Senin, 22 Juni 2015

SMILE

Senin, 22 Juni 2015
“Senyum mu itu lho, gak natural,” seseorang berkata pada saya, saat melihat foto-foto selepas suatu acara.
“Haha, iya gituh?” dan saya menanggapi, tertawa satir.

Senyum tidak bisa berbohong. Mana yang tulus, mana yang palsu.

“Kamu, kok kayaknya banyak pikiran ya?”
“Haha, begitulah,” lagi, saya tersenyum. paksa.
Dan kemudian, dia terus-terusan membaca mikroekspresi di wajah saya, sampai saya benar-benar kikuk.

Ah ya! Tebak saja. Saya memang pemurung, saya memang terlalu banyak memikirkan sesuatu yang tak perlu, dan saya, iya, saya, merasakan bahagia yang palsu.

Dan saya tau itu. Sisi kecil dari diri saya sangat tau tentang hal itu. Tapi sang sisi dominan, tak mau tau.

Bahkan kamera, yang merupakan benda mati pun bisa membedakan mana senyum asli dan palsu. Wajah senyum saya tak pernah berhasil membuat sebuah kamera digital dengan smile sensor menjepret secara otomatis. Percaya atau tidak? Percayalah. Saya tidak berbohong.

Saya tidak tahu, kenapa saya susah sekali tersenyum dengan hati. Bukan hanya melengkungkan bibir ke arah atas saja, bukan hanya sebuah simbol, melainkan sebuah ekspresi dari dalam diri.

Bahkan, saya membuat sebuah sajak dengan tema tersenyum pun, malah jatuhnya ke melankolis-nangis-putus asa begini.

Boleh saya tulis lagi sajak nya? Baiklah, saya ingin tersenyum lagi... bukan karena terpaksa.

Ada satu hal yang pernah seseorang katakan kepadaku
Bila bersedih tersenyumlah
Bila bersedih tertawalah
Karena... itu kan hapus laramu
Dia juga berkata padaku
Senyum adalah senjata
Tertawa adalah obat bagi luka hatimu
            Jangan biarkan senyum hilang dari wajahmu, dari bibirmu
            Jangan biarkan kesedihan, hapus rona wajahmu
            Maka tersenyumlah, tertawalah

            Dan rasakan bahagia mengalir ke dalam jiwa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014