad lalu. Saya kira peradaban manusia yang maju di Indonesia itu baru bermula saat kerajaan Kutai Kartanegara berjaya. Ah ya, buku sejarah yang saya baca masih minim yang menjelaskan tentang kehidupan di Indonesia sebelum kerajaan Kutai ada.
“Ya, menarik sekali,” Pak Dosen saat itu terlihat semangat. Mungkin apa yang saya lontarkan tadi memenuhi kehendak beliau. ”Di Pulau Jawa sudah ada sawah sejak duaribu tahun yang lalu. Peradaban di Jawa juga sudah berkembang. Dari dulu Pulau Jawa itu sudah padat penduduk. Kalian tahu kenapa?”
Mahasiswa yang di kelas saling pandang. Pasti banyak yang mau mengeluarkan pendapat, tapi takut salah dan disalahkan.
”Karena subur pak,” ada juga yang menyahut. Akhirnyaaa
”Benar sekali!” Pak Dosen tersenyum. ”Lalu kalau sekarang, kenapa Pulau Jawa masih juga padat? Padahal lahan pertanian berkurang lho!”
”Karena ada industri, pak. Di Pulau Jawa juga ada ibu kota, dan pusat perekonomian Indonesia juga ada di Pulau Jawa. Jadi, orang-orang berbondong-bondong untuk pergi ke Jawa,” mahasiswa lain ikut angkat suara.
”Benar benar. Manusia dari dulu memang mencari tempat dimana mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup. Dulu saat belum ada teknologi yang secanggih ini, manusia bergantung pada alam. Dimana ada lahan subur dan tanaman yang bisa dimakan, disitu manusia akan hidup. Sekarang dimana ada lapangan pekerjaan, disitu manusia akan hidup,”

Jadi ingat pelajaran masa sekolah dasar dulu bahwa urbanisasi kerap menjadi masalah besar. Angka urbanisasi yang melejit dibandingkan angka transmigrasi yang rendah membuat kota kota besar makin berkembang tetapi juga makin padat. Di samping itu, desa desa akan semakin lengang dan lambat berkembang. Usaha pemerintah saat ini sudah lumayan baik, ditandai dengan pembukaan lapangan pekerjaan baru di kota-kota kecil serta adanya pembangunan fasilitas yang memadai, agar penduduk desa tidak pindah ke kota.


Ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang Indonesia. Bertahun-tahun yang lalu saya sangat menyukai pelajaran sejarah, selalu menghabiskan waktu belajar untuk membaca buku pelajaran sejarah yang berisi tentang kisah-kisah kerajaan masa lampau. Bukannya sekarang saya tidak suka sejarah, tapi kehidupan kampus membuat saya hanya berangan-angan untuk membaca sejarah lebih dalam lagi. Trilogi film ’Discover Indonesia’ yang diputar saat kuliah biokonservasi membuat saya menjadi bersemangat lagi untuk menggali Indonesia, menemukan Indonesia yang sudah hampir hilang dari sisi lain saya. 

2 komentar:

  1. Bukan hanya ditemukannya sawah dari jaman dulu banget itu, sis.
    Saya juga pernah baca, pada jaman dahulu kala (uhuk) terdapat bani jawi yang merupakan keturunan dekat dengan adam dan menempati wilayah Indonesia (diprediksi pada saat itu peta dunia masih berupa satu pulau / benua besar)

    lebih jelasnya lagi cari digugel. ^_^

    BalasHapus
  2. woh, iya? baru tahu hoho. terimakasih kunjungannya :D

    BalasHapus

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014