Rabu, 07 November 2012

Telephaty

Rabu, 07 November 2012

Hei kamu! Iya kamu. Dengar suaraku? Iya. Apa sekarang kamu melihatku? Baik. Aku tahu. Kamu sedang fokus dengan hal yang lain, bahkan kamu seolah tidak memperhatikan sekitarmu.

Seolah berdialog dengan seseorang yang entah sudah atau belum aku kenal. Rasanya ini seperti telepati yang membuat kami terkoneksi satu sama lain. Tanpa alat, tanpa perantara. Kami bisa saling membaca pikiran, menjawab, menyapa, dan bertanya.

Halo? Bagaimana kabarmu? Aku disini baik-baik saja. Hanya seperti biasa. Seolah sekitar yang ramai tidak membuatku merasa bahagia. Hanya bising. Dan entah kenapa di dalam bising dengan intensitas yang cukup tinggi ini aku selalu merasa sepi

Apa aku yang terlalu muluk? Apa aku yang terlalu perfeksionis?

Aku selalu bertanya. Aku tahu dia mendengar. Tapi dia memilih bungkam untuk tidak menjawab pertanyaanku. Dia selalu ingin aku tidak menjadi perempuan yang lemah.

Hey tahu tidak, angka melankolisku tinggi. Dan karena itu aku sangat sering merasa tersakiti, entah masalah apa saja itu. aku tidak pernah bicara ke orang lain, karena aku takut yang mendengar akan merasa jengah. Jadi aku berharap, hanya Dia dan kamu yang mendengarnya. Kelak. Aku belum bisa mengatakannya. Aku hanya bisa bicara dalam diam.

Seakan aku masih menunggu seseorang yang benar-benar mengerti. Seakan tidak ada satupun orang yang mengerti aku.

Apakah aku buruk, hey kamu yang disana. Kenapa kamu tidak mengatakan apapun? Apa kamu juga merasa tersakiti oleh sekelilingmu? Aku yakin kamu adalah orang yang tegar.

Bila kamu tahu sekarang kerjaanku hanya menangis, apa kamu mendoakanku sekarang?

Ah ya, menangis. Aku hanya terlalu peka. Menganggap bercandaan orang lain sebagai kebenaran, menganggap kritik dan jawaban ketus sebagai tanda kebencian.

Tapi aku tidak akan berbuat selain menangis. Aku tidak ingin ada dendam. Aku hanya ingin rasa iri dengki dendam prasangka buruk ini menetes bersama air mataku.

Hey, apa kamu suka dengan perempuan yang menangis?

Haha. Lama-lama kamu pasti jengah mendengarku yang selalu berceloteh tak jelas ini.

Halo?? Apa kamu mendengarku??

Atau jangan jangan~~~ kamu tidak tahu bahasaku??

.
.
.
.

Hey, tahu tidak, sekarang aku sedang mencoba tersenyum. Kamu  juga harus tetap tersenyum. Terus perbaiki diri ya.

Hanya Allah yang tahu kapan aku harus menghentikan telepati konyol ini. Hanya Allah yang tahu. Hanya Allah yang tahu :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014