Pages

Sabtu, 25 September 2010

Tentang Foto

Sabtu, 25 September 2010
Aku baru ganti foto profile. Hahaha. Udah lama sih, tapi mau sedikit cerita.

Itu Fotoku waktu kelas tiga SMA di lantai paling atas gedung Solo Grand Mall, Mall pertama di Solo. Aku nunjuk sebuah bangunan. Itu Solo Paragon, apartemen pertama dan satu-satunya di Solo. Hah..kota yang kecil dan damai. Aku jadi keingat Solo...

Jadi kangen masa SMA juga. Kangen pakai seragam itu lagi. Hahaha...

Aku pas SMA gendut ya? Sekarang sih turun lagi. Pas pulang ke rumah, Ibuk nanyain, di Bandung makan apa aja, hohohoho. Miriiiiis banget. Setiap hari cari buka gratis di masjid Salman (istilah nya PPT~Para Pencari Takjil, hohoho). Kadang juga ga sahur gara-gara HP nya masih mode silent. Huft. Alhasil bobotku turun hampir 4 kilo dalam sebulan. Amazing. Balik ke Bandung, Wuala!! Bobotku kembali lagi seperti semula.

~hoi Rahma, ingat, ini tentang Foto, bukan mudik atau sebagainya!!!

Ehm~iya.iya. Sudah ah caritanya, hahaha...

Pengalaman seharga tiga puluh ribu

Jum’at, 24 September 2010

Hari ini ada kejadian yang agak menjengkelkan.

Tok tok tok

Pintu kosan di ketok.

Saya membuka pintu. Ada ibu-ibu berdiri di depan pintu sambil bawa tumpukan kertas.

”Kami dari ----- mau memberi ini,” Si ibu itu ngasih selebaran. “..tolong ditempel di depan mbak, karena ini penting sekali.

”Ada apa buk?”
”Untuk pembasmian nyamuk demam berdarah. Ini wajib dipakai, aturan pakainya sepuluh” si ibu lalu menyodorkan bungkusan bubuk abate yang jumlahnya sepuluh.

o.. penyuluhan DBD...

”Satunya tiga ribu mbak,”

What?

”Harus dibeli, jadinya tigapuluh ribu,”

What? Kukira gratis...

”Nanti kami datang lagi untuk data teman-teman mbak,” kebetulan banget di saya lagi di kosan sendirian, sama Nadiyatur.

Lha ini bak kamar mandinya aja cuma satu, masa setiap anak harus beli sepuluh biji? Buat apa, coba?

”Ya sudah buk, sebentar saya ambil uang dulu,”

Saya masuk ke rumah kosan. Ga taunya si ibu-ibu bertiga nguntit masuk, padahal saya ga minta diikutin. Lagaknya maksa banget dan kepepet banget.

Di kamar, ada si Nadiya. Dia ditanya sama si ibu-ibu tadi.
“Mbak kosan dimana?”
“Saya di Taman Hewan, buk,”
“O.. kebetulan di Taman Hewan kami belum mendata, gimana kalo mbak saya data sekalian disini?” Maksaaaaaaa banget.
“Waduh buk, saya ga bawa uang...”

Si ibu langsung gimanaaa gitu. Habis nerima uang dari saya langsung keluar. Ada teman kosan yang baru pulang. Dia disodorin gituan juga. Dia kebingungan.

“Itu ngapain sih?” Saya ke depan setelah ibu-ibu tadi pergi.
“Saya juga ngga tau, tadi kamu suruh beli berapa? Tadi saya beli lima,” Dia ngeliatin barang yang tadi disodorin ke dia sama ibu-ibu.
“Loh? Lima? Saya aja dipaksa suruh beli sepuluh, buat apa, coba?”
”Iya, saya juga ngga tahu, si ibu maksa banget buat beli, terus si ibu bilang yang di sana aja beli sepuluh lho mbak,”

Ih.. kayak saya yang minta beli sepuluh, orang ibunya yang maksa suruh beli segitu. Sebel banget jadinya.

Ibu tetangga depan datang.
”Beli berapa neng?”
”Saya lima, dia sepuluh,” temen kosan saya cerita.
”Jadinya limabelas, ya? Sebenarnya tadi ibu sudah ngasih kode, jangan dibeli saja neng, itu ngga wajib kok,”

Waduh... uang tiga puluh ribu ku...

”Gimana lagi buk, orang nya maksa, saya ga tau harus gimana, saya kira wajib,” saya curhat. Hiks, sedih banget nih.

Kenapa tega ya si ibuk nipu anak kosan. Di sini susah-susahan malah di gituin. Tigapuluh ribu itu uang sakuku selama tuju hari pas SMA, dan uang makan ku dua hari pas Kuliah.

A... ngga rela ngga rela ngga rela!!!

”Sudah neng, namanya juga orang butuh, jadinya ya kaya gitu. Kalian mah orang baik, jadinya ya ngasih aja. Sabar ya neng, lain kali kalau disodorin begituan alasan aja, masih punya obat nya, atau baknya ga pernah di isi, ngga wajib beli neng,”

Huff... sebel banget dah. Untung aja si Nadiyatur ga ketipu. Dia malah bilang gini,
Hoi ma, ini sebungkus mah di pasar lima ratusan..

He?? Apa?? Udahlah Rahma... sudah, sudah, sudah... jadikan ini sebagai pengalaman...

D,A,M (N)

How could this happen to me
I made my mistake
Got nowhere to run
The night goes on as I’m fading away
I’m sick of this live
I just wanna scream
How could this happen to me

Lagu itu seriiiiing banget kudengar akhir-akhir ini. Siapa lagi yang nyetel lagu seperti itu kecuali M. Aku tahu dia dalam masalah dengan beberapa orang sekaligus dikelas. Ada dua tokoh. Sebut tokoh cewek A dan sebut tokoh cowok D.

Ceritanya waktu beberapa bulan setelah masuk Akselerasi, si D ndeketin si M dan dia terlalu menaruh harapan kepada M. Si M berharap buanyaaaaaaak banget sama si D. bahkan mereka berdua udah bikin perjanjian akan memulai sesuatu yang mungkin seperti pendekatan batin atau apalah~ setelah lulus SMA. Si M kan kalau SMA ga mau pacaran dulu, dia mau nunggu sampai lulus SMA. Nah, si D itu ternyata ingkar janji. Seperti ada sesuatu, dia ternyata juga naruh harapan yang sama terhadap A. Bedanya, si A mau diajak pacaran sama si D. tau-tau si M ditelantarin begitu aja sama D dan si D mulai tak menggubris M samasekali. Tentu saja M jadi marah. Dia jadi pendiam banget di kelas, sering pulang telat, dan nilainya banyak yang menurun. Aku kasihan dengan dia.

Mulanya aku samasekali ga tau ada masalah begituan, tapi dia ~ga tau kenapa~ cerita semua itu ke aku, padahal dalam keseharian dia bukan anak yang dekat dengan ku (ingat: aku masih sendiri, tanpa teman). Sejak saat itu dia suka curhat tentang apa yang ada di pikirannya. Aku simpati banget. Setiap dia curhat, dia selalu minta solusi. Tapi aku ga pernah bisa kasih solusi, karena aku sendiri belum pernah ngalamin hal itu dan berhasil keluar dari masalah seperti itu.

Dasar si D buaya, dia seenaknya aja pacaran sama A di depan si M tanpa memikirkan apa yang dirasakan si M.

Huff. Karena ga kuat nanggung bebean si M yang suka curhat ke aku, aku jadi bad mood terus. Suatu hari aku memutuskan buat cerita ke orang lain tentang masalah ini. Aku cerita sama teman SMP lewat e-mail. Dengan begitu bebanku agak berkurang.

Aku pernah memarahi M juga karena bukan hanya dia yang berada dalam masalah besar, ada orang lain yang lebih bermasalah dari dia. Aku selalu memberi dia motivasi agar tidak terpuruk.

Akhirnya M mulai sadar. Dia tak seharusnya selalu berada dalam jurang kepasrahan. Sedikit demi sedikit dia mulai beranjak lebih baik. Sekarang dia benar-benar ga mau pacaran. Kalo bisa langsung nikah wae (??). Dia pakai kerudung yang lebih lebar, dan menutup aurat lebih baik lagi. Alhamdulillah akhirnya dia sadar juga. Akhirnya juga, di SMA aku memulai kehidupanku yang baru dengan teman-teman. Aku juga berusaha menjadi teman yang baik agar setiap orang yang ada di dekatku merasa nyaman (ga berhasil nih, hahahaha, kalo mode lebay ON, semua orang lagaknya jadi menjauh).

Aku suka dirinya yang sekarang. Jika ada masalah, dia akan mencoba mengatasi masalah tersebut dengan kesenangan dan penjurusan ke hal yang lebih baik.

Hahaha.. udahan ah ceritanya..

BTW, si M ga mau namanya di sebut, sih, ga asik hohoho... dasaaaar...

Kukabulkan permintaanmu buat posting tentang kau...

Sekedar Tulisan

Kau pernah merasa tak dihargai?

Mungkin itu adalah salah satu keadaan dimana aku sering terjerumus didalamnya.

Hanya sekedar cerita.

Aku sering merasa tak dihargai. Atau mungkin ini hanya aku saja yang terlalu sensitif mengenai masalah ini?

Aku sudah berusaha menghargai orang lain, tapi kenapa dengan mereka?

Guruku pernah bilang, ”Hargai dirimu sebelum menghargai orang lain,”

Sebenernya yang bilang seperti itu sih guru yang samasekali tak kusukai.

Kata-katanya merasuk banget.

Mungkin aku terlalu menghargai orang lain tapi ternyata aku tak menghargai diriku sendiri.

Mungkinkah gara-gara itu banyak temanku tidak menghargaiku?

Sudahlah...

Mungkin gara-gara ada sisi dalam diriku yang membuat orang meremehkanku?

Mungkin gara-gara aku yang tak punya keberanian untuk mengungkapkan sesuatu terhadap apa yang kurasakan?

Mungkinkah...

Ya Allah, tunjukkan apa yang harus aku perbuat,

Tolong aku agar aku dapat mengatasi semua ini

Buat mereka tahu, bahwa aku juga bisa berfikir

Bahwa aku punya batas kesabaran

Bahwa aku juga perlu untuk dimengerti

Bahwa aku dirancang bukan hanya untuk menerima

Bahwa aku diprogram bukan hanya untuk memendam semuanya

Bahwa aku ini juga manusia yang lemah dan tak selamanya dapat menyerah terhadap keadaan...

Runaway

Kata-kata yang kutulis ketika patah semangat:

Aku selalu berfikir bodoh
Aku selalu membuat diriku rusak
Aku selalu membiarkan diriku bagai bangkai yang berjalan
Aku layaknya seonggok sampah yang paling busuk.
Aku tak tau gambaran apa yang paling tepat untuk menggambarkan diriku.
Aku benci bila sesuatu telah terjadi
Aku benci perubahan yang semestinya tak kurasakan
Aku benci sesuatu yang merusak,
Aku………..benci…


Aku berfikir, masa SMA adalah masa terindahku. Memang, tapi masa itu juga termasuk masa paling hancur. Entah kenapa aku merasa tidak ada yang mengerti aku sepenuhnya. Aku selalu dipaksa untuk mengerti semuanya, tetapi semuanya selalu saja tak mengerti aku. Aku selalu memendam perasaan sendiri.

Aku bahkan tidak pernah bercerita tentang sesuatu yang mengganggu pikiranku.

Aku ingin cerita, tetapi waktu dan kesempatan tidak mengizinkan aku untuk berbuat seperti itu. Masa SMA, teman-teman selalu mengira aku adalah anak yang selalu bahagia dan tanpa masalah. Tapi mereka SALAH BESAR. Aku penuh dengan masalah, masalah, dan masalah.

Aku ingin berontak. Aku ingin dunia mengetahui keberadaanku. Aku ingin semua orang tahu, bahwa ada aku di dunia ini. Aku ingin lepas dari semua ini. Aku ingin semua ini berakhir. Aku ingin...

Sekedar cerita.

Dulu aku sering banget dimintai curhat dengan teman. Mulanya aku simpati, tapi kemudian aku mengutuknya diam-diam di dalam pikiran, karena dia tidak pernah memberiku kesempatan untuk mencurahkan apa yang ada di dalam otakku. Aku tahu dia dalam masalah besar. Dia selalu menganggap dirinya adalah satu-satunya orang yang mempunyai masalah di dunia ini. Akhirnya kesabaranku jebol juga. Aku tak kuat menanggung masalahku sendiri dan masalah orang lain sekalligus. Dalam satu pertemuan, aku terus terang padanya bahwa aku juga butuh tempat untuk menceritakan masalahku. Sambil menangis, aku mengakui kalau aku sering sebal kalau dia bercerita tentang semua keluh kesahnya di depanku tanpa tau apa yang kutanggung selama ini.

Dia meminta maaf dan bilang kenapa aku tidak cerita. Aku jawab kalau aku tak mau membebani pikirannya. Dan lagi aku tak terbiasa bercerita tentang masalahku pada orang lain. Sudahlah, ini bukan salahnya. Harusnya rasa toleransiku diperbesar.

Aku harus kembali tersenyum.

Satu Cerita Tentang

Aku pernah ditanya beberapa teman.
”Rahma pernah patah hati?”

Hahaha. Aku hanya tertawa sambil menggeleng. Teman-teman semua tidak percaya.

Sebuah forum dibuka ketika aku sedang Study Tour di Jakarta. Waktu itu malam-malam setelah pulang dari wisata. Sekitar enam orang lebih berkumpul di kamar penginapan ku. Ada teman ku yang menangis. Katanya sih dia lagi sebel sama seorang cowok. Sebut saja temanku tadi E.

E tiba-tiba masuk kamar sambil nutup muka dengan kedua tangannya. Satu teman mengikutinya dari belakang sambil mengelus kepala si E.

”Ada apa sih?” aku mencoba bertanya. Penasaran dengan apa yang terjadi. Tak tahunya aku malah dimarahin sama si teman suruh diam. Aku diam dan urung bertanya lagi.

Si E cerita. Dia sih menaruh harapan sama seorang cowok, anak rohis SMA. Si cowok juga ngasih harapan ke dia, tapi malah si cowoknya itu berpaling~apalah istilahnya.

”Udah jelek, buaya-lagi,” si E mengumpat. Dia nutupin mukanya pake bantal.
Aku iseng nyeletuk, ”Udah tau jelek, kenapa suka?”

Jawabanku membuat teman-teman menahan tawa. Si E juga tersenyum, dan kembali nangis. Si teman yang tadi~ nyikut.

“Emang Rahma belum pernah ngrasain?” ada yang tanya. Sial, forum bebas, aku harus jawab.

Aku hanya menggeleng sambil tertawa. Teman-teman tidak percaya.

”Masa belum pernah?”

Aku menggeleng lagi.

”Dia tuh setia sama someone di SD nya,” Si E nyeletuk. Huft. Aku pernah cerita sama dia sih tentang teman SD yang menurutku amazing.
“Hah, apaan sih?”

“Rahma jangan sampe deh ngrasain patah hati kayak gitu, rasanya ga enak banget,” temen satu (sebut M) nambahin. Aku tau, dia juga dalam masalah yang sama.

Tau-tau teman-teman pada share-share tentang pengalaman jatuh cinta. Dari masalah pas SD ada yang naksir (bayangkan, SD, teman-teman!!), ngomongin aku dan someone di SD (juga SD nih), sampai nyebut-nyebut kasus si M. Aaah... masalah klasik banget sih. Itu masalah yang sangat pribadi. Aku agak sungkan untuk membicarakan hal tersebut. Aku memang selektif buat bermain-main dengan hal itu. Jangan terlalu jauh berfikir seperti itu. Ingatlah masih banyak hal yang lebih penting dari hal tersebut.

”Emang rasanya gimana?” aku bertanya~lagi.

Si E mulai reda dan bisa ketawa-tawa lagi. “Mau apa kau ngrasain?”

Aku jelas menggeleng. Siapa yang mau merasakan hal seperti itu? Hah.

Ya Allah lindungi aku dari semua hal yang buruk. Jika Engkau memberi masalah, berilah juga aku solusi agar aku tidak selalu berada dalam lingkaran kegelisahan. Amin.

Perbedaan

Pada dasarnya perempuan dan laki-laki itu sama. Hanya bentuk fisik dan ketajaman pikiran yang berbeda. Juga kromosom no. 23. apakah berbentuk X atau Y. Kadang bagian-bagian otak itu ada yang lebih sensitif. Letak kesensitifannya itu yang membedakan laki-laki dan perempuan.

Aku ingat ketika dosen SASku~yang kebetulan cowok~bercerita.

”Lemak di tubuh kita disimpan di permukaan kulit. Untuk perempuan disimpan di pinggul untuk melindungi ovarium. Yang laki-laki disimpan di depan, jadinya buncit. Entah kenapa alam lebih memihak kepada perempuan daripada laki-laki,”

Kata-kata terakhir...

”Pak, kalau alam lebih memihak perempuan, kenapa laki-laki harus melindungi perempuan?” ada anak cowok bertanya. Semua pandangan satu kelas berpusat padanya, termasuk aku. Pertanyaan yang ngga tahu kenapa, rasanya ada sesuatu yang mengalir di pikiranku.

Kenapa perempuan cenderung lemah? Kenapa setiap kali-laki harus melindungi perempuan? Kenapa aku merasa pertanyaan temanku tadi dalam banget maknanya?

”Kita laki-laki lebih kuat bagian atas, misalnya tangan. Kalau perempuan, otot tangannya tidak berkembang,” Pak Dosen lalu bercerita tentang bedanya perempuan dan laki-laki. Bahasanya mengena.

Kenapa ini lebih mirip pelajaran Filsafat daripada Sistem Alam Semesta?

Ada sesuatu yang rasanya susah untuk diungkapkan. Semula aku merasa kuat, sekarang aku merasa rapuh. Entah kenapa ada sesuatu yang membuatku berfikir. Aku seorang perempuan. Dulu aku pengen banget jadi laki-laki. Tapi dipikir-pikir laki-laki itu punya tanggung jawab besar. Entah kenapa dari detik itu aku bahagia bahwa aku diciptakan sebagai seorang perempuan. Entah kenapa ada sesuatu yang masuk ke alam bawah sadarku dan membisikkan sesuatu tentang masalah tersebut.

Guru Sejarah SMA pernah bilang,

”Perempuan diciptakan dari tulang rusuk lai-laki. Tulang rusuk itu bengkok, tidak bisa diluruskan secara paksa. Kalau dipaksa akan patah. Begitu uga perempuan. Tidak bisa langsung diberi pengertian, harus pelan-pelan agar lurus dan tidak patah,”

Ah..

Dunia..

Sambut aku..

Sekarang aku berubah. Aku telah menjadi diriku sendiri. Sekarang, esok, dan seterusnya.

Senin, 20 September 2010

Jomplang!

Senin, 20 September 2010

Pernah memperhatikan kedua sisi badanmu? Adakah yang berbeda?

Haiah.

Saya penasaran waktu saya beli sepatu. Kenapa yang bagian kiri pas, sedangkan yang kanan longgar??

Ternyata Allah menciptakan segala sesuatu itu tak sama persis, yah,

Katanya –katanya nih, itu hal biasa. Yang normal itu yang kanan biasanya lebih besar dari bagian kiri. Hah, masa sih? Kalo gitu saya...

Kaki kanan saya ukur sepatu 38, yang kiri ukur 39 (he???)
Telapak tangan saya kalo di megar-in yang kanan 20cm yang kiri 21cm...

Jadi bingung. Kakak sama ibu saya yang kanan yang lebih besar, kalo si bapak mah yang kiri yang lebih besar...

Lho-lho-lho... ini saya mau posting apa coba?

Cuma gitu wae? Just it?

*kayaknya iya deh cuma posting ini wae. Kelihatan banget ya kalo saya kurang kerjaan, haha...
アイサ の ノート © 2014