Pages

Minggu, 17 November 2013

HALO JEKARDAH!! - PART 2 (Mari ke Event JASSO)

Minggu, 17 November 2013

Halo halo halo lagiiii~~~ setelah saya berceloteh di part 1 tentang perjalanan (dan ke pending karena ga ada kuota pas mau posting ini huhu), sekarang waktunya untuk berceloteh lagi tentang hal lain *padalah udah ke skip beberapa postingan, tapi ya udah lah ya. Setelah mengalami berbagai rintangan (baca: malas melanjutkan dan kuota habis pas mau posting) akhirnya saya bisa ngepost ini juga :3*. Hal lain apa tuh??? ada di judul kok :p #plaak. Iya, saya mau bahas tentang Event JASSO di JCC Senayan kemarin tanggan 27 Oktober~~~ :D

Oke, saya dapat info tentang event ini dari situs jejaring sosial yang sering kalian buka (FB maksudnya), di situ ada poster yang di share sama teman saya. Intinya, ada sebuah event education fair yang diselenggarakan di Jakarta dan Surabaya. Di Surabaya tanggal 26, di Jakarta nya tanggal 27. karena Bandung lebih dekat ke Jakarta *apasih* jadi saya dan kakak memilih pergi ke Jakarta deh. Oh iya, bagi yang belum sempat datang ke event kemarin, jangan sedih huhu karena ini event tahunan yang rutin diselenggarakan. Tunggu saja tanggal mainnya tahun depan :3
 
poster nya yang bertebaran di media digital~
JASSO itu singkatan dari Japan Student Services Organization. Sesuai namanya, JASSO melayani pertanyaan-pertanyaan seputar studi di Jepang. Kalau mau nanya lebih lanjut tentang gimana alur kuliah ke Jepang, studi di sana gimana, beasiswanya apa aja, bisa nanya ke sana langsung :D. Bisa juga visit web nya di : Jasso.or.id

Awal tahun 2013 dulu ada event sejenis di ITB. Sekitar Februari akhir kalo ga salah, ada juga education fair sejenis dari JASSO ini, tapi dikhususkan untuk G30 –bukan G30S/PKI lho tapi Global 30 yaitu program khusus dari universitas di Jepang untuk menyelenggarakan kuliah berbahasa Inggris. Stand-stand nya juga banyak. Kalau kemarin pas JASSO, ada 40-an stand universitas mulai dari universitas negeri, swasta, technical university, sekolah bahasa, sampai yang budaya.

Jadi di education fair ini ada berbagai stand universitas. Tiap orang bisa nanya langsung ke stand universitas, tentang jurusan yang ada sampe syarat dapat beasiswa. Sebenarnya selain nanya di stand, ada seminar juga di ruangan lain tapi selalu penuh setiap sesi T^T yang ada di dalam ga keluar gantian sama yang lain huhu. Seminarnya itu isinya mulai dari pengenalan JASSO sampai gimana cara daftar ke universitas di Jepang. Yaudah deh ga ngerti secara langsung. Tapi no problemo, masih bisa searching di internet kok. Banyak info bertebaran di sana.

Di stand-stand itu yang ngisi bukan cuma professor atau mahasiswa dari Jepang kok, tapi ada juga mahasiswa Indonesia yang kuliah di universitas tersebut. Jadi beberapa yang ga bisa bahasa inggris atau jepang ya nanya ke mahasiswa nya hehe. Agak speechless juga ngedenger ada orang Indonesia nanya langsung ke universitas pake bahasa jepang yang lancar huaaa~~ ._. *kapan ya bisa ngomong fasih~~. Tapi kebanyakan ya nanya pake bahasa inggris kalo pengen tahu lebih dalam.

Yang saya kagumi, ada beberapa stand universitas yang menyediakan brosur khusus berbahasa Indonesia huaa~~ dan professor nya juga ramah-ramah~~ kalo nanya yang orang Indonesia malah agak susah (ya karena banyak yang ngerubung dan nanya nya banyak soalnya ga bisa bahasa inggris atau takut berbahasa inggris hehe) jadi begitulah.

Stand yang saya dan kakak kunjungi itu ada Osaka daigaku, Hiroshima daigaku, Tohoku daigaku (kyaakyaa), waseda, kyoto, stand JASSO, sama stand kedutaan besar Indonesia. Pokoknya, beasiswa yang ditawarkan itu biasanya monbuko gakusho alias beasiswa dari pemerintah Jepang. Buat persyaratan kayaknya udah banyak nyebar di internet, bisa cari sendiri lah ya~~#plaaak. Terus kalau mau masuk ke universitas tertentu dengan jalan ‘agak mudah’ itu ada triknya. Trik yang dibagi (dari staf universitas di sana lho) yaitu dengan ‘merayu’ professor universitas yang pengen kita masukin. Yang pasti, professor yang bidang keahliannya sama dengan minat kita. Nah, kalian bisa kirim email ke professor tersebut, menjelaskan tentang permohonan rekomendasi masuk universitas, kenapa harus merekomendasikan saya, terus sertakan juga abstrak riset yang mau dilakukan (kalo mau jadi mahasiswa research). Nah, kalo udah dapat rekomendasi dari professor di sana, katanya bisa lebih mudah diterima –maksudnya peluang diterimanya lebih banyak kya kya kyaa~~


Ehm, karena kecapean muter-muter Jekardah, kami ngga keliling lama. Cuma total satu setengah jam keliling di event tersebut hoho, sisanya ngisi kuesioner dan dapat pin kece :3. oke, mungkin hanya ini yang bisa saya bagi dari terselenggaranya event kemarin. Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba!! :D

Rabu, 06 November 2013

Menemukan Indonesia (Part 2 -end)

Rabu, 06 November 2013
”Sekarang tiket ke Singapura sama ke Sulawesi lebih murah ke Singapura. Ya mending ke Singapura kalo gitu,” suatu kali saya berceloteh dengan teman saya, membicarakan tentang biaya pesawat yang lebih murah ke luar negeri daripada ke bagian timur negara sendiri. Ingat ini juga karena di situs jejaring sosial banyak yang meng-upload foto mereka saat di luar negeri.
”Kalau harga nya sama pun akan tetap pilih ke luar negeri, krena titel ’luar negeri’ itu sendiri bikin bangga,” teman saya menyahut. Memang benar sih, kalau sudah ke luar negeri itu rasanya bagaimanaa gitu.
”Mengeksplor Indonesia itu jauh lebih mahal daripada ke luar negeri,” atau ini gara-gara saya yang tidak pernah backpacking ya? Ah ya, saya ingat perkataan dosen matakuliah Kesehatan Lingkungan Kerja. Beliau hobi diving, yang pastinya itu bukan hobi yang ’murah’.
”Ini kalian lihat, ekosistem di Raja Ampat itu sebegitu indahnya,” kala itu pak Dosen memperlihatkan foto-foto beliau ketika menyelam di Raja Ampat. Sebelumnya beliau menjelaskan tentang prosedur menyelam yang benar agar tidak celaka saat bekerja di bawah air.
”Saya dulu kalo ngga dibayarin sama UNESCO juga ga akan ke Raja Ampat,” pak Dosen tertawa. ”Bisa sampai habis tigabelas juta satu minggu di sana,” wow, semahal itu? hem.. bisa jadi ada rupa ada harga, untuk menyelami lautan paling produktif di dunia ini. Indonesia punya semuanya, dari kutu air sampai paus sperma. Tapi tigabelas juta itu.... tetap saja mahal.

Ada satu teman saya yang lain, dia sangat bersemangat untuk mengajak berkolaborasi menulis tentang kehidupan mahasiswa yang cinta dengan Indonesia. Teman saya yang satu ini sangat semangat menjalani hidupnya sebagai mahasiswa, makannya beliau mengajak saya untuk menulis novel yang menceritakan tentang tema tersebut. Awalnya saya agak kesulitan mengikuti ritme kerja beliau, tapi ditengah-tengah saya mulai bisa menyamainya. Yah walau masih tetap sering ngaret sih hehe. Karena menulis tentang kehidupan mahasiswa yang kritis dan cinta Indonesia –lebih menggambarkan tentang teman saya ini bukan ke saya, makannya saya berusaha untuk mengimbangi pola pikirnya yang super itu. Saat asyik tumblr-ing, saya menemukan sebuah artikel yang direblog oleh Kuntawiaji (kalau yang punya tumblr pasti tahu). Yang  membuat saya melongo dan membaca artikelnya saat itu juga adalah baris pertama yang menyebutkan bahwa ”Indonesia itu kayak cewek cantik, tajir, tapi bodohnya minta ampun”. So Jleb banget lho. Dari kalimat itu saya jadi berfikir banyak tentang Indonesia ini. Indonesia yang cantik, Indonesia yang kaya... tapi Indonesia tidak bodoh. Penghuninya lah yang bertindak bodoh. Mungkin bodoh karena tidak tahu –atau pura-pura tidak tahu.

Ingat tentang cerita Ring of Fire? Indonesia adalah negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia, yaitu berjumlah 155 buah yang tersebar di pulau-pulau di Indonesia. Adanya gugusan gunung berapi tersebut membuat tanah di sekelilingnya subur. Setiap ada erupsi, dalam selang waktu tertentu luapan lava yang mengering itu akan menjadi lahan yang subur. Ingat tentang Pulau Jawa tadi? Kalau lahan subur berarti akan ada vegetasi atau tanaman yang tumbuh subur. Tanaman yang subur adalah sumber makanan dari spesies lain. Di situ, ekosistem baru akan terbentuk. Selain kaya akan jenis tanaman, Indonesia juga kaya dengan berbagai jenis spesies. Kembali ke film Discover Indonesia yang kami lihat dulu, banyak sekali spesies yang belum saya ketahui. Saya juga baru tahu bahwa orangutan di Sumatera tinggal di pohon, sedangkan di Kalimantan orangutan tinggal di tanah. Saya juga baru tahu, burung kasuari di Papua dapat ‘ditukarkan’ dengan seorang isteri.

Berbicara tentang spesies hewan dan tanaman, bagaimana dengan manusianya sendiri? Bisa ditebak, Indonesia juga punya berbagai ‘jenis’ manusia. Indonesia punya ratusan suku bangsa, yang menjadikannya kaya akan budaya dan bahasa/dialek daerah terbanyak kedua di dunia. Suku bangsa, bahasa, dan budaya ini terbentuk tidak secara instan. Budaya yang terjaga aman serta diwariskan secara turun menurun tersebut membuat Indonesia semakin istimewa.

Saya adalah salah satu manusia Indonesia bersuku Jawa. Dari lahir sampai SMA, di sekeliling saya semuanya orang Jawa. Saya belum merasakan bagaimana rasa keberagaman yang sebenarnya. Sampai ketika saat usia saya menuju tujuhbelas, saya merantau ke Bandung untuk menuntut ilmu di sebuah Institut Teknologi yang cukup terkenal di Indonesia. Dari tempat kehidupan yang baru tersebut, saya bertemu dengan orang-orang yang membuat saya semakin merasa bahwa Indonesia itu istimewa. Pada awal-awal kuliah, saya hanya berbaur dengan orang yang berbahasa sama, yaitu bahasa Jawa. Agak aneh juga, seperti menjadi bahan tertawaan mendengar saya berbicara bahasa Indonesia dengan aksen medhok karena tidak terbiasa berbicara dengan bahasa nasional ini. Tapi karena ciri khas ini, saya bisa memulai pembicaraan dengan teman dari daerah lain. Beberapa ada yang bertanya “apa bahasa jawa nya kata ini?” dan beberapa juga ingin diajari tulisan Jawa hanacaraka itu.

Memangnya apa yang bisa dilakukan mahasiswa untuk ikut serta dalam mempertahankan budaya Indonesia? Mungkin banyak yang bertanya tanya tentang itu. Mahasiswa itu bisa apa? Wah, sebenarnya mahasiswa itu bisa banyak lho karena belum terikat apapun hehe. Di kehidupan kampus yang ‘seperti ini’, kami tetap cinta Indonesia. Mahasiswa di kampus kami banyak yang mengikuti unit kebudayaan daerah yang dapat dikategorikan sebagai upaya pelestarian budaya. Tidak jarang juga ada mahasiswa dari daerah satu mengikuti unit kesenian daerah satunya, contohnya teman saya yang orang Cirebon ikut unit kesenian Irian Jaya. Mempelajari budaya negeri sendiri itu memang menyenangkan.

Lagi, saya bukan mahasiswa yang ikut di unit kesenian tersebut. Tapi bukan berarti saya ngga cinta budaya, lho. Saya dulu sempat ikut di salah satu unit kebudayaan daerah tetapi keluar karena ngga cocok sama atmosfernya. Saya terlalu pendiam, yang lain terlalu friendly. Di sana saya jadi merasa bersalah karena orang-orang sungkan kalau berbicara dengan saya. Ya sudah, keluar. Tapi benar, saya cinta dengan kebudayaan Indonesia, apalagi kebudayaan Jawa. Lalu, apa patokan seseorang ‘mencintai’ budaya sendiri? Hem, tanya saja pada diri sendiri. Mencintai kadang tidak bisa dideskripsikan, kan? Setiap orang punya cara untuk mencintai sesuatu. Ya, dengan caranya sendiri.

Oke, sudah terlalu panjang ya kayaknya saya berceloteh tentang Indonesia. Saya bikin artikel yang nyampe dua part ini karena sedikit merasa ’kehilangan’ Indonesia yang sebenarnya. Saya disadarkan oleh trilogi film discover Indonesia yang ditonton di matakuliah biokonservasi. Baiklah, saya akan menemukan Indonesia yang hilang dalam pikiran saya, dan saya tidak akan biarkan lagi Indonesia tersesat –tersesat oleh waktu.


Bandung, 06 November 2013

Menemukan Indonesia (part 1)

“Indonesia adalah negara yang tersesat oleh waktu,” kala itu dosen mata kuliah biokonservasi mengulangi penggalan kalimat dalam film yang menerangkan tentang keragaman Indonesia. Mata kuliah ini saya pilih untuk menggantikan mata kuliah jurusan lain –lingkungan tambang yang diambil sebelum masa penggantian rencana studi atau PRS. Rumor-rumor nya sih paket A, yang mana jadi incaran kebanyakan mahasiswa. Tapi rencana saya mengambil ini jauh sebelum rumor itu terdengar. Saya memang tertarik dengan mata kuliah program studi biologi ini. Awalnya tidak jadi mengambil mata kuliah ini karena belum ada teman yang mengambil. Rasanya agak aneh juga kalau masuk ke kelas jurusan lain sendirian. Tapi pada akhirnya ada sekitar sebelas orang dari jurusan saya mengambil mata kuliah ini, setelah PRS tentunya.

Indonesia adalah negara yang tersesat oleh waktu. Saya suka sekali dengan kalimat itu walau sebenarnya kurang paham dengan maksudnya. Di tiga pertemuan awal kelas, dosen tidak mengajar dengan slide atau menulis di papan tulis. Mata kuliah ini berbeda. Kami hanya duduk manis di kelas, dan ‘bertugas’ untuk melihat ke layar putih di depan sambil mencatat hal yang sekiranya menarik dan belum diketahui. Ya, tiga minggu pertama kuliah kami hanya menonton film! Film yang diputar tersebut adalah ‘trilogi’ Discover Indonesia.

“Apa yang menurut kalian menarik dari film kemarin? Apa fakta yang baru kalian tahu?” mengawali kuliah, Pak Dosen melontarkan pertanyaan. Hey, apa yang menarik dari film kemarin? Tentang Indonesia? Rasa-rasanya biasa saja, sudah terlalu sering didengar di telinga. Mungkin beberapa ada yang berfikir seperti itu karena tidak ada satupun mahasiswa yang menjawab pertanyaan Pak Dosen.
“Jalak bali yang hanya tinggal empat belas ekor, pak,” saya menyahut perlahan. Ya, benar! Di film dokumenter tersebut dikemukakan bahwa jalak bali –yang notabene ikon pulau Bali itu tinggal EMPATBELAS EKOR saja.
“Baik, apa lagi?” Pak Dosen sepertinya menganggap hal yang ‘wow’ untuk ukuran saya itu tidak terlalu ‘wow’ untuk ukuran Pak Dosen. Maklum, saya bukan orang biologi pak jadi fakta tersebut masih terlalu mengejutkan buat saya.
“Eh… sawah di Pulau Jawa sudah ada dari duaribu tahun yang lalu, Pak,” dan saya angkat bicara lagi karena mahasiswa lain tidak ada tanda-tanda untuk bersuara. Benar lho, saya baru tahu fakta ini bahwa kehidupan rakyat Indonesia sudah begitu majunya di abad lalu. Saya kira peradaban manusia yang maju di Indonesia itu baru bermula saat kerajaan Kutai Kartanegara berjaya. Ah ya, buku sejarah yang saya baca masih minim yang menjelaskan tentang kehidupan di Indonesia sebelum kerajaan Kutai ada.
“Ya, menarik sekali,” Pak Dosen saat itu terlihat semangat. Mungkin apa yang saya lontarkan tadi memenuhi kehendak beliau. ”Di Pulau Jawa sudah ada sawah sejak duaribu tahun yang lalu. Peradaban di Jawa juga sudah berkembang. Dari dulu Pulau Jawa itu sudah padat penduduk. Kalian tahu kenapa?”
Mahasiswa yang di kelas saling pandang. Pasti banyak yang mau mengeluarkan pendapat, tapi takut salah dan disalahkan.
”Karena subur pak,” ada juga yang menyahut. Akhirnyaaa
”Benar sekali!” Pak Dosen tersenyum. ”Lalu kalau sekarang, kenapa Pulau Jawa masih juga padat? Padahal lahan pertanian berkurang lho!”
”Karena ada industri, pak. Di Pulau Jawa juga ada ibu kota, dan pusat perekonomian Indonesia juga ada di Pulau Jawa. Jadi, orang-orang berbondong-bondong untuk pergi ke Jawa,” mahasiswa lain ikut angkat suara.
”Benar benar. Manusia dari dulu memang mencari tempat dimana mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup. Dulu saat belum ada teknologi yang secanggih ini, manusia bergantung pada alam. Dimana ada lahan subur dan tanaman yang bisa dimakan, disitu manusia akan hidup. Sekarang dimana ada lapangan pekerjaan, disitu manusia akan hidup,”

Jadi ingat pelajaran masa sekolah dasar dulu bahwa urbanisasi kerap menjadi masalah besar. Angka urbanisasi yang melejit dibandingkan angka transmigrasi yang rendah membuat kota kota besar makin berkembang tetapi juga makin padat. Di samping itu, desa desa akan semakin lengang dan lambat berkembang. Usaha pemerintah saat ini sudah lumayan baik, ditandai dengan pembukaan lapangan pekerjaan baru di kota-kota kecil serta adanya pembangunan fasilitas yang memadai, agar penduduk desa tidak pindah ke kota.


Ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang Indonesia. Bertahun-tahun yang lalu saya sangat menyukai pelajaran sejarah, selalu menghabiskan waktu belajar untuk membaca buku pelajaran sejarah yang berisi tentang kisah-kisah kerajaan masa lampau. Bukannya sekarang saya tidak suka sejarah, tapi kehidupan kampus membuat saya hanya berangan-angan untuk membaca sejarah lebih dalam lagi. Trilogi film ’Discover Indonesia’ yang diputar saat kuliah biokonservasi membuat saya menjadi bersemangat lagi untuk menggali Indonesia, menemukan Indonesia yang sudah hampir hilang dari sisi lain saya. 

Selasa, 05 November 2013

Terus Bergerak!!

Selasa, 05 November 2013
Kalau sedang galau, sedang tidak dalam kondisi yang memungkinkan, apakah itu bisa jadi alasan untuk ‘tetap ditempat’? Tidak. Kita harus bergerak, harus terus bergerak.

Hey, mereka memandang rendah, mereka meragukanku, bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa!!!

Ah, acuhkan saja. Mereka itu siapa? Siapa mereka? Mereka hanya sekumpulan makhluk yang tidak mengetahui apapun dari dirimu. Hanya Kau dan Tuhanmu lah yang mengerti tentang keadaanmu yang sebenarnya. Terus saja bergerak, terus saja melangkah. Abaikan abaikan abaikan segala caci maki dan kalimat yang merendahkan itu. Percaya saja, kau pasti bisa! Halangan seperti ini tidak akan membuatmu runtuh, kan?

Tatap ke depan, dan terus berjalan. Tetap bergerak dan teruslah bergerak. Gapai semua impian yang kau inginkan, dan kau akan temukan kebahagiaan. Dan kau akan temukan kebahagiaan.  

DNA – Monkey Majik

Sebenarnya Monkey Majik sudah mengeluarkan album ini sejak tanggal 16 Oktober kemarin, tapi saya baru bikin ulasannya sekarang. Kyaaa suka banget sama album ini~~ huhu pengennya beli albumnya yang asli tapi ngeliat harganya…. ehm. Baiklah, mungkin nunggu ke Jepang dulu kali ya biar ga nambah ongkos kirim yang super mahal haha…..ngayal -_-. Baiklah, saya akhirnya ngedonlot albumnya yang muncul beberapa hari kemudian di internet. Semoga nanti bisa punya album yang asli yaaaa T^T
 
gambar diambil dari folder donlotan
Di album ini berisi lagi-lagu yang menurut saya terbilang “fresh”. Beberapa orang sependapat dengan saya, kalo album ini punya “rasa” yang agak beda dari album-album sebelumnya. ga tau ya~~ ini pendapat saya lho, karena saya bukan ahli dalam bidang membanding-bandingkan seperti ini -_-.

Alive adalah lagu yang pertamakali bocor. Muncul di iTunes dan dijual duluan, jadi saya paling akrab sama lagu ini. Daaaan pas pertama dengerin langsung muter ini lagi lagi lagi dan lagiiii~~~ addict banget *atau saya yang terlalu freak?. Pas ndengerin Alive, saya bayangin MV nya itu orang kantoran yang jenuh sama pekerjaannya terus pas kerjaannya selesai dia seneng-seneng hehe tapi ternyata ngga begitu -_-. Beberapa waktu kemudian MV nya muncul dan taraaa~~ begitulah.

Di album ini ada lagu baru dan juga ada lagu lama. Ini list nya:
1. Free to Fly
2. Forever Young
3. Suna no Shiro (white sand)
4. Alive
5. Don’t Wake Me Up
6. Gravity
7. Polygon
8. Save the Last Dance
9. Traveler
10. If
11. The Apprentice
12. Story
13. Headlight – monkey majik japan tour
14. A Christmast Song

*Yang di atas ga urut track nya ya

Di album ini ada 14 track, sembilan lagu baru dan lima lagu lama. Terus terus terus, apa lagu favorit ane?? Hhaha, saya paling suka sama Free to Fly, yang kedua Alive, yang ketiga Forever Young, dan yang ke empat Suna no Shiro. Eh? Kok ga semua? Aku suka semuanya koook tapi yang paling sering diputar empat itu. coba aja sendiri :3. ini karena saya merindukan lagu baru *apasih -_-

Sudah di bilang tadi, irama yang didengarkan kayak bukan Monkey Majik yang dulu. Pertama denger kayak nyrempet ke country terus pernah jadi inget musiknya Owlcity. Tapi kalo didengerin berkali-kali, jadi kerasa lho :D –semoga kalian mengerti apa yang saya maksud. Dan BTW, semua lagu baru itu saya nangkep ’isi’ dari semua lagu itu hampir sama. Bercerita tentang melepaskan kepenatan dari hidup, lalu melakukan hal yang disukai. Begitu. Ehtapi saya belum baca translate nya lho bahkan -_-. Cuma asal ikut nyanyi dan belum berniat untuk mengartikan sendiri haha.

Oh ya btw lagi, di album ini lagu barunya agak ‘miskin’ dengan judul bahasa jepang. Yang pake judul jepang cuma Suna no Shiro doang~~ ya udah lah ya yang lagu lain juga ada jejepangannya kok tenang saja hehe.

Oke, baiklah. Mungkin sekian review ga jelas dari album DNA dari Monkey Majik. Selamat mendengarkan :D


Senin, 28 Oktober 2013

HALO JEKARDAH!! –PART 1 (Bagaimana Cara ke Jakarta dari Bandung)

Senin, 28 Oktober 2013

Halo halo!!! Bagaimana kabarnya?? Baik? Sehat? Semoga selalu dalam kondisi yang menyenangkan yaa aamiin :D. BTW, udah lama saya ga memposting sesuatu yang fresh #plaak hehe. Maksudnya disini, saya kemarin-kemarin lagi sedikit suka nyastra nih uhuk :3 dan sekarang mau balik lagi ke dunia nyata: kembali lagi.

Baiklah, minggu kemarin saya UTS, jadi ga posting yang aneh-aneh *padahal postingan sebelumnya saya post pas UTS lho hoho* jadi saya sekarang memutuskan untuk posting curcol kyaa #lemparsendal

Minggu, 27 Oktober 2013 ada satu acara di Jakarta, namanya Japan Education Fair yang diselenggarakan oleh JASSO. Apa itu JASSO? JASSO adalah Japan S* S* Organization :3. Education Fair ini diselenggarakan dua kali lho, yaitu di Surabaya tanggal 26 nya, dan di Jakarta tanggal 27 nya. Beberapa hari sebelum ke festival ini, saya berfikir panjang. Kenapa harus di Jakarta?? Saya baru ke Jakarta satu kali pas study tour SMA, belum pernah kesana lagi ._. harus naik apa? Gimana nanti nasib saya disana? *abaikan

Oke, akhirnya tetap ke sana juga, bersama kakak Ayik yang ternyata mau ke event JASSO juga. Kyaaa akhirnya ada teman kyaa ke Jakarta kyaaa naik busway kyaaaa *sebenarnya transjakarta sih, busway itu jalurnya -_-

Baiklah, saya disini mau berceloteh tentang dua hal: perjalanan kami, dan acara itu sendiri. Yak oke, saya mau cerita yang pertama yaa~~

Karena kakak anak UNPAD Jatinangor, jadinya kami berangkat dari Jatinangor hehe. Oh iya, lokasi event JASSO itu di Jakarta Convention Center di Senayan (jalan Gatot Subroto). Kami berdua SUPERDUPERBUTA Jakarta. Untung sih ada google, jadi kita donlot gambar jalur busway transjakarta dan mengira-ira bakalan naik yang jalur mana. Lihat jalur kayak gitu aja udah bingung apalagi nanti lihat jalur shinkansen yak?? *menghayaldanmenerawang

Baiklah, jadi kita harus bagaimana untuk mencapai Jakarta??? Itu, tahap pertama sudah saya kasih tau. Katakan peta! Dan begitulah #plaak. Oke, saya akan sedikit lebih serius. Jadi setengah tujuh pagi kami –aku dan kakak pergi ke pertigaan Cileunyi dan nunggu bis PrimaJasa (bisa pake Tasik-Jakarta atau Garut-Jakarta). Pilihan jatuh ke bus ini karena lebih murah. Mau tahu harganya berapa? Buat satu kali jalan Cileunyi – Jakarta, kita cukup bayar 30ribu. Bandingin sama kereta yang 45 ribu (seat terbatas) dan travel yang nyampe 75ribu. Oh iya, bus ini tipenya AC Ekonomi. Pake AC tapi seatnya agak sempit. Ga apalah ya, saya kan kurus (ini bohong kok, tapi beneran ga masalah. Ukuran seat nya masih normal). Di bus ada pembatasnya, yang bagian belakang adalah smoking area. Ga terlalu ganggu menurut saya. Tapi masi rada bau rokok ._.

Setelah naik bus kira-kira dua jam, sampai lah kami pada pangkalah PrimaJasa. Letaknya di dekat PGC atau Pusat Grosir Cililitan. Yak lanjut ke step dua: naik transjakarta yeay!!!

Naik transjakarta cukup dengan 3500 rupiah sekali jalan. Saya kira kalo ganti halte harus bayar (misal harus nyambung) ternyata tidak, saudara-saudara!!! Halte yang kami pilih adalah yang berada di hampir depan pangkalan, yaitu halte BKN. Di setiap halte ada peta jalur kok, jadi kalo bingung mau naik apa tinggal lihat peta :D. Dari apa yang kami lihat, kalau mau ke JCC senayan cuma butuh sekali naik busway koridor 9, tapi ternyata hari ini ada tantangan khusus. Apa itu? Jeng jeng jeng ~~~

”Wah ke Senayan tutup,” mbak-mbak yang menjaga loket melumpuhkan kebahagiaan hari ini.
Hah? Tutup?
”Itu ada pengumumannya,” lalu mbak-mbak tersebut menunjuk ke arah kertas ukuran A4 di samping loket. Bah! Beberapa jalur ditutup karena ada jakarta marathon. Kyaaaa lupa kyaaaaa terus kami harus gimanaaaa

Dan akhirnya saya dan kakak memutuskan untuk putar-putar dulu, jari jalur lain. Pilihan kami jatuh pada jalur Matraman, terus pindah ke Dukuh Atas 1 lalu jalan ke Dukuh Atas 2 dan baru menuju ke bendungan hilir, jalan ke semanggi terus nyampe ke JCC senayan.

Sekitar pukul setengah sebelas, uda nyampe tuh di Dukuh Atas. Dan ternyata akses jalan ke Dukuh Atas 2 masih ditutup. Prediksi sampe jam 11 doang jadinya kami keluar shelter dan jalan ke D.A 2 lewat luar. Beneran sepi karena gate jalan belum dibuka. So, kita makan dulu dipinggir jalan #bawabekal #hemat habis itu lanjut ke DA2. eh ternyata eh ternyata, halte dibuka jam 12!!!!!! Aaaaarrrrgggghhhh oke, akses ke Senayan ditutup pake banget, dan sebagai amatiran kami ga mau ambil resiko. Akhirnya ngalah, nunggu sampe jam 12. jam 12, uda pada ngantri di loket nih, tapi kebahagian lagi-lagi bobrok karena dijelaskan bahwa bus yang lewat halte ini belum keluar kandang. Mau teriaaaakkkk *mana sakit perut lagi huhu*. Karena ga sanggup lagi nunggu satu jam, akhirnya putusin pindah halte. Oke, benar-benar pindah halte.

Kita jalan lagi ke DA1, beli tiket lagi deeh :””” padahal kalo tadi ga keluar halte ga usah bayar lagi ya haha. Oke lupakan kisah sedih ini. Jadi dari halte DA1, naik transjakarta yang berhenti sampai kuningan timur. Dari kuningan timur jalan dulu ke halte kuningan barat, setelah itu naik sekali yang ke Senayan. Kyaaaaa kita nyampe di JCC senayan yang letaknya persis samping tangga turun halte jam satu seperempat :”””””) untung gerak cepat yaa kalo nunggu di DA2 mungkin sampe jam dua belum juga nyampe huhu.

Masuk ke JCC nyaa~~ rame banget lho! Karena lagi ada acara gitu sama rokok Dj*rum, terus ada acara wisudaan juga dan ada acara anak-anak juga. Gedungnya besar sekaliiiii *harap maklum saya anak desa*.

Sebelum masuk ke pameran, saya dan kakak solat dulu. Letak musholla nya itu di ujung barat-utara. Bagian paling barat, terus jalan ke kanaaaan sampe mentok. Itu ada musholla di situ. Kami solat dulu :D

Okeee~~ ini akhir dari part 1 yaa biar ga kepanjangan :3. acara JASSO nya di part 2 hehe

Btw ini adalah metode yang harus digunakan untuk ke JCC Senayan dari Cileunyi:
Pertigaan Cileunyi -> Naik PrimaJasa ke Jakarta -> sampai di pemberhentian akhir -> ke halte terdekat (BKN) -> naik jalur 9 yang ke arah Senayan. Cukup satu kaliiii.

Kalo balik -> keluar JCC -> masuk ke halte (kalo sebelumnya kita dari kiri, sekarang naiknya dari halte sebelah kanan kita, yang jalannya lebih jauh pokoknya) -> naik yang bus gandeng -> sampai di BKN -> keluar halte menuju pangkalan PrimaJasa -> naik -> sampai deeeh!!!

Btw kalo yang dari Bandung, ke Cileunyi bisa diakses pake bus DAMRI. Kalo engga ya naik angkot caheum-cileunyi.

*rute diatas rute normal, kalo rute yang lain pas ada jalan diblokir, bisa muter-muter aja turun di halte apa gitu ganti-ganti bus itu juga bisa :D

Biaya perjalanan yang digunakan:
Kalo dari bandung:
Naik bis DAMRI -> 6 ribu x 2 = 12 ribu
Naik bis PrimaJasa -> 30 ribu x 2 = 60 ribu
Naik Busway -> 3.5 ribu x 2 = 7 ribu
Total = 79 ribu  *BISA KE JAKARTA MANAPUN LHOO* -> yang ada rute busway nya maksud ane


Baiklah titik ini adalah dimana postingan ini selesai. Semoga membantu yaa buat yang masih agak ragu atau ga tau gimana cara ke jakarta dari bandung dengan harga yang terjangkau. Bye bye :D

Kamis, 24 Oktober 2013

ambigu dalam sebuah deskripsi

Kamis, 24 Oktober 2013
“Aku ngerasa agak ambigu sama cerita yang kamu bikin, Ren,” Satu siang di musim ujian. Seseorang memintaku untuk berpendapat tentang apa yang ia buat. Sebuah cerita tentang cinta, tapi dia lebih suka menyebut ‘sayang’ daripada ‘cinta’.
“Oh ya? Ambigu bagaimana?” dia bertanya lagi, mencoba membaca pikiran saya. Mungkin.
“Aku ngerasa kalau.. sebenarnya cewek ini cuma kagum,” aku menyentuh layar handphone yang menampilkan sinopsis cerita. Ceritanya, temanku satu ini ‘menang’ lelang sinopsis novel dari satu penerbit dan dalam dua hari harus membuat cerpennya.
“…Dia suka? Bukan kagum? Aku ngerasanya dia itu cuma kagum, bukan suka. Dia hanya bingung dengan deskripsi suka dan kagum. Mungkin. Eh, itu cuma pendapatku lho ya,” aku melanjutkan.
“Oh, jadi, mungkin di cerpen yang akan dibuat harus ditulis apa yang mau dituju, biar ga ambigu.”
“Iya, kalo kamu mau dia suka, bilang suka. Kalau kagum, bilang kagum. Sampai yang aku baca sekarang ini aku masih ngerasa kalau ini hanya sekedar kagum,” aku mengeluarkan pendapat yang sedikit –entahlah sok tahu. Haha, tapi dia memang butuh brainstorming dan masukan –walau saran dari saya ga lebih dari sampah.

Baiklah, mendefinisikan sesuatu itu memang tidak mudah. Definisi itu kalau ditulis bisa bebas sebebas bebasnya, mungkin bisa sampai puluhan lembar. Coba definisikan sendiri, apa itu rasa suka? Apa itu kagum? Saya sendiri bingung.

”Menurutmu, apa yang membuat ini istimewa?” dan ini adalah salah satu pertanyaan yang bisa membuat saya terdiam lama.

Saya bukan tipe orang yang suka menilai dengan data: kuantitas atau kualitas. Saya adalah orang yang menilai semua dengan rasa *haha* ga tau. Kalau saya rasa itu istimewa, berarti itu istimewa. Kalau tidak, ya tidak. Titik. *terlihat saklek? Mungkin :D. Oke, dan sebenarnya saya sendiri tidak tahu apa yang membuat itu istimewa. Saya hanya merasa, itu istimewa. Begitu saja. Hey, bukankah tidak setiap hal butuh dideskripsikan?

Saya jadi ingat tentang satu kuliah (yang merupakan salah satu mata kuliah favorit saya di semester tujuh ini) yang pernah nyerempet tentang definisi. Di situ dosen berkata bahwa ”banyak sekali para ahli berlomba untuk membuat definisi, biar dikenal, biar dicatat dalam sejarah. Berlomba membuat definisi serumit mungkin, sepanjang mungkin, padahal nantinya semakin banyak yang membuat definisi, akan semakin hilang arti sesungguhnya instrumen tersebut,”

Dan jadi ingat lagi, salah satu tugas deskripsi puisi Sitor Situmorang, judulnya malam lebaran tapi puisinya hanya satu baris: bulan di atas kuburan. Singkat, padat, jelas, tapi pas di deskripsikan beeuuhhhh sampai dua halaman folio.

Hey, sebenarnya apa inti post ini? sebenarnya saya hanya ingin menegaskan bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu. Setiap orang punya cara mendefinisikan sesuatu, dan itu adalah keunikan tersendiri bagi orang tersebut. Maka ... yah... hargai saja pendapat orang lain. Hargai saja, kecuali kalau benar-benar menyimpang atau salah.


Sekian. Semoga tulisan ini tidak bermakna ambigu, ya :)

Selasa, 08 Oktober 2013

Apa Sekarang Kau Merasa Bahagia?

Selasa, 08 Oktober 2013
Dalam sebuah diskusi kecil, aku dan tiga jiwa lainnya membahas tentang kebahagiaan. Sebuah kata bermakna yang menimbulkan banyak tanya.

“Hal apa yang bisa membuatmu bahagia?”

Dan satu pertanyaan sederhana itu sukses membuatku bungkam. Klasik, tapi selalu saja merasa kesulitan bila ada yang mempertanyakan hal ini. Setiap dari kami diharuskan menjawab apa hal yang bisa membuat kami bahagia.

Hal apa ya? Apa yang bisa membuatku bahagia?

Satu dari kami menjawab bahwa dia akan bahagia kalau lulus tepat waktu. Satu lainnya menjawab bahwa dia akan bahagia bila dapat membahagiakan orang tuanya. Aku sendiri menjawab akan bahagia bila menjadi editor yang hebat.

Dari ketiga jawaban itu muncul berbagai renungan. Disebutkan bahwa kebahagiaan yang sejati itu adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah pudar seiring berkembangnya zaman. Dan katanya juga, bahagia itu seperti jatuh cinta. Ketika kau berbahagia dengan sesuatu, maka sesuatu itu memperlakukan apapun yang buruk kepadamu, kau akan tetap bahagia.

Menekuni profesi yang diinginkan juga bisa termasuk bahagia. Bahagia walau selalu dikejar deadline, bahagia walau masih sering dimarahi dan disuruh ini itu, bahagia karena kita melakukan hal yang dicintai.

Tapi disini, aku sendiri tidak sepenuhnya ingin menjadi editor.

Membohongi diri sendiri untuk mendapat makna bahagia.

Hey, kenapa hal ini menjadi agak kompleks? Bukankah bahagia itu sederhana? Ya. Aku menganggapnya sebagai hal yang sederhana. Saking sederhananya sampai-sampai tidak bisa mendeskripsikan hal tersebut. Bahagia adalah bahagia, tidak ada kata atau kalimat lain yang tepat menjelaskannya.

Dan hey, lalu apakah yang bisa membuatmu bahagia?

Apa, ya? Oh ya, mungkin hal yang bisa membuatku bahagia adalah menemukan hal yang bisa membuatku bahagia :)
アイサ の ノート © 2014