Pages

Tampilkan postingan dengan label analisis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analisis. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2012

Tentang Air, Air, dan Air

Senin, 10 Desember 2012

Pernah terfikir tentang krisis air bersih? Saya dulu ngga pernah mikir tentang krisis air bersih. Yang saya tahu, setiap hari air mengalir bila kita membuka kran di rumah. Tapi sekitar satu tahun yang lalu, saat saya masuk di jurusan Teknik Lingkungan ITB, pandangan saya tentang itu berubah. Banyak hal yang samasekali tidak saya ketahui sebelumnya. Krisis air bersih itu sekarang bisa jadi ancaman bagi banyak orang. Di jurusan ini saya bergabung di Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB (HMTL ITB), yang beberapa agendanya membahas tentang isu lingkungan seperti krisis energi, krisis air bersih, sampai teknologi tepat guna.

Sekitar bulan Oktober tahun lalu, saya dan teman-teman magangers di departemen keprofesian HMTL diberi tugas untuk mengkaji permasalahan sarana yang ada di sekitar ITB diantaranya tentang Insenerator (yang asapnya ternyata masih berbau dan berwarna), masalah mata air (tentang pemakaiannya), dan masalah watertap (kenapa tidak jalan). Kelompok saya kebagian untuk mengkaji permasalahan mata air di Babakan Siliwangi (Baksil).
mata air di Babakan Siliwangi, dekat dengan kolam limbah
“Oh ya? Di Baksil ada mata air, gitu?” ya, saya dan beberapa teman saya bertanya-tanya. Emang di baksil ada mata air?
“Dulunya mata air di Baksil sendiri ada sekitar delapan, tapi sekarang tinggal satu dan itupun dekat dengan MCK, dan debitnya superkecil,” kakak dari keprofesian menjelaskan tentang kondisi eksistingnya. Dan beberapa hari kemudian kelompok kecil saya beserta dua kakak dari keprofesian menelusur si mata air itu. Pas pertamakali melihat, saya dan dua teman saya berkata, ”Wah, baru tahu lah, itu ternyata mata air,”.

Kami memang pernah beberapa kali pergi ke Baksil dan melewati tempat tersebut, tapi ngga nyadar kalau itu mata air. Bentuknya sederhana, hanya dialirkan pakai pipa dari kolam mata air ke bak penampung yang letaknya dekat sama kolam limbah. Saya pikir cuma limbah cuci, tapi ternyata ada limbah kakus juga padahal ini mata air jadi sumber air buat warga sekitar yang ngga punya sumur gali dan ngga langganan PDAM.

Yap. Dari gambaran diatas, ada beberapa permasalahan yang bisa dilihat. Yang pertama adalah makin berkurangnya jumlah mata air. Ini disebabkan karena pengeksploitasian yang berlebih, penggunaan yang tidak benar, ataupun karena tertutup bangunan. Dan yang kedua adalah mata air tersebut rawan tercemar. Nah, itu di Baksil sendiri, satu-satunya mata air yang tersisa letaknya malah sebelahan sama tempat limbah, bisa jadi si mata air tercemar oleh zat-zat berbahaya.

Mata air yang semakin sedikit seharusnya dijaga dan dilestarikan. Yang terfikir oleh kami saat itu untuk menjaga si mata air ini (dan sampai sekarang belum terealisasi ._.) adalah membuat bak pengumpul yang lebih baik, membatasi dindingnya dengan bahan kedap air sehingga pencemar bisa diminimalisir, serta membuat tutup bak. Untuk kolam limbah, diharapkan ada instalasi pengolah limbah. Tapi sebenarnya hal yang paling mudah itu adalah mengajak warga sekitar untuk tidak membuang limbahnya di dekat mata air. Saat mata air sudah tercemar atau habis, pasti mereka baru sadar bahwa mata air tersebut merupakan sumber kehidupan.

Jadi ingat, saat ibu saya masih kecil, rumah nenek di daerah Boyolali belum ada listrik apalagi langganan PDAM. Saat itu kerasa gimana susahnya cari air. Harus jalan kaki agak lama dan ngambil airnya di sungai. Tapi sungainya bersih lho ya, soalnya itu sumbernya mata air dari gunung. Dan bayangkan sekarang, kayaknya orang dengan asyiknya menghambur-hamburkan air bersih sementara di tempat lain saudara-saudara kita menderita kekeringan. Hemat air bisa dimulai dari hal kecil seperti menutup kran dengan kencang, atau menyiram WC dengan gayung daripada pakai flush.

Selain kasus Baksil, ada hal yang lain. Saya tinggal di daerah Plesiran. Mayoritas penduduknya pakai air tanah, bukan dari air PDAM. Saat pengumpulan data karena ada tugas matakuliah Kesehatan Lingkungan, alasan penduduk ngga make PDAM karena kualitas airnya jauh, lebih bagus pakai air tanah. Saya pernah diterangkan oleh Dosen bahwa sebenarnya mata air ataupun air tanah itu dikuasai oleh pemerintah. Penggunaan air tanah itu ngga gratis, ada kompensasi yang dikenakan tapi saya kurang tahu besarnya berapa. Menurut saya itu dilakukan untuk mengontrol penggunaan air bersih warga, kalau penggunaan air tanah sendiri ngga dikontrol akibatnya bisa banyak, antara lain penurunan ketinggian tanah karena lapisan air tanah menipis.

Yak. Bandung beruntung masih ada cadangan air tanah yang bisa disedot, tapi tunggu beberapa tahun lagi, krisis air pasti terjadi kalau pemakaiannya ngga benar apalagi sekarang jumlah pohon makin berkurang. Krisis ini bisa dicegah dengan meminimalisasi penggunaan air tanah, yaitu dengan mempercayakan aliran air kepada perusahaan air tertentu tapi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas air yang baik serta kebocoran pipa juga harus dikurangi.

Menjaga sumber air itu juga berarti untuk kepentingan kita sehari-hari karena kita tidak bisa hidup tanpa air. Untuk konsumsi sehari-hari kita butuh sekurang-kurangnya 8 gelas per hari. Dengan apa kita memenuhi kebutuhan itu? Yang gampangnya sih masak sendiri, atau beli galon dan buat diminum di rumah. Kadang merasa riweuh kalau harus masak sendiri atau bawa minum dari rumah dan saat di kampus kita memilih untuk membeli air minum dalam kemasan. Sebenarnya kebiasaan itu harus distop, selain untuk menghemat uang saku, bisa mengurangi sampah kemasan juga.

Saya mengenal beberapa teknologi untuk mempersiapkan air yang bisa kita konsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu. Ada tiga, yang pertama watertap, lalu reverse osmosis, dan yang ketiga PureIt. Teknologi watertap di Indonesia yang ada di institusi cuma ada dua, di sebuah SD di kota Malang, dan di ITB. Sayangnya watertap di ITB ini ngga berfungsi karena kerusakan pada saluran pipa dan di bagian filternya. Bila di kampus atau di tempat umum ada sarana watertap, kita ngga perlu khawatir lagi kalau kehausan di taman kota, tinggal buka kran dan langsung minum airnya. Teknologi ini ada di negara-negara maju.
1. water tap di ITB yang belum bisa dipakai lagi 


Yang kedua adalah memakai teknologi reverse osmosis yaitu penyaringan air dengan membran, tapi kekurangannya adalah semua partikel lolos kecuali H2O. Jadi mineral-mineral yang diperlukan juga tertahan di membran. Kekurangan yang paling krusial adalah: MAHAL! Untuk konsumsi pribadi, alat dengan teknologi ini dijual seharga 2-4 juta per unit.
2. produk dengan reverse osmosis

Yang ketiga adalah~~ PureIt. Tidak perlu listrik tidak perlu baterai dan tentunya harganya lebih murah dari teknologi reverse osmosis. Penasaran ketika lihat iklannya, dibilang aman-aman tapi saya tetap ragu. Lalu saya browsing di internet, ternyata yang bikin aman itu unit germ kill. Proses kerja pemurnian air di PureIt dibagi jadi 4 tahap. Tahap pertama dengan serat mikro, kedua dengan karbon aktif, yang ketiga dengan prosesor pembunuh kuman dan bakteri serta virus, dan yang terakhir adalah tahap penjernih. 
3. PureIt

Nah Komponen 2-3-4 ini yang disebut Germkill Kit (Perangkat Pembunuh Kuman) yang akan memurnikan 1500 lt air setara dengan 80 galon (suhu air 25o C, kelembaban sedang) untuk 6 8 bulan pemakaian. Masa pakai Germkill Kit tergantung dengan pemakaian air. PureIt ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya sangat praktis karena hanya memasukkan air kedalam alat bagian atas, dan nantinya air akan dimurnikan. Yang kedua adalah stidak memerlukan gas, listrik, ataupun saluran pipa. Dan yang terpenting adalah LEBIH MURAH.  Biaya per liter pemurnian air hanya Rp100, jauh di bawah harga air galon dari merek ternama (Rp526/liter), air isi ulang (Rp187/liter), dan air rebus (Rp107/liter).  Selain itu air terlindung dari kuman berbahaya serta memiliki indikator yang dapat menunjukan lebih awal kapan germ kill kit nya harus diganti.

Oke, itu sekilas tentang air, air, dan air. Lewat tulisan ini saya juga ingin menyampaikan, mari berhemat air, mari menggunakan air dengan lebih bijak, dan mari kita jaga kelesatarian sumber air bersih. Alam ini bukan milik kita, tapi titipan dari anak cucu kita untuk kita pakai dan kita lestarikan. Sekian :)

*artikel ini dibuat untuk mengikuti lomba PureIt: Kelestarian Sumber Air Minum tapi ga menang, hehe :3

sumber gambar:
1. http://majalahganesha.com/blog/2012/05/03/sampah-sampah-sumbangan-alumni/
2.http://www.iconest.com/water/index.php?option=com_content&view=article&id=13&Itemid=12 
3 http://www.pureitwater.com/ID/


Senin, 27 Februari 2012

Kaidah Hidup Berbangsa dan Bernegara Menurut Agama dan Kepercayaan Setempat

Senin, 27 Februari 2012
Saya berasal dari Kota Surakarta (Solo, Jawa Tengah) dan saya beragama Islam. Berasal dari Kota Surakarta bukan berarti keseharian saya masih berbasis kejawen ~yang merupakan salah satu khas dari kehidupan di lingkungan keraton~ karena letak rumah saya lumayan jauh dari Keraton Kasunanan Solo (sekitar kurang lebih 8 km).

Setiap tahun Keraton Kasunanan selalu menggelar acara rutin misalnya kirab mubeng beteng, sekatenan, grebeg mulud, dan kegiatan yang lainnya. Acara tersebut merupakan beberapa contoh dari proses asimilasi budaya yang dikembangkan oleh wali sanga pada zamannya, yang dulu dapat dikatakan sebagai salah satu media dakwah mereka. Acara tersebut menyatukan adat daerah kejawen dan adat islam. Pada zaman dahulu untuk memberikan suatu pelajaran yang samasekali baru butuh perjuangan yang sangat keras. Kebudayaan yang telah tertanam lama di kehidupan sehari-hari tidak bisa begitu saja dihilangkan, maka diadakanlah suatu acara (adat) baru yang berbasis islam tetapi masih berbudaya, tetapi lagi, tidak menyentuh unsur yang tidak cocok dengan islam, misalnya memakai sesajen. Contoh acara yang lumayan terkenal adalah acara sekaten. Acara sekaten (diambil dari kata syahadatain) misalnya, merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari dan diadakannya pasar malam sebelum perayaannya. Acara ini merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad.

Tentang kebudayaan turunan ini, kalau boleh berpendapat, saya sendiri tidak masalah dengan kebudayaan seperti ini karena memang budaya harus dilestarikan. Yang saya tidak setujui adalah bila dalam pelaksanaan kebudayaan tersebut terselip secara sengaja maupun tidak sengaja dengan unsur syirik (bisa dikatakan menduakan Tuhan), misalnya masyarakat percaya bila mendapat sesuatu saat upacara kirab yang rebutan gunungan itu bila disimpan hidupnya akan aman. Nah, yang menentukan aman atau tidaknya diri kita kan Tuhan, bukan adanya benda dari gunungan itu. Salah satu kekurangan budaya seperti ini adalah adanya hal yang sebenarnya tidak ingin dilestarikan malah terlanjur dilestarikan. Misalnya kalau ngga rebutan gunungan tadi, terus dikantongi dan disimpan, yang belum afdol rasanya. Kadang asimilasi budaya malah menghasilkan sebuah sudut pandang yang berbeda.

Tapi setiap orang pastilah tidak memiliki suatu pandangan yang sama tentang suatu hal, apalagi tentang hal yang satu ini, kepercayaan dan kebudayaan. Agama saya mengajarkan kebaikan dan mengajarkan tentang bagaimana menghargai sesama manusia walaupun itu berbeda kepercayaan. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Dalam hidup berbangsa dan bernegara seperti sekarang, suatu keyakinan dan kebudayaan masing-masing orang tidak boleh kita cela bila tidak sesuai dengan apa yang kita anut dan kita percayai. Yakinlah pada diri sendiri bahwa apa yang kau jalani sekarang adalah benar, bila masih ragu maka carilah mana yang tidak membuatmu ragu. Hidup harus penuh pengertian baik kepada orang lain maupun pada diri sendiri. Dengan adanya sikap toleransi antar umat beragama dan berbudaya, hidup pasti akan terasa lebih nyaman.

(maaf kalau ini postingan nyebut agama, soalnya tugasnya memang disuruh begini, heu heu, sippp)

(opini tugas) Tentang Pancasila

Saat saya mengerjakan tugas esay ini saya sebenarnya lumayan krisis ide. mungkin karena ini esay yang menjabarkan opini, bukan esay yang berupa tulisan dengan sumber yang jelas. Saya (kami) bisa dibilang terbiasa 'hanya' mengcopy-paste sumber dari internet dan memberi sedikit komentar, dan jadilah sebuah artikel. Tapi apakah 'sesulit' ini membuat opini tentang hal yang sangat-sangat dikenal masyarakat (Indonesia) secara luas?

Masyarakat Indonesia (termasuk saya) mengenal Pancasila sejak menduduki bangku sekolah dasar, bahkan mungkin di TK. Hampir bisa dipastikan anak Indonesia hafal (setidaknya tahu) isi Pancasila. Pancasila ada 5 sila (sesuai namanya) yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Ya, mereka hafal. lima sila itu selalu rutin disebut setiap ada upacara hari senin maupun hari nasional. saat SD diajarkan bahwa tiap-tiap sila di Pancasila ini berkaitan satu sama lain. tak lupa dianjurkan untuk berperilaku sebaik-baiknya dengan Pancasila sebagai dasarnya. saat SMP dijeaskan tentang makna Pancasila, Pancasila sebagai pandangan hidup, dasar negara, ideologi, dasar hukum, dan yang lainnya lagi. saat SMA, sebagian (termasuk saya) mulai merasa jenuh dengan pelajaran pkn, yang selalu membahas tentang Pancasila, penjabaran, keterkaitan, dan hal-hal yang mulai berbau politik dan yang lain-lainnya lagi.
bisa dilihat dari nilai rapor mulai tingkat SD sampai SMA.

SD adalah masa dengan nilai paling cemerlang, SMP mungkin naik mungkin turun. lalu SMA bisa dilihat sangat sedikit yang nilainya naik pada mata pelajaran ini, kenapa?

karena murid SD, SMP, dan SMA memiliki pola pikir yang berbeda.

Saat SD, mungkn orientasi kita untuk ke sekolah hanya untuk duduk mendengarkan guru, main, dan mendapat nilai bagus dalam ulangan. Saat SMP, mulai tertarik untuk memahami isi pelajaran dan mencoba untuk mengubah pandangan bahwa sekolah itu sebenarnya bukan untuk nilai, tapi ilmu. Saat SMA, walau belum sadar sepenuhnya, murid mulai mengerti tentang 'dunia' yang sebenarnya. dan mempelajari mata pelajaran kewarganegaraan (terlebih tentang Pancasila) sebenarnya adalah hal yang lumayan menjemukan. Kenapa?

Karena kenyataannya yang dipelajari tidak (pernah) sesuai dengan kehidupan nyata.

Saya membaca di sebuah blog (wahyusetiyono.blogspot.com/2010/05/tentang-pancasila.html?m=1) yang menyebutkan bahwa Pancasila itu sebagai:
1. pandangan hidup
2. jiwa kepribadian bangsa
3. dasar negara
4. sumber segala sumber hukum Indonesia
5. perjanjian luhur bangsa
6. cita-cita bangsa Indonesia

Nilai Pancasila sendiri sangat luhur dan bagus bila dijabarkan. Tapi sekarang masyarakat (khususnya kaum remaja) mungkin jadi menjaga jarak dengan Pancasila. Ini juga akibat dari pengaruh globalisasi.

Nilai pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung arti bahwa sebagai bagian dari sebuah bangsa dan peradaban harusnya mengimani Tuhannya, menyayanginya dengan cara menjauhi larangannya dan menjalankan perintahnya. Kalau saja cukup satu sila, yaitu sila pertama ini ditepati, akan sangat tentram negeri ini karena tidak ada tindak kejahatan samasekali.

Diulang lagi bahwa setiap sila saling berkaitan. Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, merupakan penerapan dari sila pertama. Ketiga, persatuan Indonesia, diharapkan setelah mengimani Tuhan dan menjadi manusia adil beradab bisa dibentuk sebuah persatuan bangsa yang baik dan mapan. Sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, Pada sila kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, nyatanya sangat susah ditemui. Sekarang menemukan petinggi yang adil kepada masyarakat sangat susah ditemukan.

Penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari yang kelihatannya sangat sederhana ini pun ternyata sangat susah. Disebutkan bahwa Pancasila adalah dasar hukum, sumber dari segala sumber hukum. UUD adalah penjabaran dari Pancasila sebagai dasar hukum. Melihat UUD yang lebih terperinci, banyak juga yang tidak menepatinya dan bahkan banyak petinggi yang melanggarnya juga. Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh pemerintah, itu adalah salah satu pasal yang belum ditepati oleh pemerintah sendiri.

Banyak kontroversi, banyak masalah, banyak pertikaian, dikarenakan ada beberapa hal yang menjadi masalah, yaitu tidak meresapi Pancasila yang seharusnya memiliki nilai-nilai luhur di enam poin diatas. Pancasila ada untuk kita (Bangsa Indonesia) dan seharusnya kita sadar itu dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila yang luhur dalam kehidupan sehari-hari yang pastinya akan membuat hidup akan lebih bermakna dan lebih baik.

Minggu, 05 Juni 2011

Ayo Ikuti Norma Berlalu-Lintas!

Minggu, 05 Juni 2011
Gyaaaaa balik ke Solo, itu berarti menjalani rutinitas seperti biasanya yang –yah begitulah. OK, dan di sini saya kembali menggunakan kendaraan bermotor alias sepeda motor. OK, saya akan bahas mengenai ini karena ada hal yang agak mengganjal tentang ini, hiks.

Mau protes tentang pengguna jalan raya yang sekarang makin banyak terjadi. Saya list yaaaaa
è SATU. Kenapa ga matuhin rambu lalu lintas, sih? Banyak banget kendaraan yang udah tau lampunya berubah warna menjadi merah, eh... masih aja nekat nerobos.
èDUA. Banyak banget pengguna kendaraan yang suka banget mainin klakson. Ngerem dikit DIIIIINNNNN agak goyah dikit DIIIIINNNNNN. #pliss, ini jalan raya, jangan suka mainin klakson dong. Saya aja dari SMA kelas satu make sepeda motor bari tiga kali mencet klakson (beneran)
èTIGA. Di kendaraan anda kan ada tuh yang namanya lampu rating (ato reting, ga tau gimana tulisannya), mbok yo dipake to. Bukan kalo mau belok asal-asal nyalip ga ngasih pertanda langsung belok. Ya, saya bingung dong.
èEMPAT. Jangan ngerem mendadak, huhuhu. Saya malah sering hampir nabrak mobil di depan saya gara-gara ngerem mendadak. Motor juga, uda seenak-enaknya ngebut, mau saya salip karena bahaya, eh, ngerem mendadak. Sebel T_T
èLIMA. Hadeeehh... ini berhenti di sembarang tempat. Uda tau jalan macet malah berhenti seenak udel di pinggir jalan dan sukses bikin macet. Mending ga makan tempat, eh ini uda make mobil, berenti di jalan rame, bikin macet, pula.

Oke deh, ini dulu aja yang mau saya sampaikan. Haduh jadi males naek motor -___- mending naek yang lain yang ga usah bikin macet en ribet. OK, cintai peraturan dan jalankan dengan indah. Okeeeh *__* muahh

Selasa, 03 Mei 2011

Tugas PRI 10: asalah perkeretaapian di Indonesia saat ini

Selasa, 03 Mei 2011
Sejarah Perkeretaapian di Indonesia
Diawali dengan pembangunan pertama jalan kereta api di desa Kemijen tanggal 17 Juni 1864. diprakarsai oleh NV.NISM yang dipimpin oleh J.P Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung sepanjang 26 Km dengan lebar 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka pada 10 Agustus 1867. Kemudian tahun 1870 dibangun pula jalan kereta api Semarang-Surakarta sepanjang 110 Km. Pertumbuhan panjang rel meningkat pesat dari tahun 1867 25 Km menjadi 3338 Km pada tahun 1900. Selain di Jawa, pembangunan juga dilaksanakan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, serta Sulawesi.

Kemunduran perkeretaapian Indonesia
Dibandingkan degan kerea api di jepang pada saat itu, kereta api SS jauh lebih maju. Masa tahun 1930-an prestasi kereta api Eendaagsche Express (Ekpress siang) merupakan salah satu rekor dunia. Sejak kehadiran kereta api di Jawa tahun 1867, yang 5 tahun lebih awal dibanding kehadiran kereta api di Jepang. Tahun 1934 kereta api SS sudah mencapai 100 km/jam kemudia n kecapatan kereta mencapai 120km/jam mulai duruntus sekitar tahun 1941 dan perusahan SS sudah mulai merencanakan perjalanan 150km/jam. Pada Jepan, untk kecepatan 110 km/jam baru menjadi kenyataan tahun 1958, dan kecepatan 120 km/jam tahuun 1968.

Bandingkan saat ini. Kecepatan maksimum KA yang diperbolehkan saat ini hanya 90km/jam. Artinya jauh dibawah kemampuan lokomotif yang mampu melaju dengan kecepatan 120 km/jam. Semua peralatan mutakhir yang dimiliki perkeretaapian Indonesia ternyata tidak membawa kemajuan transportaasi kereta api jika tolak ukurnya adalah kecepatan.

Jika mengacu pada tolak ukur pelayanan, maka perusahaan SS sebelum perang kemerdekaan kondisinya lebih baik dibanding sekarang. Kesimpulan itu diperoleh dari data frekuensi operasional sarana lokomotif, kereta dan gerbong per kilometer masa perusahaan SS masih lebih tinggi dibanding kondisi sekarang.

Kereta api di Indonesia Masa Kini
Sebagai sarana transportasi yang paling diserbu masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah, kereta api kelas ekonomi ternyata kirang mendapat perhatian dari pemerintah. Masih banyak hal yang memprihatinkan dalam pengelolaan KA ekonomi seperti diterapkannya sistem kanibalisme komponen KA ataupun sistem 4.1 yaitu dimana setiap empat gerbong, hanya satu gerbong yang dilengkapi REM. Belum lagi WC umumnya yang sangat tidak sehat karena ketiadaan air sehingga dapat menjadi tempat penularan penyakit.

Jika dilihat dari keadaan sekarang, hal-hal yang mengkhawatirjan keselamatan penumpang pun banyak kita jumpai. Menurut catatan Railway kecelakaan KA sepanjang tahun 1990 hingga 2003 telah merenggut 2771 jiwa. Angka ini tentu saja membengkakdalam kurun waktu 4 tahun kemudian, mengingat banyaknya kecelakaan KA seperti yang diakibatkan karena tanah longsor.

Hal yang membahayakan lainnya adalah kenyataan bahwa rel, bantalan rel hingga sinyal adalah warisan penjajahan Belanda (Kompas, 11 Desember 2004). Import KA bekas Jepang 20 tahunan yang suku cadangnya tidak diproduksi lagi pun menjadi hal yang memprihatinkan. Kegiatan import ini tentu saja mematikan produktivitas PT INKA Madiun akibat pola pikir jangka pendek kita.

Jika pengelolaannya jujur dan transparan, sebenarnya banyak jalan, cara, dan dana bagi pemerintah untuk membenahi perkeretaapian Indonesia.

Peningkatan jumlah penummpang KA tentu saja menyebabkan peningkatan jumlah pendapatan perusahaan bersangkutan. Tapi kenapa kita tidak bisa memproduksi kereta api sediri dan mengimpor kereta bekas dari luar? Di Indonesia terdapat pabrik Baja Krakatau Steel tapi kenapa kejadian ini masih saja terulang? Seharusnya kegiatan ini dihentikan agar tidak mengorbankan jiwa para penumpang.

Pengelolaan KA harus dibenahi, sarana juga harus di perbaiki. Semua sebenarnya tidak susah untuk terwujud jika ada suatu kecerdasan, kekuatan niat, dan keberanian pihak pemerintah untuk melakukan suatu perubahan.


Tanggapan saya mengenai Kereta Api di Indonesia
Melihat dari beberapa bacaan di Internet dan koran, saya pun memiliki pandangan dan pendapat untuk perkereta apian di Indonesia.

Saya asli Solo dan belajar di Bandung. Setiap akan berangkat dari Solo, saya menaiki kereta api Lodaya dari Stasium Solo Balapan yang berangkat pukul setengah sembilan malam. Tiket seharga Rp110.000,00 harga ini naik dari Rp100.000,00 sebelum lebaran 2010. Saat berangkat selalu tepat waktu, namun waktu sampai di Stasiun Hall Bandung selalu tidak tepat waktu. Selalu saja terlambat entah setengah sampai satu jam. Agar tidak memberi harapan palsu, hendaknya di tiket ditulis saja jamnya lebih. Dengan begitu penumpang tidak akan merasa resah kenapa pada jam yang ditentukan belum juga sampai.

Saya menyayangkan, sekitar pukul satu malam kereta api selalu saja ngetem di stasiun tertentu selama kurang lebih satu jam. Entah tujuannya apa. Dan selama itu pun banyak pedagang yang bersliweran serta berteriak mejajakan dagangannya, padahal itu pukul satu malam dimana banyak orang yang terlelap tidur.

Saat saya naik kereta dari Solo ke Jogja, saya menaiki kereta Pramex dengan tiket Rp7.500,00. Pramex terakhir yang saya naiki adalah kereta baru yang susunan duduknya seperti didalam bus transJakarta. Cukup nyaman dan bersih. Perjalanan Solo-Jogja memakan waktu dua jam. Walaupun titelnya kereta bisnis, ada juga yang tidak kebagian tempat duduk. Harus berdiri, bahkan pernah saat liburan saya menaiki kereta Pramex sampai duduk di lantai saja tidak bisa saking penuhnya. Saat itu, lucunya tidak ada pengecekan tiket seperti saat saya naik kereta yang lainnya. Petugas hanya mengatakan, “Mana tiketnya?” penumpang lalu mengacungkan tiket. Petugas berkata lagi, “Pada bawa semuanya kan? Yasudah,” lalu pergi. Ibu dan Bapak saya hanya berkata pelan, “Nah, kalau ada yang ndak bawa tiket bagaimana?”

Saat naik kereta dari Solo ke Semarang, saya menaiki kereta ekonomi dengan harga Rp13.500,00. Sudah terbayang menaiki kereta ekonomi dengan rentang waktu 3 jam pasti akan bejubel. Ternyata benar. Lagi-lagi kereta bejubel dengan penumpang tak hanya manusia. Ada ayam juga ikut merasakan panasnya udara kereta ekonomi. Lucunya lagi, si kereta berhenti bukan hanya di stasiun, tapi juga berhenti di tempat sepi tertentu untuk menarik penumpang. Si kereta ngetem.
“Buk, kenapa keretanya berhenti?”
“Lah, biasa itu. Kereta ekonomi memang seperti itu,”
Waduh. Menarik penumpang tanpa tiket dan tidak di stasiun. Kok rasanya aneh ya? Kereta kan beda dengan bus yang bisa menarik penumpang dari terminal maupun jalan?

Saya jadi agak ngeri saat membayangkan saat musim mudik lebaran. Teman saya yang berumah di Jombang dan Blitar, mereka menaiki kereta ekonomi entah Pasundan maupun Kahuripan. Di ceritanya mereka masih mendapat tempat duduk namun banyak sekali yang tidak mendapat tempat duduk. Mereka berangkat setelah sahur langsung ke Stasiun untuk membeli tiket. Tiket ekonomi dibeli pada hari H nya.

Selain tempat yang kurang nyaman, bisa saya bilang kereta ekonomi itu rawan pencopetan. Banyak teman saya yang hampir menjadi korban pencopetan. Bapak saya melarang saya naik kereta ekonomi saat pulang ke Solo karena keamanannya diragukan. Jangan sekali-kali naik kereta ekonomi sendiri tanpa teman, walau saya pulang dengan teman pun, bapak tetap tidak akan mengizinkan saya naik kereta ekonomi.

Mengenai komentar-komentar tentang WC yang tidak nyaman tersebut saya belum pernah membuktikan karena memang saya tidak pernah menilik keberadaan kamar mandi di dalam kereta. Bisa dibilang saat saya menaiki kereta Lodaya yang pintunya dekat WC, sudah tercium aroma mencurigakan. Saya lebih nyaman untuk pergi ke WC stasiun yang lumayan bersih walaupun harus membayar seribu rupiah setiap kali masuk.

Begitulah komentar saya tentang perkeretaapian di Indonesia. Seharusnya pemerintah juga menanggapi pelayanan kereta ekonomi yang morat-marit seperti itu. Saya juga setuju dari pernyataan di artikel di atas tentang penghentian impor kereta bekas dari luar negeri. Kenapa Indonesia tidak berusaha membuat sendiri tanpa harus menjadi tong sampah kereta impor yang kondisinya meragukan?

Mari kita sama-sama mengubah persepsi bahwa Indonesia bukan negara yang memiliki kemampuan baik. Indonesia juga bisa. Indonesia juga dapat melakukan sesuatu yang baik seperti negara maju lainnya. Indonesia hanya kekurangan percauya diri, percaya bahwa Indonesia juga bisa.


Sumber

Tugas PRI 9 : Campur Tangan Pihak Swasta dalam Sistem Infrastruktur dan keterlibatan pemerintah dalam menanganinya serta keuntungan dan kerugian yang dirasa oleh masyarakat.

Seberapa jauh pihak swasta mencampuri pihak pemerintah? Kali ini penulis akan membahas tentang keterlibatan pihak swasta di pihak pemerintah dalam pengelolaan sumber air bersih (PDAM).

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, pengelolaan sumber air bersih di Kota Bandung ini dikelola oleh PDAM Tirtawening. Tapi apakah itu cukup? Kenyataan mengatakan lain. Masyarakat banyak yang memilih untuk tidak memercayakan perihal pengelolaan air bersih ini. Masyarakat lebih senang untuk membuat sumur bor dan berfoya-foya dengan air tanah yang jumlahnya semakin menurun.

Di daerah Plesiran, sebagian besar masyarakat menggunakan air tanah padahal lokasi PDAM tidaklah jauh. Mengapa itu dapat terjadi? Jawabannya adalah karena pelayanan PDAM kurang memuaskan dan juga wilayah cakupan kurang luas.

Pelayanan PDAM yang kurang memuaskan ini bukan berarti tidak beralasan. PDAM adalah Badan Usaha Milik Negara, yang jika menginginkan perubahan harus menunggu kucuran dana dari atas yang tak kunjung tiba. Pelayanan yang kurang baik dikarenakan fasilitas yang ada seperti saluran air dan pipa serta infrastruktur yang lainnya sudah dalam kondisi yang tidak pantas.

Sampai dengan tahun 2009 cakupan pelayanan air bersih di kab. Bandung baru 20% yang terlayani Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di perkotaan, dan dinas pemukiman tata lingkungan dan kebersihan (dispertasih) di wilayah perdesaan. Sedangkan pemakaian air sumue terlindungi meningkat drastics mencapai 30,08% dari sebelumnya tahun 2008 sebesar 0,63%.

Dari masalah di atas, banyak masyarakat yang menggunakan air tanah yang penggunaannya tidak terkendali. Padahal, penggunaan air tanah yang berlebihan dapet menimbulkan berbagai masalah. Masalah yang paling pokok adalah sebagai berikut:
a.       Penggunaan air tanah pribadi tidak terkontrol
Pemakaian air tanah secara pribadi membuat pemakaiannya tidak terkontrol. Pemakaian air tanah dengan sumur pribadi tidak akan dipungut biaya seperti jika kita berlangganan air dari PDAM. Dengan tidak ada pengukuran kuota air yang digunakan, akan membuat penduduk yang menggunakan air tanah berbuat semena-mena. Semena-mena dalam artian memakai tidak dengan aturan. Manajemen air akan buruk dan akan terjadi pemborosan air secara besar-besaran oleh penduduk.

b.      Turunnya tinggi permukaan tanah
Penggunaan air tanah yang tidak bijaksana akan membuat keadaan alam akan berubah. Air tanah terletak di lapisan tanah bawah. Bila ada penyedotan air tanah yang berlebihan, akan menghilangkan lapisan air tanah di tanah, dan akan mengakibatkan space tersebiut kosong dan akan mengakibatkan penurunan tinggi permukaan tanah secara bertahap maupun tiba-tiba.


Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa disinilah peranan swasta sangat penting, yaitu membangun iklim persaingan yang sehat antara pemerintah dan swasta dimana masyarakat pengguna layanan sebagai jurinya.

Pelayanan PDAM di Bandung sendiri baik kota maupun kabupaten memang kurang memuaskan karena hanya ada satu perusahaan yang memonopoli semuanya. Tidak ada pihak swasta yang ikut andil dalam hal ini. Kita coba mengambil contoh lain yaitu di daerah Jakarta khususnya Jakarta Barat yang pengelolaan air bersihnya dicampuri oleh pihak swasta.

Di daerah Jakarta Barat, PDAM mendapat saingan, yaitu PT PAM Lyonnaise Jaya atau bisa disebut Palyja. PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) hadir di Jakarta untuk meningkatkan penyediaan dan pelayanan air bersih kepada masyarakat di sekitar wilayah barat DKI Jakarta sejak 1 Februari 1998 melalui 25 tahun kerjasama dengan PAM jaya. Palyja merupakan bagian dari Suez Environment, lini usaha grup GDF SUEZ-Perancis yang bergerak di bidang air, pelayanan limbah, peralatan terkait yang penting bagi kehidupan sehari-hari dan pelestarian lingkungan dan juga merupakan bagian dari PT Astratel Nusantara, lini usaha grup ASTRA-Indonesia yang bergerak di bidang infrastruktur.

Sejak tahun 1998, Palyja telah berhasil meningkatkan akses air bersih menjadi lebih dari 419 ribu sambungan bagi lebih dari tiga juta penduduk di wilayah Barat. PAM Jaya (Palyja) juga mensubsidi air yntuk kebutuhan Hydrant Subdin Pemadam kebakaran. Harga per meter kubik air untuk penyemprotan air adalah Rp 1050,00 padahal idealnya adalah Rp 7000,00 berarti PAM jaya (Palyja) memberikan subsidi kurang lebih sebesar Rp 6000,00

Dari keterangan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa pihak swasta juga dapat mengambil peran dalam hal ini.

Lalu, bagaimana  tanggapan masyarakat?
Masyarakat selalu menanggapi positif akan hal yang baik. Tapi masalah yang timbul bukan fasilitas, namun sarananya. Sebaik-baik infrastruktur jika tidak didukung oleh sarana yang baik akan sia-sia.  Dalam hal ini, permasalah terbesar adalah kurangnya sumber air bersih yang akan dikelola.

Wahana lingkungan hidup indonesia (WALHI) Jakarta menilai ancaman krisis air bersih di ibu kota terjadi karena buruknya pengelolaan badan air meliputi aliran sungai dan sanitasi kota serta sejumlah situ yang tercemar limbah sangat parah. Direktur Eksekutif WALHI Jakarta Ubaidilah mengatakan tingkat pencemaran yang sangat tinggi mengakibatkan 13 aliran sungai hingga kanal banjir barat dan timur serta situ yang ada di jakarta tidak bisa dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk diolah menadi air bersih.

Jakarta selama ini mengandalkan air kiriman dari waduk Jatiluhur, air curah dari Tangerang dan mengolah air dari Kali Krukut namun air bersih yang didapat dari kedua sumber itu tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga Jakarta.

Ketua komisi B DPRD DKI Jakarta, Nurdin, mengatakan bagi kawasan utara Jakarta, PAM Jaya perlu merintis teknologi penyulingan air laut menjadi air bersih. Meskipun mahal, teknologi ini mampu menyediakan air bersih dalam jumlah yang besar dan cepat sehingga kawasan utara Jakarta tidak selalu dikorbankan dalam penyediaan air bersih. Di utara Jakarta terdapat banyak aktivitas komersial yang bersedia membayar air bersih dengan tarif lebih mahal tetapi pasokannya harus terjamin

Sulit untuk membangun penampungan ait di wilayah Jakarta karena tidak ada lahan yang luas dan air sudah terlanjut tercemar. Lebih mudah membbuat penampungan air di kawasan hulu seperti Tangerang atau Bogor karena lahan yang tersedia lelbih luas dan air belum terlalu tercemar. Air di penampungan itu juga dapat digunakan oleh PDAM setempat.

Lalu, bagaimanakah peran pemerintah dalam menanggapi hal ini?

Baik disadari maupun tidak, pemerintah selalu melakukan perbaikan di sana-sini. Pemerintah juga memiliki rasa untuk membangun Indonesia menjadi lebih maju. Dengan adanya pihak swasta tersebut, diharapkan perbaikan atas infrastruktur dan peran pemerintah lebih kentara.

Pihak swasta memang hampir merajalela kemana-mana, tapi lihatlah, walau hampir bobrok, infrastruktur pemerintah juga masih ada. Itu tandanya pemerintah juga masih peduli dengan keadaan rakyatnya. Secara tidak langsung pemerintah juga tidak ingin rakyatnya diurus oleh pihak swasta. Walau mendapat bagian kecil pun, pemerintah juga tetap harus ikut andil.

Misalnya jika hanya ada perusahaan swasta yang memonopoli suatu sarana, maka akan ada berbagai kejadian yang berdampak tidak baik:
a.       harga barang/jasa yang dijual tersebut dapat dimainkan
Dengan kata lain, jika suatu perusahaan menguasai suatu pasar, maka harga pasar pun akan ia kuasai. Bisa jadi pihak swasta membuat harga yang terlalu tinggi.

b.      terjadi penimbunan barang
Baik pemerintah maupun swasta bila ada kesempatan menjual suatu barang yang lumayan langka, pasti akan ditimbun. Apa tujuannya? Tujuannya adalah membuat iklim langka yang secara langsung akan meningkatkan harga barang tersebut menjadi di atas harga sebelumnya.

Tanpa pemerintah pun kita akan sengsara, karena secara tidak langsung masyarakat akan kehilangan tameng dari dalam.

Dengan dibangunnya infrastruktur dengan fungsi yang sama oleh pihak swasta, maka akan tercipta iklim persaingan yang sehat. Mau tidak mau, pemerintah harus bersaing dengan pihak swasta bermodal ini. Pihak pemerintah akan berupaya untuk menunjukkan sebaik yang ia punya. Swasta juga melakukan hal yang sama. Jika iklim persaingan sudah ketara, maka masyarakat datang untuk menentukan siapa yang terbaik. Siapa yang terbaik disini dapat dilihat dari jumlah pelanggan yang menggunakan jasa infrasruktur tersebut.

Pemerintah berupaya untuk memperbaiki diri agar masyarakat tidak lari dan memilih pihak swasta sebagai fasilitatornya.

Sejauh ini memang kebanyakan infrastruktur pemerintah masih menang. Masyarakat beranggapan lain dengan adanya persaingan ini. Banyak juga yang memilih menggunakan infrastruktur pemerintah dengan alasan ada jaminan dari negara. Kalau mereka menggunakan fasilitas dari swasta, jaminannya masih sulit didapat.

Ada juga masalah harga. Biasanya fasilitas yang diberikan oleh pemerintah itu akan mendapat subsidi, sedangkan pihak swasta tidak. Dengan kualitas yang sama, kita akan mendapati harga yang lumayan mencolok dari pihak swasta dan pemerintah.

Campur tangan pihak swasta dalam sistem infrastruktur dan keterlibatan pemerintah dalam menanganinya, pastinya harus ditanggapi oleh masyarakat dengan positif. Secara langsung maupun tidak langsung, persaingan ini pun akan menguntungkan masyarakat sekitar sebagai pengguna fasilitas ini.

Referensi:

Tugas PRI 6: Perluasan Wilayah Cakupan PDAM di Bandung

Sampai dengan tahun 2009 cakupan pelayanan air bersih di kab. Bandung baru 20% yang terlayani Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di perkotaan, dan dinas pemukiman tata lingkungan dan kebersihan (dispertasih) di wilayah perdesaan. Sedangkan pemakaian air sumue terlindungi meningkat drastic mencapai 30,08% dari sebelumnya tahun 2008 sebesar 0,63%.

Dari kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa memang cakupan daerah PDAM di Bandung memang masih kurang, karena itu saya dari TIM Pro mendukung perluasan wilayah cakupan PDAM di Bandung kota maupun kabupaten. Dari atas juga dapat dilihat bahwa jika cakupan PDAM tidak diperluas, maka penggunaan air tanah di Bandung akan meningkat drastis.

Apa akibat dari peningkatan pemakaian air tanah yang terlalu ‘bebas’?

Pemakaian air tanah secara bebas memiliki beberapa akibat yang merugikan baik untuk diri sendiri maupun orang umum. Berikut ini ada beberapa akibatnya:
a.       Penggunaan air tanah pribadi tidak terkontrol
Pemakaian air tanah secara pribadi membuat pemakaiannya tidak terkontrol. Pemakaian air tanah dengan sumur pribadi tidak akan dipungut biaya seperti jika kita berlangganan air dari PDAM. Dengan tidak ada pengukuran kuota air yang digunakan, akan membuat penduduk yang menggunakan air tanah berbuat semena-mena. Semena-mena dalam artian memakai tidak dengan aturan. Manajemen air akan buruk dan akan terjadi pemborosan air secara besar-besaran oleh penduduk.

Masalah ini bukan murni kesalahan penduduk, bisa saja penduduk menggunakan air tanah karena cakupan PDAM belum sampai di daerahnya. Saya mendukung agar PDAM memeprluas cakupannya sampai kabupaten. Perluasan wilayah cakupan akan membantu masyarakat dalam memanajemen air agar dapat digunakan lebih baik dan bijaksana. PDAM juga akan membantu masyarakat dalam berhemat air, karena jika menggunakan jasa PDAM, akan dipungut biaya air per meter kubiknya. Ini akan membuat masyarakat berfikir dua kali untuk menggunakan air.

b.      Turunnya tinggi permukaan tanah
Penggunaan air tanah yang tidak bijaksana akan membuat keadaan alam akan berubah. Air tanah terletak di lapisan tanah bawah. Bila ada penyedotan air tanah yang berlebihan, akan menghilangkan lapisan air tanah di tanah, dan akan mengakibatkan space tersebiut kosong dan akan mengakibatkan penurunan tinggi permukaan tanah secara bertahap maupun tiba-tiba.

Gambar di atas menunjukkan letak air tanah permukaan. Air tanah permukaan ada karena siklus hidrologi yang terjadi seperti gambar di atas. Dari hujan, evaporasi, kondensasi, hujan, ke tanah, lalu mengalir ke laut. Misalnya hari ini hujan di Lembang, baru seratus tahun kemudian air tersebut sampai di Bandung. Air tanah permukaan (air tanah lapisan atas) akan selalu bergerak dan membutuhkan siklus yang panjang. Jika digunakan secara berlebihan, hal buruk selain turunnya tinggi permukaan tanah. Juga akan mengganggu siklus tersebut, mengganggu kembalinya air ke laut dan menjadi hujan.

Perluasan PDAM sangat diperlukan untuk membantu memanajemen sumber air baku yang masih ada. Seperti yang telah dibahas pada poin di atas, PDAM akan mengatur penggunaan air pada penduduk. Dengan dibangun pipa-pipa penyaluran air bersih dan kotor, maka pengolahan air akan semakin baik. Penggunaan air bersih yang teratur akan membuat sumber daya air tanah lebih terjaga. Pengolahan air juga akan lebih baik karena termanajemen dengan baik. Jika masyarakat atau penduduk tidak menggunakan layanan PDAM, maka secara otomatis mereka juga tidak akan mendapat pelayanan penyaluran air kotor. Penduduk akan mengurus air kotor nya sendiri. Bagaimana caranya?

Sebagian dari masyarakat yang tidak berlangganan PDAM akan membuang air kotornya ke sungai melalui pipa langsung dari rumahnya. Ini mengakibatkan sungai menjadi tercemar dengan limbah rumah tangga. Seharusnya air kotor tersebut sebelum dibuang harus diolah terlebih dahulu agar kadar racun atau zat aditif lainnya berkurang drastis, bukan langsung keluar menuju sungai.

Mencemari sungai berarti merusak ekosistem yang berada di dalamnya. Sungai yang tercemar akan mengganggu kehidupan organisme yang hidup di dalamnya, baik organisme mikro maupun organisme makro. Adanya zat fosfat (dari detergen) akan mengakibatkan pertumbuhan alga meningkat. Pertumbuhan alga yang meningkat tajam akan mengakibatkan alga tumbuh menyebar luas di permukaan sungai. Itu akan menghalangi sinar matahari yang masuk ke dalam sungai. Itu akan membuat kehidupan organisme di dalam air akan kekurangan sinar matahari dan mati. Ekosistem sungai perlahan akan rusak dan lama kelamaan akan hilang atau mati.

PDAM harus menekan angka kehilangan air yang saat ini masih cukup besar. Hingga kakhir tahu ini angka kehilangan air masih ada pada poosisi di atas 33%. PDAM memiliki target harus mencakup 80% pelayanan air bersih dan 70%  air limbah seiring peogram MDG’s tahun 2015.

Kasus kehilangan air diakibatkan karena adanya kebocoran pipa air. Hal ini akan diperbaiki secepatnya seiring dengan perbaikan kualitas dari PDAM. Target yang dibuat PDAM pasti juga akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Jika masyarakat masih menggunakan air tanah, ada beberapa kerugian lagi yang akan muncul. Salah satunya adalah tercampurnya air bersih dan air limbah.

Dengan pengolahan yang kurang baik, maka akan terjadi masalah yang cukup serius. Seperti yang dibahas di atas, air limbah dan air bersih akan terccampur. Idealnya sumber air bersih dan tempat limbah berjarak sekurang-kurangnya 10 meter. Dalam kehidupan sehari-hari di Bandung ini, pasti hal tersebut hampir mustahil dilaksanakan karena daerah Bandung banyak ditemukan kompleks rumah padat penduduk yang bahkan panjang lebarnya tidak mencapai 10 meter.

Akibat dari hal tersebut adalah, limbah dari septic tank akan mencemari air tanah yang dekat tersebut. Kita juga mengetahui bahwa limbah dari septic tank tersebut mengandung bakteri e-coli yang dapat menyebabkan berbagai penyakit yang berhubungan dengan penyakit pencernaan.

Dilihat dari masalah tersebut, kita ternyata masih butuh bantuan tenaga ahli untuk mengurus itu semua.


Perluasan cakupan PDAM, mensejahterakan masyarakat

Perluasan cakupan PDAM di daerah pinggiran akan mensejahterakan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung itu pasti akan mempermudah masyarakat untuk memperoleh layanan air bersih, dan secara tidak langsung akan menyelamatkan organisme lain karena menjaga lingkungan secara teratur.

Pelayanan PDAM di daerah pinggiran akan sangat membantu masyarakat. Sebelumnya mereka menggunakan air sumur, air sungai, bahkan air hujan. Jika sumur kering, sungai kotor, dan hujan tidak turun, mereka akan bingung. Dengan dibangun pelayanan PDAM yang mencakup daerah tersebut, maka akan sangat membantu masyarakat. Mereka akan sangat merasa diuntungkan dengan kebijakan tersebut. Dengan dibangun PDAM, mereka tidak perlu susah-susah mencari air, karena di rumah mereka tersedia air yang selalu mengalir dengan deras melalui pipa-pipa air yang dipasang oleh petugas PDAM.

Dengan adanya layanan air bersih, pasti layanan air kotor pun akan diusahakan. Dengan begitu, masyarakat juga akan merasa diuntungkan karena limbah yang dulunya dibuang sembarangan akan menjadi teratur karena pembuangan limbah diatur dengan manajemen yang baik.

Saya setuju dengan perluasan wilayah cakupan PDAM di daerah pinggiran karena berbagai faktor di atas. Pembangunan sarana dan prasarana tersebut akan membantu kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan layak.

Ke depan, PDAM harus bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Tidak hanya air bersih, penanganan air kotor/limbah pun akan ditingkatkan. Dalam waktu dekat PDAM akan membangun jaringan pipa air kotor yang disalaurkan le saluran pengolahan air limbah di Bojongsoang. PDAM melakukan hal itu setelah mendapat bantuan dana hibah dari AUSaid sebesar Rp 7,5 miliar. Proses pembangunan instalasi itu akan dimulai awal 2011.




アイサ の ノート © 2014