Kamis, 01 Desember 2011

Ada apa dengan Sekitar Kita?

Kamis, 01 Desember 2011
Suatu hari di angkot, saya bersama kakak tingkat satu jurusan bercerita tentang pengalaman kulap (kuliah lapangan) kemarin karena melihat di depan gerbang kampus ada anak sipil yang bersiap-siap masuk bis, mereka akan kulap juga.
”Perasaan anak sipil minggu kemarin udah kulap, deh, masa’ kali ini kulap lagi?” si kakak berceloteh. Dan saya menjawab sambil tersenyum,
”Loh, kakak kan kemarin juga kulap,”
”Tapi kulap mereka ngga bau kaya kita,” si kakak merengut. Oke, memang anak ’09 kemarin kulap ke bantargebang dan hari itu banyak anak ’09 yang tidak ikut acara himpunan karena sakit.
”Bayangin yaa... itu berhektar hektar isinya sampah semuaa,”
”Iyalah.. kita aja yang cuma beberapa jam disana uda hampir pingsan sama muntah-muntah, tapi kok bapak-bapak yang disana biasa-biasa aja, ya?”
”Yah... namanya juga sudah terbiasa,”

Lalu pikiran kami menerawang.

”Coba bandingin sama DPR yang kerjanya cuma duduk di ruang AC uda dapat duit berjuta-juta, si bapak udah harus kerja di tempat seperti itu tapi hasilnya ngga seberapa,”

Tiba-tiba atmosfer angkot berubah jadi melankolis.

Dosenku pernah bilang, dan kakak himpunan juga pernah bilang dengan inti yang sama bahwa ilmu kita itu ilmu yang paling dekat dengan masyarakat. ya, benar. Kehidupan manusia tidak jauh dari sampah dan kotoran.

Dan suatu hari lagi, teman saya menawari untuk pergi ke TPS dekat rumahnya.
”Rahma, yuk ke TPS, sekalian buang sampah,”
”Loh, memangnya disini ngga ada yang ngangkut sampah, na?”
”Ada sih, tapi akan kutunjukkan kenapa ga banyak orang yang mau ngurusin persampahan,”

Akhirnya saya dan Ratna pergi ke sebuah TPS di dekat rumahnya. Seperti TPS TPS lainnya, bau, becek, banyak lalat, dan banyak bapak-bapak yang bekerja di situ.

”Ini pak,” kami menyerahkan sampah ke bapaknya dan si bapak berbicara sunda yang saya tidak tahu.

Ketika keluar dari TPS, Ratna bilang, ”Tadi plastiknya ada dua kan ya ma? Dikira bapaknya itu yang satu isinya makanan, lah,”

Jleb

Serasa ada pisau yang menusuk.

Saya sendiri merasa sudah cukup peka dengan keadaan sekitar, tetapi ternyata tidak.
”Aduh Na, jadi malu nih sama bapaknya,”
”Iya Ma. Eh, uang limaribu teh sedikit kan ya?”
Saya mengangguk.
”Pernah ya ngasih lima ribu aja, si bapaknya bilang terimakasih itu sampai begitu-begitu banget,”

Ingin lebih peka terhadap sesama. Saya selalu ingin membantu orang, tapi selalu takut untuk berbuat. Selalu takut bahwa bantuan saya tidak tetap sasaran. Jadi biasanya uang hanya masuk ke kencleng-kencleng, jarang sekali diterima oleh orang yang kurang membutuhkan.

Oke, back to topic. Ada apa dengan sekitar kita?
Sebenarnya disini saya ingin membahas tentang seberapa besarnya peran tukang sampah di kehidupan kita. Coba kalau tidak ada mereka, bagaimana nasib sampah kita? Siapa sih yang mau ngurusin begituan? Kita aja sama sampah sendiri kadang males. Sedikit lo orang yang yang mau jadi tukang sampah atau pemulung. Kita sebenarnya harus juga membantu mereka dengan menimalisir sampah yang dihasilkan di rumah, jangan malah nambah-nambah pekerjaan mereka.

Kembali lagi, mungkin kesenjangan sosial memang tidak bisa dihindari, ya. Tapi bagaimanapun kita hidup di bumi yang sama dan di atmosfer yang sama. Salinglah membantu, salinglah mengerti, dan jangan ragu untuk berbuat kebaikan :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014