Kamis, 24 Oktober 2013

ambigu dalam sebuah deskripsi

Kamis, 24 Oktober 2013
“Aku ngerasa agak ambigu sama cerita yang kamu bikin, Ren,” Satu siang di musim ujian. Seseorang memintaku untuk berpendapat tentang apa yang ia buat. Sebuah cerita tentang cinta, tapi dia lebih suka menyebut ‘sayang’ daripada ‘cinta’.
“Oh ya? Ambigu bagaimana?” dia bertanya lagi, mencoba membaca pikiran saya. Mungkin.
“Aku ngerasa kalau.. sebenarnya cewek ini cuma kagum,” aku menyentuh layar handphone yang menampilkan sinopsis cerita. Ceritanya, temanku satu ini ‘menang’ lelang sinopsis novel dari satu penerbit dan dalam dua hari harus membuat cerpennya.
“…Dia suka? Bukan kagum? Aku ngerasanya dia itu cuma kagum, bukan suka. Dia hanya bingung dengan deskripsi suka dan kagum. Mungkin. Eh, itu cuma pendapatku lho ya,” aku melanjutkan.
“Oh, jadi, mungkin di cerpen yang akan dibuat harus ditulis apa yang mau dituju, biar ga ambigu.”
“Iya, kalo kamu mau dia suka, bilang suka. Kalau kagum, bilang kagum. Sampai yang aku baca sekarang ini aku masih ngerasa kalau ini hanya sekedar kagum,” aku mengeluarkan pendapat yang sedikit –entahlah sok tahu. Haha, tapi dia memang butuh brainstorming dan masukan –walau saran dari saya ga lebih dari sampah.

Baiklah, mendefinisikan sesuatu itu memang tidak mudah. Definisi itu kalau ditulis bisa bebas sebebas bebasnya, mungkin bisa sampai puluhan lembar. Coba definisikan sendiri, apa itu rasa suka? Apa itu kagum? Saya sendiri bingung.

”Menurutmu, apa yang membuat ini istimewa?” dan ini adalah salah satu pertanyaan yang bisa membuat saya terdiam lama.

Saya bukan tipe orang yang suka menilai dengan data: kuantitas atau kualitas. Saya adalah orang yang menilai semua dengan rasa *haha* ga tau. Kalau saya rasa itu istimewa, berarti itu istimewa. Kalau tidak, ya tidak. Titik. *terlihat saklek? Mungkin :D. Oke, dan sebenarnya saya sendiri tidak tahu apa yang membuat itu istimewa. Saya hanya merasa, itu istimewa. Begitu saja. Hey, bukankah tidak setiap hal butuh dideskripsikan?

Saya jadi ingat tentang satu kuliah (yang merupakan salah satu mata kuliah favorit saya di semester tujuh ini) yang pernah nyerempet tentang definisi. Di situ dosen berkata bahwa ”banyak sekali para ahli berlomba untuk membuat definisi, biar dikenal, biar dicatat dalam sejarah. Berlomba membuat definisi serumit mungkin, sepanjang mungkin, padahal nantinya semakin banyak yang membuat definisi, akan semakin hilang arti sesungguhnya instrumen tersebut,”

Dan jadi ingat lagi, salah satu tugas deskripsi puisi Sitor Situmorang, judulnya malam lebaran tapi puisinya hanya satu baris: bulan di atas kuburan. Singkat, padat, jelas, tapi pas di deskripsikan beeuuhhhh sampai dua halaman folio.

Hey, sebenarnya apa inti post ini? sebenarnya saya hanya ingin menegaskan bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu. Setiap orang punya cara mendefinisikan sesuatu, dan itu adalah keunikan tersendiri bagi orang tersebut. Maka ... yah... hargai saja pendapat orang lain. Hargai saja, kecuali kalau benar-benar menyimpang atau salah.


Sekian. Semoga tulisan ini tidak bermakna ambigu, ya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mau bertukar pikiran?:D

アイサ の ノート © 2014