Selasa, 29 Maret 2011

Kisah Study Tour SMP

Selasa, 29 Maret 2011
SMP, pertengahan tahun kedua

Sebentar lagi, sekitar satu bulan lagi ada agenda wajib yang biasa dilakukan oleh semua murid kelas dua: Study Tour. Ada tiga pilihan, Jakarta, Bali, dan Malang. Pemilihan lokasi menggunakan angket, dan hasil voting terbanyak itulah yang akan kita tuju untuk pergi study tour. Aku sendiri memilih Bali, karena aku belum pernah ke sana.

”Kalian mau milih apa?” aku membuka forum antara aku, Afif, Ida, Faridh, Nanda, dan Maya.
”Bali,” si Faridh dan Maya sama.
“Kita milih Malang, ya Da? Aku rencana ngga ikut, males banget ntar malah daddy ngikutin sampe sana, kaya mbak Una dulu,” si Nanda malah curhat. Ida mengangguk.
“Aku juga nggak ikut, males banget ke Bali, Jakarta,” si Ida menambahkan.
“Ya... kok pada ngga ikut, tah?” Maya protes, tapi protesnya sia-sia. Kalau si Afif sih ndak usah ditanya, aku tahu apa jawabannya, pasti dia ngga akan ikut. Masalahnya apalagi kalau bukan biaya.
“Ya.. banyak yang ngga ikut, ngga asik nih,” aku menimpali.

Seminggu setelah itu, surat edaran dibagikan. Bali mendapat suara terbanyak, Jakarta nomor dua, dan yang terakhir Malang. Haiyahh..

Mereka yang tidak mengikuti study tour ini harus berwisata ke tempat lain, karena perjalanan kali ini mewajibkan murid kelas 2 membuat semacam makalah resmi atawa laporan perjalanan. Sekitar enam atau tujuh orang, atau bahkan lebih (lupa, maaf) dari kelasku yang tidak mengikuti study tour ini. Alasannya macam-macam, ada yang tepatan sama acara keluarga, sampai alasan kebohongan seperti Nanda dan Ida (hehehe). Yang alasannya paling beda itu si Afifah, dia menulis ”karena terhalang biaya”.

”Masa Afifiah nggak ikut, aku ntar duduk sama siapa?” Aku membuka forum dengan orang biasanya, tanpa Afifah. Dia sedang pergi ke kamar mandi.
”Iya eh, kasihan, ngga bisa ikut karena cuma masalah sepele kayak gitu,” si Nanda angkat bicara.
”Inget ceritanya buguru ngga, yang kakak kelas itu,” si Ida tiba-tiba mengagetkan.
Cerita ibu guru yang kemarin itu, ceritanya begini, ada juga kakak kelas yang ngga ikutan study tour karena kehalang biaya, terus temen-temennya nyumbang secara sukarela buat biaya keberangkatan temennya itu, so sweet...
”Kita bilang aja ke teman-teman,” si Nanda langsung cling.
Kami semua setuju dan koordinasi sama Herliena yang notabene suaranya kenceng dan dia selelu diperhatikan, ciri-ciri orang populer gitu. Pas itu, si Afifah udah masuk kelas, dan si Nanda tiba-tiba ngajak keluar lagi si Afifah, dan pas mereka berdua keluar, si Herliena ngomong di depan kelas. Si Nina lalu membuat draft untuk surat edaran khusus buat kelas 8B. edaran minta sumbangan.

Si Afifah baru tahu beberapa hari kemudian, dan dia berterimakasih sekali. Hahaha kadang-kadang emang punya sahabat itu perlu.

Teman-teman juga responnya cukup baik, tapi ada juga yang tega banget, udah ngga ngasih, masih comel juga. Dia cowok, masa ngomong gini, ”Heh, aku aja ngga ikut, masa harus nyumbang sih? Buat apa?” perasaan kata-katanya biasa aja, tapi dia ngomong di depan si Afifah, apa ngga sakit tuh? Kalo ngga mau nyumbang ya udah, ngga usah protes, dasar. Cowok kok ngga bisa ngontrol bicaranya.

Sampu, sampun.

Dan berkat sumbangan anak-anak kelas 8B, Afifah bisa duduk di bis buat study tour, dan satu kamar dengan saya, hohoho. Saya bahagia, Afifah juga bahagia...

Itu sekelumit kisah yang menurut saya mengharukan, hiks.. lebai.. :P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014