Sabtu, 05 Mei 2012

surat cinta untuk indonesia

Sabtu, 05 Mei 2012
ngga tau jadi ingat sama tulisan saya setahun lebih yang lalu gara-gara mbuka blog teman saya (yang sayangnya ga ditulisin lagi, hehehe). ini tulisan sebenarnya mau diikutin lomba tapi biasa lah, karena nyali saya kecil dan ngga pede, akhirnya saya ngga jadi ngirimin itu naskah. hufffnesss...

ini buat lomba yang di KM ITB kalo ngga salah, lupa saya -_- saking lamanya. Saya nulis ini pas jaman galau-galaunya TPB. kaget juga ternyata saya bikinnya 16 Februari 2011, pukul 1:43:25

yak, mari disimak :)


Aku menulis surat ini ditengah keheningan malam dan kedamaian hati. Aku hanya ingin menuliskan apa yang ada dalam otakku sekarang. Aku bimbang.

Saat aku dilahirkan, aku belum mengenalmu. Saat aku menginjak bangku TK, itulah saat pertama aku mengenalmu. Saat itu engkau sedang mengalami sakit luar biasa, yang aku belum tahu bagaimana rasanya.

Berangsur-angsur engkau mulai sembuh. Senyum rakyat kembali membuncah, dan aku masih belum mengerti.

Saat aku sudah SMP, aku mulai mengenal siapa dirimu yang sesungguhnya. Sesuatu yang sebenarnya abstrak tetapi nyata. Tidak dapat disentuh maupun diraba, tapi hati kita bisa merasakannya.

Aku tahu.

Aku mulai tumbuh dewasa dan makin mengerti dengan keadaan yang terjadi.

Kenapa engkau berangsur-angsur berubah?

Aku tahu, ini bukan kemauanmu. Aku tahu, sebenarnya engkau sangat tersiksa dengan semua keadaan yang menjemukan ini. Aku ingin membantu, tapi apadaya, bagaikan semut di kaki gajah. Tak akan tampak dan tak akan membuat suatu perubahan.

Hatiku hancur, saat mengingat dirimu terinjak oleh kaki-kaki asing dari luar. Aku ingin menghentikan mereka, namun apadaya. Sekali lagi kutegaskan, aku tak bisa.

Aku ingat saat engkau menangis, ratusan warga di Aceh terseret tsunami. Saat perpisahan kelas enam SD, aku menyanyi di atas panggung, menggambarkan bagaimana rasa sedihmu.

Keigninanku tidaklah banyak. Aku ingin engkau kembali kuat dan segar. Aku tak ingin engkau kembali terinjak oleh orang luar, terkikis moral, teriris inflasi, terdesak oleh subsidi, dan hal yang lainnya.

Mungkin ini bukan surat yang penuh kasih sayang, namun hanya gertakan-gertakan tanpa ancaman yang dapat aku tulis.

Aku sadar, manusia sekecil aku hanya bisa protes tanpa ada hasil. Aku hanya bisa berdoa di belakang dan meratapi nasib.

Aku hanya ingin kau berubah menjadi lebih baik,

hanya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014