Pages

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2016

Short “Trip” ke Pulau Pramuka

Selasa, 21 Juni 2016

Halooo!!! Kali ini engga akan posting nyampah kayak yang kemarin-kemarin kok haha. Baiklah karena saya udah lama gak posting sesuatu di blog, kayaknya ini saat yang tepat untuk kembali menulis (--deadline udah kelar pfft tapi ganti kerjaan baru ahahahahiks) jadinya saya akan ngeblog tentang perjalanan saya dan teman-teman kantor ke Pulau Pramuka. Ehm, bisa dibilang kerja, tapi bisa dibilang backpackeran karena budget terbatas pfft. Awalnya Cuma dua atau tiga orang yang berangkat, terus karena yang semua nya juga pengen berangkat, alhasil boleh berangkat berlima tapi budget tetep seminimal mungkin \(_,_\) oke. Yang penting berangkat. Ke Pulau Pramukaaaaaa horeeeee haha.

Oh iya. Kami berlima, Saya, Putri, Mila, Yola, dan Kak Nindy bertugas sebagai surveyor BPLHD DKI Jakarta untuk Proyek PROKLIM alias Program Kampung Iklim. Pulau Pramuka ini salah satu kandidat lokasi untuk PROKLIM DKI Jakarta yang nantinya akan diikutkan ke tingkat nasional. Nah, sebelum-sebelumnya sih kami kami ini udah keliling Jakarta mulai dari Pulogadung sampe Tanjung Priok, dan Pulau Pramuka ini adalah lokasi terakhir yang disurvey.

>> Day 0 <<
Kamis subuh kami berangkat dari Bandung, nyewa mobil dan di antar pak supir ke daerah Jakarta Timur untuk survey tiga lokasi PROKLIM terakhir. Seperti biasa (lah kapan ane pernah cerita kayak gini haha) survey baru kelar sorean, bahkan baru bisa pada makan menjelang magrib. Setelah urusan persurveyan di Jakarta /darat/ selesai, akhirnya kami bersiap untuk perjalanan ke Pulau Pramuka (Jakarta /pulau/) yeaaay. Karena besok pagi pagi harus ke Pelabuhan buat naik kapal, jadinya kami nyari hotel yang deket deket sana.
“Gimana kita nginep dimanaa?”
“Di hotel mana? Hotel x apa y?”
Dan sesi booking-membooking pun seperti biasa diawali oleh Putri. Terpilih beberapa hotel yang mau di booking, lewat situs booking online (Traveloka haha).
“Tapi ini kayak mencurigakan gitu kayak losmen losmen,”
“Susah nyari di daerah pesisir yang gak mencurigakan,”
Nanya pak supir pun katanya kalo di jalan gajahmada, atau di jalan sesuatu, itu emang rawan. Di sana emang banyak lokasi “ehem ehem” yang gak tau lah itu gimana. Akhirnya, secara singkat /gakdeng/ kami memutuskan untuk memilih hotel 55 International di deket mangga dua square. Pas ke sini, nyasar! Problemnya adalah karena GPS nya selisih 30an meter, salah belok ke gang keciiil banget, dan itu daerah yang kayaknya “ehem ehem” itu. Duh mana ini berlima cewek semua, watir pisan udah deg deg an.

Setelah berbekal tanya sana sini akhirnya sampai juga ke hotel 55 ini. Harusnya belok setelah polsek, bukannya sebelum polsek haha. Dan alhamdulillaahnya hotelnya diluar ekspektasi. Semalam kita bayar 260an untuk satu kamar ukuran double deluxe (pesen nya dua), dan ternyata pas masuk ke kamar, yang satunya malah dapat kamar ukuran family (kasurnya tiga!!) haha. Mungkin karena pesen online terus yang pesen langsung keburu keisi atau entahlah gimana, yang jelas dapet kamar yang enak dan murah. Horray. Oh iya, btw kalao datang langsung, bayarnya 350 ribu per kamar untuk ukuran double deluxe. Kalo family kayaknya 600an apa 700an gitu. Mendingan booking online saja lebih banyak promo /eh.

>> Day 1 <<
Yay, hari pertama mau ke Pulau Pramuka dimulaaai!.

Kami berangkat dari hotel jam enam kurang seperempat. Karena pak supir nya udah balik ke Bandung, kami berlima naik Grabcar ke Muara Angke (biayanya sekitar 50 ribu). Catatan, kalo mau beli tiket KM Kerapu (alias kapal dishub), ngantrinya dari pagi ya karena kuotanya Cuma 80 orang per hari. Kalo engga kebagian, bisa pake kapal rakyat yang harganya lebih murah dan kapasitas lebih banyak. Harga tiket KM Kerapu ini 50 ribu per orang belum termasuk asuransi 2 ribu dan tiket peron 2 ribu. Jadi, total harga tiketnya 54 ribu. Kalau untuk kapal rakyat harganya 45ribu. Oh iya, tiket ini gak bisa dipesan. Yang bisa beli ya orang yang duluan datang.
KM Kerapu, Kapal dari Dishub

Antri tiketnya itu pertama kita harus ambil nomer antrian. Satu orang satu nomer antrian. Kalo bawa lima orang, ya ambil nomer antriannya lima biji, sambil ngasih tau nama dan usia. Habis itu baris lagi ke depan loket, buat bayar. Loket buka jam setengah tujuh sampai setengah delapan, tapi biasanya 15 menit setelah loket buka, tiketnya udah habis. Jadi mending pagi pagi datangnya. Oh iya. Ekspektasi saya naik kapal feri kayak pas ke Bali, pake Feri gede, tapi ternyata engga haha. Kapalnya kapal Kerapu ukuran kecil dengan muatan maks 20 orang. Jadi, “goyangan” nya kerasa banget. Kalau mau lebih nyaman, bisa pakai speedboat naik dari Marina, Ancol, dengan biaya 125ribu per orang untuk weekday dan 150ribu untuk weekday (belum termasuk tiket masuk marina nya 20ribu per orang).

Setiap kapal ada rute nya. Kebetulan yang ditumpangi kami itu pakai lintasan I: Pulau Untung Jawa – Pulau Pari – Pulau Pramuka – Pulau Tidung, jadinya kami turun setelah berhenti di Pulau Untung Jawa dan Pulau Pari. Jam delapan pagi kapalnya mulai berangkaat. Oh iya, pas nunggu kapal berangkat, sebaiknya duduk di ruang tunggu karena nanti juga bakal dipanggil buat masuk satu per satu pake toa. Jadi tenang, ga bakal ketinggalan (kalo nunggu didalem). Perjalanan yang ditempuh sekitar satu setengah jam. Kami berangkat jam 8, sampai pulau pramuka jam 09.30. dan hujan *padahaludahpadasiapsiapmantai*

Okay. Sampailah kami di Pulau Pramuka. Di sini kalau untuk penginapan, bisa ke homestay alias di rumah rumah warga. Harganya bervariasi. Biasanya kalau yang berwujud rumah harga semalam nya 250-350 ribu semalam (bisa ditawar loh!). kalau mau yang di pinggir pulau, bisa 500ribuan per malam. Saya sama teman-teman mencari homestay terdekat dari pelabuhan, rumah warna ijo yang semalam sekamar 350ribu. Isinya kasur empat dan sudah ada AC dan kamar mandi dalam.

Apa yang asik dari Pulau Pramuka?

Pulau pramuka ini bisa dikelilingi dalam waktu kurang dari sehari. Di Pulau Pramuka ini Cuma ada dua RW, yaitu RW 04 dan RW 05. Pulau Pramuka itu masuk di Kelurahan Pulau Panggang. Ada taman nasional nya di sana, yaitu penangkaran penyu yang digunakan untuk sarana edukasi. Kalau untuk pantai, lebih baik jalan ke arah utara karena lebih luas. Untuk daerah barat, lautnya dangkal jadi bisa jalan sampe ke agak tengah an. Biasanya juga, pas sore-sore banyak anak kecil yang renang-renang di sana. Mereka seneng banget di foto haha. Kalau mau jajan-jajan, ada di depan dermaga, mulai dari telur gulung sampe ada eskrim juga. Btw di sini ga ada minimarket sejenis alfamart atau indomaret tapi tenang aja banyak warung yang nyediain makanan kecil kok. Untuk harganya standar lah engga mahal kok. Buat makan pun ada warung warung dekat pelabuhan dan juga di tengah tengah pulau.  Oh iya, di sini satu-satunya transportasi umum adalah motor dengan bak, yang bisa membawa keliling pulau dengan biaya limaribu rupiah.

Jalan ke tengah laut di tepi pulau bagian barat

Ketemu anak dermaga yang cihuy 

Sepanjang tepi Pulau Pramuka ditanami mangrove. FYI, pulau Pramuka ini merupakan salah satu area untuk konservasi mangrove

telor gulung sepuluh ribu dapet lima. tapi pas beli, ibu penjualnya ngasih lebih dari yang seharusnya haha.
ada tukik di penangkaran penyuu!
di Pulau Pramuka ada hutan wisata edukasi juga loh
 *credit foto acak dari yola, saya, mila, putri

>>Day 2 <<
Hari sabtu, kami survey untuk program kampung iklim di Pulau Pramuka. Hari ini  kami survey lebih ke wawancara ke narasumber karena kemarin sudah keliling untuk melihat upaya masyarakat dalam menangani perubahan iklim. Pagi-pagi jam tujuh saya pergi ke dermaga untuk pesen tiket balik nanti jam satu. pas nyampe ke loket, katanya belum ada info apa ada kapal dari sini berangkat ke jakarta darat atau engga. Dan setelah menunggu beberapa saat, dikabari kalo hari ini .... kapalnya... GAK BERANGKAT!!

Oemji.

Padahal kapal rakyat berangkat jam delapan.

Udah setengah delapan tapi belum wawancara narasumber.

Dan akhirnya dengan segala kekalutan, akhirnya memutuskan untuk pulang pakai speedboat yang turun ke ancol. Harga tiketnya 150ribu per orang. Kalut gara gara overbudget sih sebenarnya haha. Awalnya dibudget in untuk transport kan pakai kapal dishub yang 54ribu itu, jadi bengkak 3xlipatnya :”””D. Untung di Pulau ini makan nya murah murah, jadinya bisa ketutup anggarannya. Jadi tolong yang berlibur ke kepulauan seribu, siap siap kalo kapal dishub ga berangkat siangnya. Mending naik speedboat yang turun di marina. Untuk tiket nya, bisa dipesen di vila delima. Naik speedboat kalo siang-siang mending di bawah karena ada ac dan minim goyangan. Kalo di atas pasti kena ombak yang masuk, ditambah muka gosong separuh :”””D. Kami awalnya duduk di atas, tapi habis kena semburan ombak pada pindah ke bawah yang lebih tenang dan adem :””D

Duh, post ini kok ane jadi banyak cerita ke saat perjalanannya ya bukan pas nyampe nya haha. Yaudah. Biarkan foto saja yang berbicara. Kelamaan ga nulis blog, kemampuan nulisnya jadi kaco kayak gini :/

Oiyaa kemungkinan saya akan posting mengenai program kampung iklim itu sendiri karena lagi semangat nuliss iniiii hihi. Sampai jumpa di post berikutnyaaaa ^^

Kalkulasi perjalanan
1. Grabcar ke Muara Angke = 50 ribu
2. Tiket kapal dan peron dan asuransi = 54 ribu
3. Homestay = 350 ribu /5 = 70 ribu àbisa lebih murah
4. Tiket kapal pulang = 150 ribu
5. Makan 5 x @15ribu = 75 ribu
6. Lain-lain = 50 ribu
Total = 449 ribu per orang à kalau trip nya berlimaan. Kalo sendiri atau berdua, bisa lebih mahal untuk biaya homestay nya itu


Kamis, 21 November 2013

Selamat Datang di Kota Solo :D

Kamis, 21 November 2013
                     
“Asalnya dari mana?” tidak sedikit yang bertanya dari mana saya berasal saat pertamakali duduk di bangku kuliah. Baru kali itu saya berada dalam satu ruangan bersama orang-orang yang berasal dari berbagai daerah.
“Dari Solo,” saya menjawab sambil tersenyum. Ya, saya berasal dari Solo atau bisa juga disebut Surakarta. Saya dari kecil tinggal di Solo, dan tiga tahun lalu hijrah ke Bandung untuk menempuh pendidikan sebagai mahasiswa di sebuah Institut yang cukup terkenal.
“Sama kota Malang deket ngga?” dan teman saya ada yang bertanya sebegitu polosnya. Apakah Solo se-tidak-terkenal-itu???
”Engga, jauh. Malang itu di Jawa Timur, kalo Solo di Jawa Tengah,”

Baiklah. Ada yang belum tahu letak dimana Solo? Solo terletak di Jawa Tengah, bukan Jawa Timur. Dari Semarang kira-kira 80km, dari Jogja kira-kira 60km. Kira-kira lho ya, saya ngga tahu tepatnya berapa hehe.

(1) peta Solo atau Surakarta

”Aku pengen ke Solo deh. Kalo aku ke Solo, kamu jadi tour guide nya ya,” pas saya menceritakan tentang bagaimana Solo itu, ada beberapa teman yang pengen pergi ke kota tempat saya hidup ini :””””D

Dalam kurun waktu tiga tahun ini, ada beberapa teman saya yang berkunjung ke Solo dan saya menjadi tour guide nya. Tour guide payah tapinya, karena saya ini super ansos dan jarang keluar rumah jadi ngga tahu tempat mana saja yang asyik. Bahkan ya, pertama kali masuk ke kraton Solo itu gegara nganterin teman saya yang dari Jombang. Payah bangeeet jadi orang Solo ga tau Solo~~~ -_-. Tapi untung ada teman saya yang berkunjung. Kalo ngga, mungkin sampe detik ini saya belum juga ke museum keraton Solo.

Yak, mungkin saya akan to the point ke rumusan masalah. Sebagai orang Solo tentunya ada hal-hal menarik yang saya rasakan, kesan kesan, ataupun apalah yang melekat dihati tentang Solo karena sudah hidup di sini selama bertahun-tahun. Saya ingin berbagi beberapa hal yang berkaitan dengan Solo, kesan saya terhadap Solo, mengapa saya cinta dengan Solo, dan berjuta-juta hal tentang Solo yang mungkin bisa membuat pembaca sekalian turut merasakan apa yang saya rasa #apasih. Baiklah, check this out! Monggo dicek apa-apa saja kesan saya (dan beberapa orang) tentang Solo :)

1. Orang-Orang nya Ramah
Saya merasa bahwa orang-orang di sini ramah dan sopan. Orang Solo cenderung ga to the point dan kebanyakan basa-basi. Istilahnya kalo ngomong jadi ngalor ngidul. Ada sedikit-banyak culture shock saat pertama kali tiba di Bandung. Reaksi orang lain terhadap orang lain (antar manusia) bisa dibilang jauh berbeda. Saya yang hidup di lingkungan super ramah dan kekeluargaannya tinggi, berubah drastis ke wilayah yang tidak seperti itu. Ini mungkin gegara saya orangnya terlalu tertutup, atau bisa juga karena saya hidup di area mahasiswa-mahasiswa. Sama-sama muda, yang kerjaannya kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Pulangnya malam-malam, dan interaksi sesama di lingkungan terbatas. Hiks. Kangen Solo kalo udah nyangkut yang beginian…

2. Budayanya
Saya suka bagaimana masih banyak budaya yang dilestarikan di Solo. Saya suka ada bus trans solo yang bermotif batik, suka dengan pementasan rutin di Balekambang, suka dengan peraturan yang mewajibkan PNS memakai kebaya di hari tertentu. Saya juga suka dengan ornamen wayang raksasa yang dipasang di sebuah mall yang menyatu dengan apartemen pertama di Solo. Sukaaa~~.
(2) bus batik Trans
(3) solo paragon dengan wayang super gedhe nya

Di Solo juga banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi walau agak susah kalau tidak memakai kendaraan pribadi. Maklum, trayek angkutan umum masih sedikit jumlahnya. Untuk referensi tempat, bisa dilihat di sini: Tempat wisata: http://tentangsolo.web.id/category/tempat-wisata


3. Banyak Festival Seru!
Super duper banyak festival yang ada di Solo yang membuat saya berkesan. Ada yang rutin dilaksanakan setiap minggu seperti car free day, ada juga festival tahunan yang super ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Beberapa diantaranya adalah Sekaten, SIPA (Solo International Performing Art), SBC (Solo Batik Carnival), dan masih banyak lagi.
(4) Solo Batik Carnival

4. Tidak Macet
Setidaknya sebelum saya hijrah ke Bandung, Solo masih diam-diam saja. Macet kalau sedang musim liburan dan mudik. Banyak mobil plat B berkeliaran di sepanjang jalan. Ini salah satu hal yang membuat saya betah di Solo. Ga ada itu namanya traffic jam berpuluh-puluh menit bahkan berjam-jam. Ya mungkin karena jumlah kendaraan yang memang tidak banyak atau bagaimana saya tidak tahu.

5. Makanannya murah dan enak
Ini juga salah satu aspek penting dalam kehidupan sehari-hari: harga! Benar sekali, harga di sini murah-murah. Sekali lagi, pas saya nyampai di Bandung agak shock dengan harga makanan di sini. Ga shock banget juga sih, intinya makanan di Solo lebih murah hehe. Dan yang pasti, rasanya lebih cocok di lidah mwehehe. Maklum, orang Jawa. Makanan favorit saya tentunya nasi liwet dooong~~ ga ada yang lebih enak dari nasi liwet solo. Di manapun kalo ada yang jual nasi liwet solo, pasti rasanya beda kalo bukan di Solo. 

(5) nasi liwet, tetap yang favorit :)
Dulu hampir setiap pagi saya sarapan nasi liwet. Dan saya juga ingat, sebelum ikut tes tulis UGM saya dan ayah mampir di pinggir jalan buat makan nasi liwet :””””). Dulu sekitar lima atau enam ribu rupiah udah sama ayam. Super murah!
(6) ini yang namanya cabuk rambak 

(7) srabi~~ srabi~~ 
Makanan lain selain nasi liwet yang saya rekomendasikan adalah cabuk rambak. Kya~~ rasanya jadul tapi enyaak~~ rasanya mau nangis deh kalau sekarang ada yang jualan itu di sini. Di Solo, penjual cabuk rambak bisa ditemukan di pinggir GOR Manahan. Dan jangan lupa, srabi Solo itu enyak lhooo~~ *srabi Notosuman ada cabangnya di Bandung, saya lihat ada di KiosK dan Riau Junction.

Mungkin segini dulu beberapa kesan dan hal-hal mengenai Solo. Selamat datang di Solo, selamat beraktivitas! :D

Oh iya, artikel ini dibuat untuk mengikuti lomba "Kesan Tentang Solo" dengan tema "Kesan". dan lagi-lagi saya ga menang ahahaha :""""""D

  Kontes Tulisan Tentang Solo

Ada apa di Sekaten?


Salah satu festival atau acara rutin yang diselenggarakan setiap tahun di Solo yang menarik perhatian saya adalah Sekaten. Apa itu sekaten? Sekaten seingat saya dahulu adalah salah satu media untuk menarik masyarakat yang dahulunya belum menganut islam. Kalau mau masuk ke acara tersebut yang berisi musik gamelan dan kesenian lain harus baca syahadat di gerbang masuknya. Sekaten itu dari kata syahadatain, ngga tau kenapa bisa gitu asal katanya -_-, mungkin karena penyesuaian lidah orang Jawa kali ya? hehe. Sekaten dulunya sebagai media dakwah dan bisa disebut juga asimilasi budaya kalo ga salah istilah sosiologinya apa -_- *ini saya ga pake referensi soalnya. Oke, disini saya tidak akan bahas sejarah Sekaten itu seperti apa tetapi lebih ke 'isi' dari Sekaten tersebut. Oiya, beidewei sekaten ini bisa ditemui di kraton Jogjakarta dan kraton Surakarta mulai satu bulan sebelum maulid nabi.

Saya terakhir kali ke sekaten bersama keluarga itu saat SD (sebelum tahun ini - Januari 2013 kembali pergi ke sana), pulang-pulang bawa alat masak-masakan atau orang jawa bilang pasaran. Bisa dikatakan sekaten ini adalah pesta rakyat, dan tempat mengais rejeki juga bagi sebagian orang. Pernah baca juga, yang jualan di sekaten ini biasanya turun-temurun. Kalau dulu orang tuanya yang jualan, sekarang anaknya. Beberapa memang seperti itu. Pas saya di rumah karena libur semester ganjil, kakak saya pengen ke sekaten karena saya ngajak teman saya yang liburan ke Solo ke Sekaten, jadinya dalam satu minggu sebelum balik ke Bandung saya ke sekaten dua kali :3. Ehm. Oke, apa khas dari sekaten ini? *ps: ini di Solo ya :)

1. kapal etek-etek
kapal etek etek hoho
Saya ngga tau nama aslinya apa sih. Saya menyebut mainan itu kapal etek-etek karena pas dinyalain bunyi tek etek etek etek :). Saya beli terakhir pas SD dan harganya dulu sekitar tiga ribu kalo ga salah huohoho. Kapal ini diisi kapas terus dikasih minyak tanah atau bensin terus dinyalain, kalau dimasukin di air bisa gerak :”””D jadi pengen beli lagi tapi kalo dibawa di Bandung ga bisa dimainin juga :”””

2. Gulali/Arum Manis
kya gulali kyaa

Kyaaaaa~~~ ini adalah salah satu item favorit saya di Sekaten! Agak susah lho nemuin gulali atau arum manis ini kalau bukan di sekaten *eh apa iya?. Dan pas SMA saya mampir ke sekaten (dan saat itu saya ngga nyadar kalau ada sekaten - berarti saya terakhir ke sekaten sebelum kuliah ini ya pas SMA hehe) juga beli ini karena kangen rasanya. Pas kemarin ke sekaten dua kali, saya juga beli gulali ini dua kali. satu kali pas bareng teman, dan satu kali pas bareng kakak. Ibu saya melihat gumpalan arum manis besar itu masuk rumah jadi kepengen, terus nitip pas saya ke sekaten untuk kedua kalinya :D. 
“Ibuk dulu pengen banget beli kayak gini, tapi dulu mahal ngga punya uang buat beli, jadi baru kesampaian pas udah tua kayak gini,” that's my mom said. Masa kecil orang tua saya pastinya super beda dengan apa yang dialami anak-anak kecil sekarang. Dulu kata ibu, makan telur pun sudah bersyukur. dan gulali adalah makanan yang bisa dibilang mewah.
Aih, dan satu buah gulali yang saya dan kakak bawa pulang jadi rebutan bapak sama ibuk. lucu juga, hehe ♥ ♥ ♥

beidewei, saya kalau beli arum manis pasti yang warna putih, yang ga pake pewarna. cari aman, hoho :)

3. Ayam Warna-Warni
ayam ku manaa :3

Yang satu ini~~~~ :””) jadi nostalgia hoho. Pas kecil dulu suka beli ayam-ayam warna ini walau jatuhnya dirumah mati karena ada kucing berkeliaran (di rumah saya ada tujuh ekor dulu) dan juga ga ada kandang. Kasihan juga sebenarnya sama ayam unyu yang masih kecil-kecil ini :”(. Tapi tetangga ada yang melihara sampai gedhe banget. Pas gedhe ayamnya warna putih dan di sayap ada warna kecoklatan sedikit, warna lucu pas masih kecil itu luntur semua. Dan perlu diketahui, ayamnya jantan semua, jadi ngga bisa bertelur hehe. Kyaaa ayaaam :)

4. Wahana Permainan
helicopter :D

Mulai dari kicir-kicir sampai kora-kora mini serta tak lupa rumah hantu akan menjadi ciri khas sekaten ini :). Kalau super khas nya ya tong setan itu, pakai motor sampai ke atas. Saya sendiri belum pernah lihat karena ngga boleh sama bapak pas kecil dulu. Kalau pas uda gedhe sekarang ngga lihat karena ke sananya siang terus haha. Padahal sekaten enaknya kan pas malam :3.

oh iya lagi, FYI, wahana ini biasanya buat anak-anak karena emang ukurannya yang cukup kecil. padahal kakak saya ngajak ke sekaten buat naik wahana seperti itu lo, hoho. Saya menolak mentah karena takut rubuh. syalalala~~ 

5. Alat masak-masakan
ini murah banget lo, serius.

Anak perempuan pasti seneng banget kalau diajak ke sekaten ini karena tersedia banyak peralatan masak-masakan mulai dari yang terbuat dari tanah liat sampai aluminium yang kayak beneran tapi ukurannya lebih kecil jadi bisa buat masak yang sesungguhnya. Harganya disini relatif lebih murah daripada di pasarnya. Mungkin karena obralan kali ya? Hoho. Saya sudah meninggalkan permainan itu lebih dari delapan tahun yang lalu.

Heyya~~ itu dia lima khas dari sekaten, pasar karnaval rakyat. Mari nikmati bersama-sama! datang dan ramaikan :D

Ah, tapi tahun ini saya ngga bisa ke Sekaten lagi karena ngga pulang ke Solo. Mungkin ya ini nasib mahasiswa tingkat akhir, harus survey buat TA. Oke baiklah, semoga bisa ke Sekaten lagi ya.. kapan kapan :"""")

oh iya, artikel ini dibuat untuk mengikuti lomba "Kesan Tentang Solo" dengan tema "Event". yuk ikutan! lombanya sampai 1 Desember 2013 dan pengumumannya tanggal 10 Desember 2013. ada tiga gadget kece serta uang tunai menunggumu :D

Rabu, 06 November 2013

Menemukan Indonesia (Part 2 -end)

Rabu, 06 November 2013
”Sekarang tiket ke Singapura sama ke Sulawesi lebih murah ke Singapura. Ya mending ke Singapura kalo gitu,” suatu kali saya berceloteh dengan teman saya, membicarakan tentang biaya pesawat yang lebih murah ke luar negeri daripada ke bagian timur negara sendiri. Ingat ini juga karena di situs jejaring sosial banyak yang meng-upload foto mereka saat di luar negeri.
”Kalau harga nya sama pun akan tetap pilih ke luar negeri, krena titel ’luar negeri’ itu sendiri bikin bangga,” teman saya menyahut. Memang benar sih, kalau sudah ke luar negeri itu rasanya bagaimanaa gitu.
”Mengeksplor Indonesia itu jauh lebih mahal daripada ke luar negeri,” atau ini gara-gara saya yang tidak pernah backpacking ya? Ah ya, saya ingat perkataan dosen matakuliah Kesehatan Lingkungan Kerja. Beliau hobi diving, yang pastinya itu bukan hobi yang ’murah’.
”Ini kalian lihat, ekosistem di Raja Ampat itu sebegitu indahnya,” kala itu pak Dosen memperlihatkan foto-foto beliau ketika menyelam di Raja Ampat. Sebelumnya beliau menjelaskan tentang prosedur menyelam yang benar agar tidak celaka saat bekerja di bawah air.
”Saya dulu kalo ngga dibayarin sama UNESCO juga ga akan ke Raja Ampat,” pak Dosen tertawa. ”Bisa sampai habis tigabelas juta satu minggu di sana,” wow, semahal itu? hem.. bisa jadi ada rupa ada harga, untuk menyelami lautan paling produktif di dunia ini. Indonesia punya semuanya, dari kutu air sampai paus sperma. Tapi tigabelas juta itu.... tetap saja mahal.

Ada satu teman saya yang lain, dia sangat bersemangat untuk mengajak berkolaborasi menulis tentang kehidupan mahasiswa yang cinta dengan Indonesia. Teman saya yang satu ini sangat semangat menjalani hidupnya sebagai mahasiswa, makannya beliau mengajak saya untuk menulis novel yang menceritakan tentang tema tersebut. Awalnya saya agak kesulitan mengikuti ritme kerja beliau, tapi ditengah-tengah saya mulai bisa menyamainya. Yah walau masih tetap sering ngaret sih hehe. Karena menulis tentang kehidupan mahasiswa yang kritis dan cinta Indonesia –lebih menggambarkan tentang teman saya ini bukan ke saya, makannya saya berusaha untuk mengimbangi pola pikirnya yang super itu. Saat asyik tumblr-ing, saya menemukan sebuah artikel yang direblog oleh Kuntawiaji (kalau yang punya tumblr pasti tahu). Yang  membuat saya melongo dan membaca artikelnya saat itu juga adalah baris pertama yang menyebutkan bahwa ”Indonesia itu kayak cewek cantik, tajir, tapi bodohnya minta ampun”. So Jleb banget lho. Dari kalimat itu saya jadi berfikir banyak tentang Indonesia ini. Indonesia yang cantik, Indonesia yang kaya... tapi Indonesia tidak bodoh. Penghuninya lah yang bertindak bodoh. Mungkin bodoh karena tidak tahu –atau pura-pura tidak tahu.

Ingat tentang cerita Ring of Fire? Indonesia adalah negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia, yaitu berjumlah 155 buah yang tersebar di pulau-pulau di Indonesia. Adanya gugusan gunung berapi tersebut membuat tanah di sekelilingnya subur. Setiap ada erupsi, dalam selang waktu tertentu luapan lava yang mengering itu akan menjadi lahan yang subur. Ingat tentang Pulau Jawa tadi? Kalau lahan subur berarti akan ada vegetasi atau tanaman yang tumbuh subur. Tanaman yang subur adalah sumber makanan dari spesies lain. Di situ, ekosistem baru akan terbentuk. Selain kaya akan jenis tanaman, Indonesia juga kaya dengan berbagai jenis spesies. Kembali ke film Discover Indonesia yang kami lihat dulu, banyak sekali spesies yang belum saya ketahui. Saya juga baru tahu bahwa orangutan di Sumatera tinggal di pohon, sedangkan di Kalimantan orangutan tinggal di tanah. Saya juga baru tahu, burung kasuari di Papua dapat ‘ditukarkan’ dengan seorang isteri.

Berbicara tentang spesies hewan dan tanaman, bagaimana dengan manusianya sendiri? Bisa ditebak, Indonesia juga punya berbagai ‘jenis’ manusia. Indonesia punya ratusan suku bangsa, yang menjadikannya kaya akan budaya dan bahasa/dialek daerah terbanyak kedua di dunia. Suku bangsa, bahasa, dan budaya ini terbentuk tidak secara instan. Budaya yang terjaga aman serta diwariskan secara turun menurun tersebut membuat Indonesia semakin istimewa.

Saya adalah salah satu manusia Indonesia bersuku Jawa. Dari lahir sampai SMA, di sekeliling saya semuanya orang Jawa. Saya belum merasakan bagaimana rasa keberagaman yang sebenarnya. Sampai ketika saat usia saya menuju tujuhbelas, saya merantau ke Bandung untuk menuntut ilmu di sebuah Institut Teknologi yang cukup terkenal di Indonesia. Dari tempat kehidupan yang baru tersebut, saya bertemu dengan orang-orang yang membuat saya semakin merasa bahwa Indonesia itu istimewa. Pada awal-awal kuliah, saya hanya berbaur dengan orang yang berbahasa sama, yaitu bahasa Jawa. Agak aneh juga, seperti menjadi bahan tertawaan mendengar saya berbicara bahasa Indonesia dengan aksen medhok karena tidak terbiasa berbicara dengan bahasa nasional ini. Tapi karena ciri khas ini, saya bisa memulai pembicaraan dengan teman dari daerah lain. Beberapa ada yang bertanya “apa bahasa jawa nya kata ini?” dan beberapa juga ingin diajari tulisan Jawa hanacaraka itu.

Memangnya apa yang bisa dilakukan mahasiswa untuk ikut serta dalam mempertahankan budaya Indonesia? Mungkin banyak yang bertanya tanya tentang itu. Mahasiswa itu bisa apa? Wah, sebenarnya mahasiswa itu bisa banyak lho karena belum terikat apapun hehe. Di kehidupan kampus yang ‘seperti ini’, kami tetap cinta Indonesia. Mahasiswa di kampus kami banyak yang mengikuti unit kebudayaan daerah yang dapat dikategorikan sebagai upaya pelestarian budaya. Tidak jarang juga ada mahasiswa dari daerah satu mengikuti unit kesenian daerah satunya, contohnya teman saya yang orang Cirebon ikut unit kesenian Irian Jaya. Mempelajari budaya negeri sendiri itu memang menyenangkan.

Lagi, saya bukan mahasiswa yang ikut di unit kesenian tersebut. Tapi bukan berarti saya ngga cinta budaya, lho. Saya dulu sempat ikut di salah satu unit kebudayaan daerah tetapi keluar karena ngga cocok sama atmosfernya. Saya terlalu pendiam, yang lain terlalu friendly. Di sana saya jadi merasa bersalah karena orang-orang sungkan kalau berbicara dengan saya. Ya sudah, keluar. Tapi benar, saya cinta dengan kebudayaan Indonesia, apalagi kebudayaan Jawa. Lalu, apa patokan seseorang ‘mencintai’ budaya sendiri? Hem, tanya saja pada diri sendiri. Mencintai kadang tidak bisa dideskripsikan, kan? Setiap orang punya cara untuk mencintai sesuatu. Ya, dengan caranya sendiri.

Oke, sudah terlalu panjang ya kayaknya saya berceloteh tentang Indonesia. Saya bikin artikel yang nyampe dua part ini karena sedikit merasa ’kehilangan’ Indonesia yang sebenarnya. Saya disadarkan oleh trilogi film discover Indonesia yang ditonton di matakuliah biokonservasi. Baiklah, saya akan menemukan Indonesia yang hilang dalam pikiran saya, dan saya tidak akan biarkan lagi Indonesia tersesat –tersesat oleh waktu.


Bandung, 06 November 2013

Menemukan Indonesia (part 1)

“Indonesia adalah negara yang tersesat oleh waktu,” kala itu dosen mata kuliah biokonservasi mengulangi penggalan kalimat dalam film yang menerangkan tentang keragaman Indonesia. Mata kuliah ini saya pilih untuk menggantikan mata kuliah jurusan lain –lingkungan tambang yang diambil sebelum masa penggantian rencana studi atau PRS. Rumor-rumor nya sih paket A, yang mana jadi incaran kebanyakan mahasiswa. Tapi rencana saya mengambil ini jauh sebelum rumor itu terdengar. Saya memang tertarik dengan mata kuliah program studi biologi ini. Awalnya tidak jadi mengambil mata kuliah ini karena belum ada teman yang mengambil. Rasanya agak aneh juga kalau masuk ke kelas jurusan lain sendirian. Tapi pada akhirnya ada sekitar sebelas orang dari jurusan saya mengambil mata kuliah ini, setelah PRS tentunya.

Indonesia adalah negara yang tersesat oleh waktu. Saya suka sekali dengan kalimat itu walau sebenarnya kurang paham dengan maksudnya. Di tiga pertemuan awal kelas, dosen tidak mengajar dengan slide atau menulis di papan tulis. Mata kuliah ini berbeda. Kami hanya duduk manis di kelas, dan ‘bertugas’ untuk melihat ke layar putih di depan sambil mencatat hal yang sekiranya menarik dan belum diketahui. Ya, tiga minggu pertama kuliah kami hanya menonton film! Film yang diputar tersebut adalah ‘trilogi’ Discover Indonesia.

“Apa yang menurut kalian menarik dari film kemarin? Apa fakta yang baru kalian tahu?” mengawali kuliah, Pak Dosen melontarkan pertanyaan. Hey, apa yang menarik dari film kemarin? Tentang Indonesia? Rasa-rasanya biasa saja, sudah terlalu sering didengar di telinga. Mungkin beberapa ada yang berfikir seperti itu karena tidak ada satupun mahasiswa yang menjawab pertanyaan Pak Dosen.
“Jalak bali yang hanya tinggal empat belas ekor, pak,” saya menyahut perlahan. Ya, benar! Di film dokumenter tersebut dikemukakan bahwa jalak bali –yang notabene ikon pulau Bali itu tinggal EMPATBELAS EKOR saja.
“Baik, apa lagi?” Pak Dosen sepertinya menganggap hal yang ‘wow’ untuk ukuran saya itu tidak terlalu ‘wow’ untuk ukuran Pak Dosen. Maklum, saya bukan orang biologi pak jadi fakta tersebut masih terlalu mengejutkan buat saya.
“Eh… sawah di Pulau Jawa sudah ada dari duaribu tahun yang lalu, Pak,” dan saya angkat bicara lagi karena mahasiswa lain tidak ada tanda-tanda untuk bersuara. Benar lho, saya baru tahu fakta ini bahwa kehidupan rakyat Indonesia sudah begitu majunya di abad lalu. Saya kira peradaban manusia yang maju di Indonesia itu baru bermula saat kerajaan Kutai Kartanegara berjaya. Ah ya, buku sejarah yang saya baca masih minim yang menjelaskan tentang kehidupan di Indonesia sebelum kerajaan Kutai ada.
“Ya, menarik sekali,” Pak Dosen saat itu terlihat semangat. Mungkin apa yang saya lontarkan tadi memenuhi kehendak beliau. ”Di Pulau Jawa sudah ada sawah sejak duaribu tahun yang lalu. Peradaban di Jawa juga sudah berkembang. Dari dulu Pulau Jawa itu sudah padat penduduk. Kalian tahu kenapa?”
Mahasiswa yang di kelas saling pandang. Pasti banyak yang mau mengeluarkan pendapat, tapi takut salah dan disalahkan.
”Karena subur pak,” ada juga yang menyahut. Akhirnyaaa
”Benar sekali!” Pak Dosen tersenyum. ”Lalu kalau sekarang, kenapa Pulau Jawa masih juga padat? Padahal lahan pertanian berkurang lho!”
”Karena ada industri, pak. Di Pulau Jawa juga ada ibu kota, dan pusat perekonomian Indonesia juga ada di Pulau Jawa. Jadi, orang-orang berbondong-bondong untuk pergi ke Jawa,” mahasiswa lain ikut angkat suara.
”Benar benar. Manusia dari dulu memang mencari tempat dimana mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup. Dulu saat belum ada teknologi yang secanggih ini, manusia bergantung pada alam. Dimana ada lahan subur dan tanaman yang bisa dimakan, disitu manusia akan hidup. Sekarang dimana ada lapangan pekerjaan, disitu manusia akan hidup,”

Jadi ingat pelajaran masa sekolah dasar dulu bahwa urbanisasi kerap menjadi masalah besar. Angka urbanisasi yang melejit dibandingkan angka transmigrasi yang rendah membuat kota kota besar makin berkembang tetapi juga makin padat. Di samping itu, desa desa akan semakin lengang dan lambat berkembang. Usaha pemerintah saat ini sudah lumayan baik, ditandai dengan pembukaan lapangan pekerjaan baru di kota-kota kecil serta adanya pembangunan fasilitas yang memadai, agar penduduk desa tidak pindah ke kota.


Ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang Indonesia. Bertahun-tahun yang lalu saya sangat menyukai pelajaran sejarah, selalu menghabiskan waktu belajar untuk membaca buku pelajaran sejarah yang berisi tentang kisah-kisah kerajaan masa lampau. Bukannya sekarang saya tidak suka sejarah, tapi kehidupan kampus membuat saya hanya berangan-angan untuk membaca sejarah lebih dalam lagi. Trilogi film ’Discover Indonesia’ yang diputar saat kuliah biokonservasi membuat saya menjadi bersemangat lagi untuk menggali Indonesia, menemukan Indonesia yang sudah hampir hilang dari sisi lain saya. 
アイサ の ノート © 2014