Pages

Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 April 2015

Short Story - Acrophobia

Sabtu, 04 April 2015
Heiho, ini saya mau share cerpen saya, yang di bikin untuk tugas SMA. iya, karena saya dulu orangnya alay *eh* jadinya cerpennya acakadut sok nyastra gitu :"""3 silakan yang punya waktu luang, dibbaca dibaca. ini dibikin *ehem* enam tahun lalu (ketauan tuanya deh :""" haha). belum tau teknik nulis yang baik, dan pemilihan topik yang baik. saya aja habis baca ulang jadi ngerasa bingung inti ceritanya apa hahaha :"""D

Acrophobia

Aku menatapnya sesaat. ”Kau serius?” dia hanya mengangguk. ”Daripada kurang kerjaan gitu mending aku antar kau ke psikiater,”
”Nggak berhasil. Sama-sekali-nggak-berhasil,” dia menekankan perkataannya pada setiap kata. Aku menentangnya ketika dia memberi ide akan pergi ke tukang hipnotis untuk menghilangkan phobianya. ”Sudah lebih dari delapan belas kali aku pergi ke psikiater dan hasilnya nihil.”
”Maaf kalau boleh tahu, penyebabnya apa sampai sampai kau terlalu takut dengan hal yang tak perlu kau takuti?” Aku bertanya dengan-sangat-hati-hati, agar dia tak tersinggung.
”Hufth....” dia menerawang, seperti memutar kembali apa yang sudah pernah direkam oleh otaknya tanpa mengatakan sesuil kata pun untukku.
***

”Ayo ke sini kalau bisa...” Kaka terus berlari, berlari menjauhiku. Padang ilalang sore ini terasa sangat ramai, padahal hanya ada aku dan Kaka.
”Hey, tapi itu kan punyaku, kau tak berhak mengambilnya!” Aku mulai berlari mengejar Kaka. Dari jarak sepuluh meter dia melambai-lambaikan topi merah berenda. Itu topiku, topi pemberian nenek yang katanya asli buatan Maroko. Topi itu istimewa karena katanya lagi, topi itu hanya ada di Maroko karena bahan baku topi itu hanya tersedia di Maroko. Topi Fest.
”Heeeeyyy!!!! Kubilang berhenti!!!!!!!” Lagi-lagi aku berteriak dan mulai melempari Kaka dengan batu-batu kecil. Dia tetap tak mau berhenti. Tiba-tiba satu menit kemudian, dia ’ditemukan’ sedang duduk di atas lantai rumput. Matanya menerawang.
”Kau sedang apa?”Aku mulai mendekatinya. Perlahan-lahan ku julurkan tanganku untuk merebut topi yang ada di tangannya. Aku gagal. Dia cekatan sekali. ”Kenapa tak kau kembalikan saja topiku?”
”Kenapa tak kau kembalikan saja tpoiku,” dia mengulangi perkataanku tadi. Kemudian Kaka mulai berlari lagi. Kulihat angin berhembus dari arah berlawanan, dan topiku pun terbang menjauh.
”Kau menghilangkannya..” aku mulai terisak. Kulihat dia merasa sangat bersalah. Dia mungkin tahu apa yang harus ia perbuat.
”Aku akan mencarikannya untukmu,” Dia menarik tanganku dan berkeliling untuk mencari topiku.
Setelah sekian menit dan sekian detik, akhirnya ketemu juga. Topi itu tersangkut di pucuk dahan sebuah pohon yang sudah mati. Kaka berlari kegirangan. Aku lebih lagi.
”Tunggu aku ya,” Kaka mulai berlari menjauhiku dan mendekati pohon itu. Dengan piawai ia memanjatnya, kemudian dia mengambil topi, dan kemudian lagi dia melemparkannya tepat ke arahku. Aku tersenyum.
Kaka mulai turun, tapi ternyata kakinya terpeleset dan jatuh. Aku mendekatinya untuk membantu berdiri.
”Kaka, kau tak apa?” aku berteriak sambil terus berjalan mendekat. Kulihat dia hanya tertawa kegirangan dan mulai berlonjak-lonjak di atas tanah.
”Jangan berdiri dulu, nanti jatuh,” aku memperingatkan, karena memang di belakangnya terdapat jurang yang dalam.
Aku mendekat dan ’akan’ menggapai tangannya. Tapi tiba-tiba tanah yang dipijak Kaka terlihat retak, dan BRAK!
Aku pusing, tak bisa ku jelaskan apa yang kulihat sepersekian mili detik yang lalu. Aku menatap ke bawah. Aliran air mengalir, menyapu sisa reruntuhan tanah...
***
            ”Bagaimana kalau kita main ayunan?” Aku menyarankan sesuatu yang mungkin bisa membantu permasalahan yang dihadapinya.
            ”Ha? Ayunan?” dia menatapku konyol. OK. Ide gila. Usia enambelas tahun bermain ayunan? Hal yang konyol.
            ”Ha..ha.. aku juga. Dapat ide dari mana ya?” Aku malah bingung. ”Okelah kalau begitu permainan apa yang sekarang kau inginkan?”
            ”Permainan?” dia terlihat bingung. OK lagi lah, aku memang orang yang membingungkan. Sial.
            ”Hm...apa ya,” aku terdiam sesaat. Suasananya sekarang agak kaku. Aku tak tau harus berbuat apa. Salah-salah aku membuatnya berteriak dengan apa yang ada di kepalaku. Aku ingin main Flying Fox. Hah, nyari mainan kaya gitu ada di mana coba? Dan satu masalah lagi, tak mungkin aku mengajaknya karena dia seorang Acro.
            ”A..hm..” dia juga berfikir. ”Sebenarnya aku mau bilang sesuatu,”
Kalimat itu dibaca dengan terbata-bata. Mungkin ada suatu rahasia yang ingin ia sampaikan kepadaku. Sangat rahasia, sampai-sampai saat ini tubuhnya mendepet tubuhku. ”Kita kan sama-sama perempuan, jangan menatapku seperti itu. Aku nggak akan melakukan sesuatu padamu,” dia menatapku tak percaya ketika aku mengeluarkan reaksi dengan tatapan agak aneh. ”Kau Venustraphobia  ya,”
            ”Hem?” aku bingung. ”Apa maksudmu?”
            ”Takut wanita cantik,” dia tertawa. Ha,Ha, dan Ha… lucu sekali.
            ”Apa yang akan kau katakan?” Aku membuka pembicaraan. Lagi.
            ”Aku mau m-e-n-g-h-i-l-a-n-g-k-a-n acrophobia ku. Kau mau membantuku?”
Aku terdiam. “Temtu saja. Tapi apa yang harus aku dan kau perbuat?” bingung.
            ”Hm..” dia berfikir sejenak. ”Bagaimana kalau begini?” dia membisikkan sesuatu padaku.
            ”Hah, ternyata bukan ide gila. Kukira kau mau berlatih bungee jumping,” aku terbahak. ”Ok. Kapan kau mulai?”
***

Minggu pagi yang cerah. Seperti minggu-minggu sebelumnya, aku dan dia mulai berjalan-jalan untuk menghilangkan hal yang tak perlu ditakuti-nya. Minggu kemarin, seperti mengulang masa kecil. Aku dan dia ’belajar’ untuk naik dan turun tangga. Kemudian eskalator, dan kemudian lagi naik lift berdinding hitam, dan lagi, mencoba meningkat ke dinding transparan.
Sepertinya keadaannya mulai membaik. Dia tak lagi takut naik ’ayunan’. Hah. Hal konyol pertama yang kusarankan untuknya di hari pertama terapi alaLIA-ku. Tapi anehnya kenapa dia menerima ajakanku untuk bermain ayunan. Suatu sore di taman anak-anak... dia dengan rasa bahagia menaiki ayunan –walau beberapa kali saat percobaan pertama ia berteriak histeris dan ingin turun– dan tidak merasa bahwa beberapa pasang mata anak balita melihatnya dengan tatapan aneh. Fine. OK. Latihan yang menyenangkan.
***

Minggu keempat latihan. Hari yang melelahkan. Dia mengajakku ke Mall.
”Ok. Kau mau apa lagi?” aku lagi -dan lagi- lagi membuka pembicaraan. Selalu aku. Yah, karena dia memang pendiam.
”Hm... apa ya?” Dia berfikir sejenak. ”Minggu yang lalu naik lift, yang lalunya lagi naik eskalator, yang lalunya lagi naik ayunan. Sekarang?” Dia memandangku dengan tatapan menggoda. Aku memasang wajah muram. Berteman dengan acro memang kurang menyenangkan. Cukup hiperbolis kurasa. Huft. Dan sekarang setidaknya dia mengerti apa yang kurasa.
”OK. Aku janji, ini minggu terakhir aku mengganggumu,” Dia menatapku. Aku tersentak. Dia betul-betul paham.
”Heuhm...”aku berdeham untuk menghilangkan kecanggungan. ”Ayo kita mulai latihannya lagi. Kau mau apa?”
”Bagaimana kalau naik ke lantai paling atas Mall ini?” Dia memandangku. Aku tak percaya.
”Kau berani?” Aku masih syok. Kulihat dia mengangguk mantap. ”...tapi jangan lihat ke bawah ya,”
Akhirnya jadi juga. Latihan terakhir untuk sang acro. Pasti jadi hari yang bersejarah. Dia sudah berusaha maksimal. Walau terapi yang dia lakukan denganku ini sedikit aneh, tapi berhasil juga.
”Wa... aku berhasil sampai atas,” Dia megucapkan kata bahagia itu dengan cara yang tidak wajar.
”Bagaimana perasaanmu?” Aku ikut bahagia walau aku tak yakin dengan nada ucapannya.
”Hm..ya...” Dia menerawang. Di otaknya mungkin sedang diputarkan drama monumental di sepanjang hidupnya.  Mungkin apa yang menyebabkan dia menjadi acrophobia. Aku tak tahu. Itu hanya dugaan.
”Hola?” aku mengayunkan tanganku di depan mukanya. Dia tersadar dari lamunannya.
”Hm.. ya,” Dia terdiam lagi. “Kurasa saat ini aku merasa bahagia,” Dia tersenyum. Aku jadi tak tega pernah menganggapnya kurang menyenangkan. Aku tak bisa menyalahkan kelainan yang ada di dirinya. Semua ini bukan atas kehendaknya. “Li, aku mau minta maaf kalau selama ini aku membuatmu kecewa atas kelakuanku, atas semua kebodohan yang pernah kulakukan, yang selalu membebanimu, yang..”
“STOP!”Aku tak tahan mendengar semua itu. Aku menarik tubuhnya dan kami berpelukan. Sebagai sahabat. Ya, aku ingin menganggapnya sahabat, atau bahkan saudara. ”Aku yang harus meminta maaf, aku tidak pernah jujur tentang apa yang ku rasa,”
”Hm,” Dia perlahan melepaskan pelukanku. ”Sudahlah, kita jalani saja,” Dia lalu berlari kecil dengan senyum yang melebar. Menjauhiku. Aku mengikutinya dengan langkah kecil. Dia melempar sesuatu padaku. Sebuah topi berwarna merah. Dé javu.. apa ini?
”Itu buatmu,” dia berteriak. Sekarang dia bersandar di pagar pembatas terluar di areal lantai teratas Mall ini.
”Kau serius?” Aku balas berteriak. Kulihat dia tertawa gembira dan melonjak-lonjak seperti anak kecil. . Dé javu. Lagi. Sial. Kenapa ini? Seperti kejadian yang pernah...
Aku tersadar dia ternyata bersandar di pagar yang baru dibagun. Sekatnya terbuat dari bambu. Apa-apaan ini? Mana tanda dangernya? Dan aku pun baru sadar ternyata tanda itu ditutupi oleh punggungnya.
”Jangan melonjak!” Aku mengingatkan. Dia tersenyum dan bersikap santai. Sikunya bersandar pada pagar bambu tanpa rasa takut.
”Lihat, acro ku hilang,” Dia tersenyum lagi. Aku agak lega. Ku panggil dia ke sini. Dia menggeleng. Rupanya dia mencoba mengetes keberaniannya lebih dalam. Dia melakukan hal yang tak sepantasnya dilakukan. Memanjat pagar bambu itu. Bambu itu rapuh, dan BRAK!
…………………………………
Runtuh.

 Aku pusing, tak bisa ku jelaskan apa yang kulihat sepersekian mili detik yang lalu. Aku menatap ke bawah. Aliran air mengalir, menyapu sisa reruntuhan tanah...
Apa-apaan ini?
***

*Acrophobia è rasa takut yang ekstrem dan tidak wajar terhadap ketinggian.


Kamis, 05 Maret 2015

Cerpen Seleksi Kampus Fiksi - Ketika

Kamis, 05 Maret 2015
Tau Kampus Fiksi? Kampus Fiksi itu diselenggarakan oleh DivaPress yang setiap angkatan ada duapuluhan orang, diadakan setiap dua bulan sekali. Etapi, pembukaan pendaftarannya dua tahun sekali ,_,. udah tau sebenarnya dari lama banget kampus fiksi ini. mulai dari angkatan pertama banget bahkan, tapi engga tertarik ikut. kenapa? soalnya posisi saya dibandung, dan sebagai mahasiswa kere, ongkos bandung-jogja PP itu aga menguras kantong haha :""" dan setelah berbelas-belas angkatan diselenggarakan, saya pun ikutan daftar. iya, daftar. terus lolos, terus dapet angkatan 24 alamaaak yang 'berangkat' tahun 2017 insyaa Allah *dansudahberanjaktua *abaikan. baiklah, jarang-jarang (ato hampir ga pernah malah -__-. label short story hanya tipuan) saya share cerita pendek di blog. tapi kali ini boleh lah saya share. selamat menyimak :)

Ketika

“Ri, mau es puter?” sosok itu tiba-tiba muncul di depan pintu kamar yang memang sengaja tidak kututup karena udara yang panas. Pandanganku teralihkan sepenuhnya dari setumpuk soal tutorial di atas meja ke arah pintu.
“Di bawah ada yang jualan?” tanyaku balik, antusias. Bukan apa-apa, di kota besar seperti ini hampir tidak pernah ditemukan ‘barang’ seperti itu. Hampir semua manusia di sini ingin terlihat modern, dan es puter bisa dibilang bukan bagian dari ’barang modern’.
“Nggak,” sosok itu menggeleng, sembari mengacungkan kedua tangannya yang ternyata sedari tadi memegang gelas. “Tadi pas perjalanan pulang ada yang jual, terus ternyata aku ada plastik es, jadi dibungkus dan beli lumayan banyak,”
“Oh…,”
“Boleh masuk?” tanyanya lagi.
Aku memilih diam, hanya mengangguk dan beranjak dari kursi kemudian duduk di atas karpet. Dia, mas Danu, duduk tepat di sampingku. Punggungnya bersandar di dinding tembok, dengan kaki di tekuk di depan.
”Gimana kabarmu?” Mas Danu menyerahkan satu gelasnya kepadaku, lalu tersenyum tipis. Pertanyaan sederhana, tetapi entah kenapa membuatku sedikit bingung untuk menjawab.
”Eh...baik,” jawabku pelan, lalu menerima segelas es puter dari mas Danu.
Setelah itu, tiba-tiba semua terdiam. Tanpa suara.
***
“Mas mu ada diklat di sini, jadi mau tinggal di rumah sampai tiga bulan ke depan,” kemarin saat makan malam, ibu banyak bercerita tentang kedatangan mas Danu yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu –lebih tepatnya tidak memberitahu ku, tetapi dua hari yang lalu aku menangkap sinyal bahagia dari ibu serta beberapa menyuruhku untuk membereskan rumah lebih giat. Sesekali aku menimpali pembicaraan mereka yang masih berlanjut di meja makan, sekedar pemberitahuan bahwa aku juga ada di sana mendengarkan pembicaraan mereka.
Mas Danu datang di sore hari, lalu mengobrol banyak dengan ibu. Jelas saja, mereka tidak pernah memiliki waktu sebanyak itu selama sebelas tahun terakhir ini. Kami bersaudara. Bapak dan ibu bercerai sebelas tahun yang lalu dengan alasan tertentu, yang mungkin sangat kompleks karena akses ku untuk bertemu bapak dibatasi dengan ketat oleh ibu. Begitu pula sebaliknya, akses mas Danu untuk bertemu ibu juga dibatasi ketat oleh bapak. Mungkin dulu ibu pernah menjelaskan alasannya, tapi aku terlalu kecil untuk bisa mengerti semuanya.
”Mungkin nanti bisa tanya-tanya kalau ada pelajaran yang susah di kuliah,” ibu menyambung ceritanya lagi.
Ah ya! Mas Danu kan pintar! Dia dulu kuliah di luar negeri, bisa jadi nanti nilai ujianku jadi bagus. Ya. Aku bukan tergolong mahasiswa brilian, bahkan bisa dibilang aku ini mahasiswa bodoh. Memang bisa saja kehadiran mas bisa membantu saat belajar, kalau aku yakin bisa dekat dengannya. Perpisahan selama sebelas tahun membuatku merasa bahwa dia benar-benar asing sekarang. Apalagi perbedaan usia kami cukup mencolok, sembilan tahun.
***
”Gimana kuliah?” setelah beberapa menit hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan gelas, akhirnya mas Danu angkat bicara lagi.
”Yah...gitu-gitu aja. Sekarang lagi musim ujian,” jawabku singkat.
”Eh, tadi lagi belajar? Ganggu nggak ini?” mas Danu terlihat merasa bersalah.
”Enggak kok,” aku menggeleng. Lagian, belajar atau nggak belajar hasilnya akan sama saja. Sama-sama jelek.
”Mau ujian apa besok? Barangkali bisa dibantu,”
”Fisika Dasar, tapi masih hari Jumat ujiannya,” sekarang masih hari minggu, dan aku punya waktu empat hari untuk belajar dari nol.
”Tentang apa?”
”Fluida,”
Kembali hening. aku tidak terbiasa membuka percakapan dengan siapapun. Aku adalah tipe pendengar, dan tidak terlalu suka berbicara apalagi berbasa-basi. Aku selalu berusaha membaca pikiran orang, sering menarik kesimpulan tanpa menyanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin karena kebiasaan ini sampai sekarang aku belum memiliki teman dekat di kuliah.

”Hem,” mas Danu meletakkan gelas kosong ke meja kecil yang berada di samping kami. ”Ingat nggak sama pak Rohmad yang sering jadi langganan kita dulu?”
Pak Rohmad?. Bingung. Aku menggeleng.
”Tukang es puter yang sering lewat di depan rumah dulu,” mas Danu tersenyum.
Dahiku mengkerut, lalu tiba-tiba bayangan kabur itu tiba-tiba terlihat sedikit jelas. ”Oh...ya... ingat...”
”Untung ada beliau, jadi kita bisa ngerasain es krim sekarang,” mas Danu tersenyum.
Ah ya, benar juga. Kami berdua sama-sama alergi protein susu. Kami hampir tidak pernah memakan makanan olahan dari susu sapi, termasuk eskrim yang sering jadi primadona di kalangan anak kecil. Konsumsi kami berdua hanya sebatas es lilin dari sirup yang dibuatkan ibu untuk kami berdua. Dan es puter pak Rohmad merubah segalanya, termasuk kedekatan kami. Dulu setiap kali pak Rohmad lewat dan mas ada di rumah, pasti mas membeli dua. Satu untuknya sendiri, satunya lagi untukku. Sambil makan es puter, kami bermain kelereng atau kartu dan selalu aku yang keluar menjadi pemenang –lebih tepatnya di set menjadi pemenang. Seringkali kami juga bercerita tentang hal-hal aneh walaupun tetap saja aku belum mengerti semuanya. Kami menjadi sangat dekat, sampai suatu saat bapak dan ibu bercerai dan kami harus ikut berpisah. Lebih sedihnya lagi, pak Rohmad sudah tidak lagi berjualan. Semuanya menjadi sangat renggang, seperti tidak pernah terikat satu sama lain saja. Dan mungkin langkah yang diambil mas Danu sekarang adalah salah satu upaya untuk membangun hubungan yang baik antara adik dan kakak.

”Em.. mas...” setelah beberapa menit yang berlalu tanpa percakapan, aku memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan sebuah pertanyaan.
”Ya?” mas Danu yang sedari tadi menatap kosong ke arah jendela mengalihkan pandangannya ke arahku.
”Mau tanya sesuatu,” kataku lagi, sedikit ragu.
”Hem?” mas Danu lalu membenarkan posisi duduknya menjadi lebih formal.
”Kalau misalnya ngga ada training di sini, apa mas tetap mau pulang ke ibuk? Maksudnya, kan tahu sendiri akses mas ke ibu dibatasi sama bapak,” aku berbicara sambil terbata. Kulihat gerak mas Danu menjadi sedikit canggung. Dia terdiam cukup lama.
”Kenapa nanya itu?” mas Danu balik bertanya.
”Sebelas tahun, dan kabar yang diberikan itu ngga sebanding sama kekhawatiran ibuk,” jawabku dengan nada datar, seolah aku tidak mau terbawa emosi.
”Haah...,” mas Danu menghela nafas panjang, lalu terdiam sebentar. ”...kalau ngga ada training, pastinya akan pulang. Tapi ngga tau kapan. Menunggu saat yang tepat. Dan mungkin sekarang adalah saat yang tepat,” mas Danu tersenyum. Ada jutaan makna tersirat yang bisa kulihat dari caranya menggerakkan bola mata, dari senyumnya, dari gerak tubuhnya. Mungkin aku tahu.
”Mungkin nanti kita beli es puter lagi, dan cerita-cerita lagi,” mas Danu angkat bicara lagi. ”...terus main kartu lagi, tapi kali ini ga ada lagi alasan buat yang lebih muda menang,” lalu dia tersenyum.
”Oke,” dan aku ikut tersenyum, sedikit lega.

Minggu, 19 Februari 2012

Kisah buku jurnal

Minggu, 19 Februari 2012
Suatu hari sehabis praktikum di laboratorium mikrobiologi lingkungan. Kami berjalan keluar ceileh.

“Eh, ini jurnal siapa nih?” kakak asisten menghampiri saya lalu membuka si buku jurnal. “Oh, ini punya si Tito nih,”

Dan kami memanggil Tito. “To, jurnal lo ketinggalan nih,”

Si pemilik nama menoleh dan menghampiri. “Oh, sebenernya sih gue cuma mau ngetes kalian, peduli ga sama jurnal gue, eh ternyata sampai mau keluar ga ada yang peduli,”

-___- bilang aja lupa, pake pura-pura ngetes -___-

Dan hari praktikum berikutnya....

Seorang asisten mikling menghampiri saya di luar gedung praktikum. ”Ini tolong nitip ke Tito ya, jurnalnya ketinggalan nih,”

Dasar, ketinggalan buku jurnal melulu ini anak dan alesannya itu lah, ngetes -_-

Haha..

Praktikum besok jurnalnya ketinggalan lagi ngga yaaa~~

Kita tunggu deh.

Sabtu, 18 Februari 2012

Hayo, ini siapa ya? Haha

Sabtu, 18 Februari 2012
Latar tempat dan waktu: sebelum tutorial di GKU Barat sekitar jam 14:00-an, masa TPB.

”Rahma, tau tipe ceweknya cowok alim ngga?” seorang teman yang duduk di belakang saya menanyakan sesuatu yang ajaib. Si Reni yang ada di sampingku cekikian. Panggil si penanya ini kawan, haha.
”Maksudnya,?” jelas ane bingung.
”Yaa... tipe cewek...”
”Kok nanya sama saya?” -_________-
”Kamu kan alim, ma,” si kawan ini mulai kehabisan kata-kata. Ini pula apa lah pertanyaannya ajaib banget -_____- lagian alim dari mananyaaaa
”Kalau pengen tau tipe cewek cowok alim, tanya aja ke itu tuhh, sama cowok langsung,” si Reni ngasi ide (gila), yang di tunjuk itu anak rohis dikelas #spontan ketawa
”Aduh, malu saya, heuuu,”
”...kalau hukum ngeceng, Ma?”
”Eh...ngga boleh sebenarnya wan,” (bahkan ane masi belum bisa menghilangkan kebiasaan ini -______-)
O... gitu ya..” si kawan  manggut-manggut.
”Emang ada apa kok tanya kayak begituan?”
”Gini lho,”
“...aku baru kali ini ngeceng cowok alim, hiks, aduh, gimana ini?”
”Emang gimana ceritanya?”
”Pas perwalian, ngelihat diaaaa. Aku tanya temen, dia siapa? Itu ternyata satu daerah sama dia, haduh,”

Mulai pengen nebak.

”Pas pindah tempat duduk, aku ngga nyadar dia di samping aku,” dia cekikikan sendiri ”...aku nyadarnya pas lihat layar terus iseng ngomong ’aduh, itu tulisannya apaan sih? Ngga keliatan’ tiba-tiba dia noleh, aihhh.... cakep...”

Hahahahahahahaaaa

Sebentar, aku ingat sesuatu.

”Anak fakultas kita?”
”Iyaa...” dia mengiyakan sambil tersenyum.
”...si itu...bukan?” #namanya di sensor, hehe
Sang penanya melotot. ”Eh? Kok tahu siiiii??? Addduuuuuhh... ada yang tahuuu...”

Dan saya, Reni, serta si penanya sama-sama ketawa. Hahahaa. Siang ini ngakak paraahh....

ITB Fair, Tour Fakultas

ITB Fair, 5 Februari 2012

Saya yang berada di daerah Teknik Lingkungan refleks menyingkir karena ada rombongan anak TPB yang ikut tour fakultas. Dilihat, peserta tour itu mayoritas cowok pake jaket FTTM 2011. 
“Ini namanya Prodi Teknik Lingkungan. Yang di fakultasnya atau di jurusannya nanti ceweknya sedikit, nah, ngga papa, maen-maen aja ke sini. Di sini banyak ceweknya,” si pemandu dengan asyik bercerita.

-____________________________________________-
Disuruh maen ke TL karena banyak ceweknyaaaa -__________-

Dididik apa kalian naaak dari TPB… *ini Cholid yang ngomong. Si Cholid ini anak Teknik Metalurgi (FTTM) dan dia cewek.

Well well well.... sekian dan terimakasih, dan kami tunggu kalian untuk main di TL, haha :P
アイサ の ノート © 2014