Pages

Selasa, 03 Mei 2011

2 Mei

Selasa, 03 Mei 2011
Selamat ulang tahun kakaaaakk... mbakyuku tercinta dan partner bertengkar yang baik.. hahaha

lope you so much

mbak Annisa Nur Pertiwi, yang menjadi sisi resesif dari keluarga, karena akulah yang dominan. hehehe.

Tambah TUA. 20 Tahun itu tua. tua tua tua... :P

Rihlahh!!!

Minggu, 24 April 2011
Hari ini ada rihlah rohis fakultas. RIHLAH! Tau ke mana? Ke Situ Patengan!
“Ga takut cuaca buruk Haifa?” aku agak tidak setuju dengan usul Haifa kala itu. Haifa anak Ukhuwah yang bertugas bikin acara begituan.
“Ohoo tidaak. Kita berdoa akan cerah,”
“Sini sana berapa jam emaang?”
”Dua jam,”

Dan kenyataannya sekarang naik angkot selama tiga jam. Si Nadiyatur pulas tertidur karena mabok. Saya, Haifa, Tri, Umi, dan Mesa semangat main garuda-garudaan. Kalo bahasa jawanya sih maen sompyo. Setiap anak (haha) pas suruh nunjukin jarinya, dilihat ada berapa. Misal ada enam, berarti maen dengan kata berawalan huruf F (haduh maaf ya saya ngga bisa mendiskripsikan ini dengan baik, haha). Permainan berlangsung beberapa jam sampai perut sakit karena kebanyakan ketawa.

Dua jam mulai garing di angkot, satu jam kemudian mulai muak. Daaann tiga jam melelahkan pun terlewati. Akhirnyaaaa nyampai juga di situ patengan ^_^

Sampai di Situ nyari tempat buat bakar-bakar ayam (keren kaaaan haha). Yang akhwat nunggu deket danau, yang ikhwan nyari tempat yang pas.
Tik tik tik...
Hujan mulai turun.
Zaassss
Hujan mulai deras

”Apaan masa rihlah hujan?”
”Di sini memang cuacanya kadang cerah kadang hujan,”
Benar saja. Kemudian cerah lagi.
”Yang ikhwan sudah nemu area yang bagus,”
Akhirnya kami menuju tempat itu. Di tempat terpencil dekat danau. Dekaaat banget. Yang akhwat nyiapin pembakar arang dan mulai nyalain api. Yang ikhwan pasang-pasang terpal buat atap jaga-jaga buat nanti hujan.
”Hui kapan nih selesai bakar ayamnya?” yang ikhwan nanya.
”Bakar gimana? Orang arangnya aja belum merah,” yang akhwat menjawab.
”Haduh lapar,” Dika menghampiri dan melihat ayam yang belum dibakar. ”dimakan gini bisa ga sih?”
”Bisa sih, udah di ungkep. Tapi kan ngga enak kalau ga dibakar. Kalau mau dimakan gitu ya silakan saja,” akhwat entah siapa menjawab.
Akhirnya Dika memilih untuk pergi dan menunggu ayam matang.

Cuaca galau. Bentar cerah, bentar hujan. Dan... dzuhur pun datang.
”Yang ikhwan sholat di sini aja, kan ada karpetnya ni. Wudhunya kan di danau bisa. Air mengalir kan?”
Dan akhirnya ikhwan sholat di bawah terpal, yang akhwat masih bakar-bakar dan uhuk uhuk karena arang belum juga merah (-_-)a. si Ibud bawa kompas bidik untuk menentukan arah kiblat (’o’).

”Mana nih masa dari tadi belum bisa bakar-bakarnya?” yang ikhwan meraung (ngga juga ding).
”Eh, kita kan udah usaha yei,” akhwat membela diri. ”Sekarang gantian ente yang ngipasin plus bakar tuh. Kita sholat dulu di musholla,”

Yang akhwat pergi ke musholla dan setelah balik ternyata semuanya sudah beres. Waaa ikhwan GFTSL hebaaat!!! (prok prok prok à suara tepuk tangan)

Akhirnya setelah perjuangan menyalakan api dari arang ditambah ranting basah serta tanah yang basah, kita bisa menikmati ayam bakar juga.

Zaaasss
Yah... ujan makin deres.
”Yang akhwat ngga ada yang takut gendut kan?” seorang ikhwan nyeletuk saat ayam mulai dibagikan. Umi menggeleng. Ada duapuluh-an potong ayam, padahal yang rihlah cuma 13 anak. Makannya jatah ikhwan akhwat kebanyakan nih.
”Ngga ah, apaan, siapa yang takut?”
Setelah si ikhwan pergi aku menunduk. ”Ah, umiii..” si umi hanya tertawa.
”Hahaha Ma, maap maap,”

Makan saat hujan, bareng teman, bakar ayam, tapi...
“Ih, terpalnya kok kayaknya turun banget ya? Kaya mau jatoh,” kubu akhwat ada yang nyeletuk. Aku melanjutkan makan.

Sedetik kemudian (beneran sedetik)...
“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!” PLAK! Terpal yang dibuat tenda jatuuuh!!!!

Astaghfirullah.... enak-enak nyantap makan baru lima menitan dengan persiapan berjam-jam, hancur begitu saja karena terpal rubuh. Mana hujan lagi deres, lagi.

Akhirnya malah ngga jadi makan dan mobilisasi pakai terpal dibawa bareng-bareng. Dilihatin orang, tapi cuek saja.
“Ini nih ukhuwahnya disini..”
Ukhuwan sih ukhuwah, tapi malu bin capek, haha.

Setelah itu, badan basah kehujanan, menggigil, tapi si Haifa masih pengen naik perahu. Setelah rapat sebentar, akhirnya diputuskan untuk naik perahu bareng-bareng. Naik perahu pas hujan, ndayung sendiri, daaan muter-muter ndak jelas. Sempet syura’ di tengah danau nda ada yang ndayung, dan benar-benar sunyi. >_< huaa kami menggigil kedinginan.

Ehm. Sampai darat, sholat ashar, dan pulang. Pas pulang, uda pada capek jadi ngga maen garuda-garudaan lagi. Dan jalan pulang lebih sebentar, dua jam. Sampai kosan jam setengah tujuh. Wuaaa

Hari yang melelahkan. <^_^

Hal-hal yang bisa dilakukan mahasiswa, tapi (hampir) ga bisa dilakuin anak SMA

Huaaaa kali ini saya akan membahas kegiatan-kegiatan mahasiswa yang agak acakadul dan kehidupan di kampus.
Yang bisa dilakukan mahasiswa nih, tapi dari sisi negatif yak, :P
a.           Nitip absen
Hayuuu ngakuuu kakak-kakak mahasiswa, siapa yang pernah ngelakuin ini? NGAKU! Hahaha maksa banget. Alhamdulillah, sampai detik ini saya belum pernah nitip absen. Ada teman saya yang pernah nitip, tapi say atolak mentah-mentah. “ga takut sama Allah, apa?” bodoh. Hem… tapi kalau kalian ngertiin dengan konteks ‘toleransi antar teman’, terserah yei. Prinsip ada di tangan masing-masing.
Pernah suatu kejadian, kelas cuma keisi setengah, eh, absennya penuh -,- aneh ngga sih kalau kejadiannya seperti itu? Heu heu. Ehm, biasanya ada juga dosen yang ngabsennya dipanggil satu-satu. Jadi jangan berharap ada yang bisa nitip absen.

b.          Bobok di kelas
Ini nih. Saya hamper pernah ngelakuin. Xixi. Tugas mahasiswa seringkali menyita waktu sampai tengah malam. Hem. Inilah salah satu sebab mahasiswa tidur di kelas. Ada dosen yang cuek ajah kalau ada mahasiswa tidur di kelas, tapi ada juga yang agak sensi kalau ada mahasiswa yang ga merhatiin pelajaran alias tidur.

Ehm. Asal tau aja, dosen lebih seneng kita tidur di kelas daripada kita ramai dan bikin kelas gaduh. “Daripada ramai, anda lebih baik tidur, kasihan teman anda yang ingin memperhatikan, atau anda absen saja terus keluar, saya juga tidak masalah,” dosen KPIP saya sering bilang begitu gara-gara kelas saya rame.

c.           Telat (dalam artian yang berlebihan)
Huaaa siapa yang hobi telat?? Saya. Hahaa.
Pertama kali masuk duluuuu sekali, jam enam sampai jam setengah tujuh paling telat, kelas udah ramai. Tapi sekarang jam tujuh aja, kelas setengahnya pun belum terisi.
Ehm, di kuliah emang absensi ga ketat seperti pas SMA. Coba dulu. Pas hari senin, telat aja kekunci di luar, terus harus minta surat keterangan dari BP juga. Sekarang sih toleransi tergantung Dosen. Ada yang matok, maksimal datang 15 menit dari jam utama, ada yang harus tepat waktu, kalau telat kurang dari 15 menit absen dihitung setengah, dan ada yang ngasih kelonggaran bisa masuk kapan saja asal ga berisik.
Hemm... pastiin masuk sesuai keinginan dosen saja kalau begitu. Saya aja kalau hari senin dari kosan jam tujuh lebih lima, sampai kelas jam tujuh lebih seperempat, dosennya belum datang. Heuuu.... begitulah.

d.          Ngrokok di lingkungan kampus
Ehm. Kalao pas SMA sih ga mungkin dilakuin. Mau dapet skorsing? Mau nginep di ruang BK karena ini? Hoho. Sekarang di kuliah anda BEBAS merokok. Syaratnya cuma satu: anda boleh merokok, tapi asapnya jangan sampai masuk ke hidung orang lain. T_T sayangnya hal ini kurang diperhatikan oleh mahasiswa khususnya anak-anak Teknik di ITB ni. Ayolah, hargai orang lain. Bahaya perokok pasif lebih tinggi dari perokok biasa.
e.           Mbolos yang ekstrim
Ini nih. Setiap mata kuliah, diwajibkan kehadiran minimal 80%. Dan ada beberapa yang sebenarnya kurang dari itu, nitip absen mulu. Bahkan ada teman saya yang ga pernah masuk kelas (beneran!) dan tau-tau nongol pas UTS dan absennya penuh (aga penuh juga sih). Aneh nyaaa...


Ok teman-temaaaan... jangan tiru kebiasaan mahasiswa yang jelek ini yaaa ^_^

Tugas PRI 10: asalah perkeretaapian di Indonesia saat ini

Sejarah Perkeretaapian di Indonesia
Diawali dengan pembangunan pertama jalan kereta api di desa Kemijen tanggal 17 Juni 1864. diprakarsai oleh NV.NISM yang dipimpin oleh J.P Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung sepanjang 26 Km dengan lebar 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka pada 10 Agustus 1867. Kemudian tahun 1870 dibangun pula jalan kereta api Semarang-Surakarta sepanjang 110 Km. Pertumbuhan panjang rel meningkat pesat dari tahun 1867 25 Km menjadi 3338 Km pada tahun 1900. Selain di Jawa, pembangunan juga dilaksanakan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, serta Sulawesi.

Kemunduran perkeretaapian Indonesia
Dibandingkan degan kerea api di jepang pada saat itu, kereta api SS jauh lebih maju. Masa tahun 1930-an prestasi kereta api Eendaagsche Express (Ekpress siang) merupakan salah satu rekor dunia. Sejak kehadiran kereta api di Jawa tahun 1867, yang 5 tahun lebih awal dibanding kehadiran kereta api di Jepang. Tahun 1934 kereta api SS sudah mencapai 100 km/jam kemudia n kecapatan kereta mencapai 120km/jam mulai duruntus sekitar tahun 1941 dan perusahan SS sudah mulai merencanakan perjalanan 150km/jam. Pada Jepan, untk kecepatan 110 km/jam baru menjadi kenyataan tahun 1958, dan kecepatan 120 km/jam tahuun 1968.

Bandingkan saat ini. Kecepatan maksimum KA yang diperbolehkan saat ini hanya 90km/jam. Artinya jauh dibawah kemampuan lokomotif yang mampu melaju dengan kecepatan 120 km/jam. Semua peralatan mutakhir yang dimiliki perkeretaapian Indonesia ternyata tidak membawa kemajuan transportaasi kereta api jika tolak ukurnya adalah kecepatan.

Jika mengacu pada tolak ukur pelayanan, maka perusahaan SS sebelum perang kemerdekaan kondisinya lebih baik dibanding sekarang. Kesimpulan itu diperoleh dari data frekuensi operasional sarana lokomotif, kereta dan gerbong per kilometer masa perusahaan SS masih lebih tinggi dibanding kondisi sekarang.

Kereta api di Indonesia Masa Kini
Sebagai sarana transportasi yang paling diserbu masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah, kereta api kelas ekonomi ternyata kirang mendapat perhatian dari pemerintah. Masih banyak hal yang memprihatinkan dalam pengelolaan KA ekonomi seperti diterapkannya sistem kanibalisme komponen KA ataupun sistem 4.1 yaitu dimana setiap empat gerbong, hanya satu gerbong yang dilengkapi REM. Belum lagi WC umumnya yang sangat tidak sehat karena ketiadaan air sehingga dapat menjadi tempat penularan penyakit.

Jika dilihat dari keadaan sekarang, hal-hal yang mengkhawatirjan keselamatan penumpang pun banyak kita jumpai. Menurut catatan Railway kecelakaan KA sepanjang tahun 1990 hingga 2003 telah merenggut 2771 jiwa. Angka ini tentu saja membengkakdalam kurun waktu 4 tahun kemudian, mengingat banyaknya kecelakaan KA seperti yang diakibatkan karena tanah longsor.

Hal yang membahayakan lainnya adalah kenyataan bahwa rel, bantalan rel hingga sinyal adalah warisan penjajahan Belanda (Kompas, 11 Desember 2004). Import KA bekas Jepang 20 tahunan yang suku cadangnya tidak diproduksi lagi pun menjadi hal yang memprihatinkan. Kegiatan import ini tentu saja mematikan produktivitas PT INKA Madiun akibat pola pikir jangka pendek kita.

Jika pengelolaannya jujur dan transparan, sebenarnya banyak jalan, cara, dan dana bagi pemerintah untuk membenahi perkeretaapian Indonesia.

Peningkatan jumlah penummpang KA tentu saja menyebabkan peningkatan jumlah pendapatan perusahaan bersangkutan. Tapi kenapa kita tidak bisa memproduksi kereta api sediri dan mengimpor kereta bekas dari luar? Di Indonesia terdapat pabrik Baja Krakatau Steel tapi kenapa kejadian ini masih saja terulang? Seharusnya kegiatan ini dihentikan agar tidak mengorbankan jiwa para penumpang.

Pengelolaan KA harus dibenahi, sarana juga harus di perbaiki. Semua sebenarnya tidak susah untuk terwujud jika ada suatu kecerdasan, kekuatan niat, dan keberanian pihak pemerintah untuk melakukan suatu perubahan.


Tanggapan saya mengenai Kereta Api di Indonesia
Melihat dari beberapa bacaan di Internet dan koran, saya pun memiliki pandangan dan pendapat untuk perkereta apian di Indonesia.

Saya asli Solo dan belajar di Bandung. Setiap akan berangkat dari Solo, saya menaiki kereta api Lodaya dari Stasium Solo Balapan yang berangkat pukul setengah sembilan malam. Tiket seharga Rp110.000,00 harga ini naik dari Rp100.000,00 sebelum lebaran 2010. Saat berangkat selalu tepat waktu, namun waktu sampai di Stasiun Hall Bandung selalu tidak tepat waktu. Selalu saja terlambat entah setengah sampai satu jam. Agar tidak memberi harapan palsu, hendaknya di tiket ditulis saja jamnya lebih. Dengan begitu penumpang tidak akan merasa resah kenapa pada jam yang ditentukan belum juga sampai.

Saya menyayangkan, sekitar pukul satu malam kereta api selalu saja ngetem di stasiun tertentu selama kurang lebih satu jam. Entah tujuannya apa. Dan selama itu pun banyak pedagang yang bersliweran serta berteriak mejajakan dagangannya, padahal itu pukul satu malam dimana banyak orang yang terlelap tidur.

Saat saya naik kereta dari Solo ke Jogja, saya menaiki kereta Pramex dengan tiket Rp7.500,00. Pramex terakhir yang saya naiki adalah kereta baru yang susunan duduknya seperti didalam bus transJakarta. Cukup nyaman dan bersih. Perjalanan Solo-Jogja memakan waktu dua jam. Walaupun titelnya kereta bisnis, ada juga yang tidak kebagian tempat duduk. Harus berdiri, bahkan pernah saat liburan saya menaiki kereta Pramex sampai duduk di lantai saja tidak bisa saking penuhnya. Saat itu, lucunya tidak ada pengecekan tiket seperti saat saya naik kereta yang lainnya. Petugas hanya mengatakan, “Mana tiketnya?” penumpang lalu mengacungkan tiket. Petugas berkata lagi, “Pada bawa semuanya kan? Yasudah,” lalu pergi. Ibu dan Bapak saya hanya berkata pelan, “Nah, kalau ada yang ndak bawa tiket bagaimana?”

Saat naik kereta dari Solo ke Semarang, saya menaiki kereta ekonomi dengan harga Rp13.500,00. Sudah terbayang menaiki kereta ekonomi dengan rentang waktu 3 jam pasti akan bejubel. Ternyata benar. Lagi-lagi kereta bejubel dengan penumpang tak hanya manusia. Ada ayam juga ikut merasakan panasnya udara kereta ekonomi. Lucunya lagi, si kereta berhenti bukan hanya di stasiun, tapi juga berhenti di tempat sepi tertentu untuk menarik penumpang. Si kereta ngetem.
“Buk, kenapa keretanya berhenti?”
“Lah, biasa itu. Kereta ekonomi memang seperti itu,”
Waduh. Menarik penumpang tanpa tiket dan tidak di stasiun. Kok rasanya aneh ya? Kereta kan beda dengan bus yang bisa menarik penumpang dari terminal maupun jalan?

Saya jadi agak ngeri saat membayangkan saat musim mudik lebaran. Teman saya yang berumah di Jombang dan Blitar, mereka menaiki kereta ekonomi entah Pasundan maupun Kahuripan. Di ceritanya mereka masih mendapat tempat duduk namun banyak sekali yang tidak mendapat tempat duduk. Mereka berangkat setelah sahur langsung ke Stasiun untuk membeli tiket. Tiket ekonomi dibeli pada hari H nya.

Selain tempat yang kurang nyaman, bisa saya bilang kereta ekonomi itu rawan pencopetan. Banyak teman saya yang hampir menjadi korban pencopetan. Bapak saya melarang saya naik kereta ekonomi saat pulang ke Solo karena keamanannya diragukan. Jangan sekali-kali naik kereta ekonomi sendiri tanpa teman, walau saya pulang dengan teman pun, bapak tetap tidak akan mengizinkan saya naik kereta ekonomi.

Mengenai komentar-komentar tentang WC yang tidak nyaman tersebut saya belum pernah membuktikan karena memang saya tidak pernah menilik keberadaan kamar mandi di dalam kereta. Bisa dibilang saat saya menaiki kereta Lodaya yang pintunya dekat WC, sudah tercium aroma mencurigakan. Saya lebih nyaman untuk pergi ke WC stasiun yang lumayan bersih walaupun harus membayar seribu rupiah setiap kali masuk.

Begitulah komentar saya tentang perkeretaapian di Indonesia. Seharusnya pemerintah juga menanggapi pelayanan kereta ekonomi yang morat-marit seperti itu. Saya juga setuju dari pernyataan di artikel di atas tentang penghentian impor kereta bekas dari luar negeri. Kenapa Indonesia tidak berusaha membuat sendiri tanpa harus menjadi tong sampah kereta impor yang kondisinya meragukan?

Mari kita sama-sama mengubah persepsi bahwa Indonesia bukan negara yang memiliki kemampuan baik. Indonesia juga bisa. Indonesia juga dapat melakukan sesuatu yang baik seperti negara maju lainnya. Indonesia hanya kekurangan percauya diri, percaya bahwa Indonesia juga bisa.


Sumber

Tugas PRI 9 : Campur Tangan Pihak Swasta dalam Sistem Infrastruktur dan keterlibatan pemerintah dalam menanganinya serta keuntungan dan kerugian yang dirasa oleh masyarakat.

Seberapa jauh pihak swasta mencampuri pihak pemerintah? Kali ini penulis akan membahas tentang keterlibatan pihak swasta di pihak pemerintah dalam pengelolaan sumber air bersih (PDAM).

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, pengelolaan sumber air bersih di Kota Bandung ini dikelola oleh PDAM Tirtawening. Tapi apakah itu cukup? Kenyataan mengatakan lain. Masyarakat banyak yang memilih untuk tidak memercayakan perihal pengelolaan air bersih ini. Masyarakat lebih senang untuk membuat sumur bor dan berfoya-foya dengan air tanah yang jumlahnya semakin menurun.

Di daerah Plesiran, sebagian besar masyarakat menggunakan air tanah padahal lokasi PDAM tidaklah jauh. Mengapa itu dapat terjadi? Jawabannya adalah karena pelayanan PDAM kurang memuaskan dan juga wilayah cakupan kurang luas.

Pelayanan PDAM yang kurang memuaskan ini bukan berarti tidak beralasan. PDAM adalah Badan Usaha Milik Negara, yang jika menginginkan perubahan harus menunggu kucuran dana dari atas yang tak kunjung tiba. Pelayanan yang kurang baik dikarenakan fasilitas yang ada seperti saluran air dan pipa serta infrastruktur yang lainnya sudah dalam kondisi yang tidak pantas.

Sampai dengan tahun 2009 cakupan pelayanan air bersih di kab. Bandung baru 20% yang terlayani Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di perkotaan, dan dinas pemukiman tata lingkungan dan kebersihan (dispertasih) di wilayah perdesaan. Sedangkan pemakaian air sumue terlindungi meningkat drastics mencapai 30,08% dari sebelumnya tahun 2008 sebesar 0,63%.

Dari masalah di atas, banyak masyarakat yang menggunakan air tanah yang penggunaannya tidak terkendali. Padahal, penggunaan air tanah yang berlebihan dapet menimbulkan berbagai masalah. Masalah yang paling pokok adalah sebagai berikut:
a.       Penggunaan air tanah pribadi tidak terkontrol
Pemakaian air tanah secara pribadi membuat pemakaiannya tidak terkontrol. Pemakaian air tanah dengan sumur pribadi tidak akan dipungut biaya seperti jika kita berlangganan air dari PDAM. Dengan tidak ada pengukuran kuota air yang digunakan, akan membuat penduduk yang menggunakan air tanah berbuat semena-mena. Semena-mena dalam artian memakai tidak dengan aturan. Manajemen air akan buruk dan akan terjadi pemborosan air secara besar-besaran oleh penduduk.

b.      Turunnya tinggi permukaan tanah
Penggunaan air tanah yang tidak bijaksana akan membuat keadaan alam akan berubah. Air tanah terletak di lapisan tanah bawah. Bila ada penyedotan air tanah yang berlebihan, akan menghilangkan lapisan air tanah di tanah, dan akan mengakibatkan space tersebiut kosong dan akan mengakibatkan penurunan tinggi permukaan tanah secara bertahap maupun tiba-tiba.


Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa disinilah peranan swasta sangat penting, yaitu membangun iklim persaingan yang sehat antara pemerintah dan swasta dimana masyarakat pengguna layanan sebagai jurinya.

Pelayanan PDAM di Bandung sendiri baik kota maupun kabupaten memang kurang memuaskan karena hanya ada satu perusahaan yang memonopoli semuanya. Tidak ada pihak swasta yang ikut andil dalam hal ini. Kita coba mengambil contoh lain yaitu di daerah Jakarta khususnya Jakarta Barat yang pengelolaan air bersihnya dicampuri oleh pihak swasta.

Di daerah Jakarta Barat, PDAM mendapat saingan, yaitu PT PAM Lyonnaise Jaya atau bisa disebut Palyja. PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) hadir di Jakarta untuk meningkatkan penyediaan dan pelayanan air bersih kepada masyarakat di sekitar wilayah barat DKI Jakarta sejak 1 Februari 1998 melalui 25 tahun kerjasama dengan PAM jaya. Palyja merupakan bagian dari Suez Environment, lini usaha grup GDF SUEZ-Perancis yang bergerak di bidang air, pelayanan limbah, peralatan terkait yang penting bagi kehidupan sehari-hari dan pelestarian lingkungan dan juga merupakan bagian dari PT Astratel Nusantara, lini usaha grup ASTRA-Indonesia yang bergerak di bidang infrastruktur.

Sejak tahun 1998, Palyja telah berhasil meningkatkan akses air bersih menjadi lebih dari 419 ribu sambungan bagi lebih dari tiga juta penduduk di wilayah Barat. PAM Jaya (Palyja) juga mensubsidi air yntuk kebutuhan Hydrant Subdin Pemadam kebakaran. Harga per meter kubik air untuk penyemprotan air adalah Rp 1050,00 padahal idealnya adalah Rp 7000,00 berarti PAM jaya (Palyja) memberikan subsidi kurang lebih sebesar Rp 6000,00

Dari keterangan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa pihak swasta juga dapat mengambil peran dalam hal ini.

Lalu, bagaimana  tanggapan masyarakat?
Masyarakat selalu menanggapi positif akan hal yang baik. Tapi masalah yang timbul bukan fasilitas, namun sarananya. Sebaik-baik infrastruktur jika tidak didukung oleh sarana yang baik akan sia-sia.  Dalam hal ini, permasalah terbesar adalah kurangnya sumber air bersih yang akan dikelola.

Wahana lingkungan hidup indonesia (WALHI) Jakarta menilai ancaman krisis air bersih di ibu kota terjadi karena buruknya pengelolaan badan air meliputi aliran sungai dan sanitasi kota serta sejumlah situ yang tercemar limbah sangat parah. Direktur Eksekutif WALHI Jakarta Ubaidilah mengatakan tingkat pencemaran yang sangat tinggi mengakibatkan 13 aliran sungai hingga kanal banjir barat dan timur serta situ yang ada di jakarta tidak bisa dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk diolah menadi air bersih.

Jakarta selama ini mengandalkan air kiriman dari waduk Jatiluhur, air curah dari Tangerang dan mengolah air dari Kali Krukut namun air bersih yang didapat dari kedua sumber itu tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga Jakarta.

Ketua komisi B DPRD DKI Jakarta, Nurdin, mengatakan bagi kawasan utara Jakarta, PAM Jaya perlu merintis teknologi penyulingan air laut menjadi air bersih. Meskipun mahal, teknologi ini mampu menyediakan air bersih dalam jumlah yang besar dan cepat sehingga kawasan utara Jakarta tidak selalu dikorbankan dalam penyediaan air bersih. Di utara Jakarta terdapat banyak aktivitas komersial yang bersedia membayar air bersih dengan tarif lebih mahal tetapi pasokannya harus terjamin

Sulit untuk membangun penampungan ait di wilayah Jakarta karena tidak ada lahan yang luas dan air sudah terlanjut tercemar. Lebih mudah membbuat penampungan air di kawasan hulu seperti Tangerang atau Bogor karena lahan yang tersedia lelbih luas dan air belum terlalu tercemar. Air di penampungan itu juga dapat digunakan oleh PDAM setempat.

Lalu, bagaimanakah peran pemerintah dalam menanggapi hal ini?

Baik disadari maupun tidak, pemerintah selalu melakukan perbaikan di sana-sini. Pemerintah juga memiliki rasa untuk membangun Indonesia menjadi lebih maju. Dengan adanya pihak swasta tersebut, diharapkan perbaikan atas infrastruktur dan peran pemerintah lebih kentara.

Pihak swasta memang hampir merajalela kemana-mana, tapi lihatlah, walau hampir bobrok, infrastruktur pemerintah juga masih ada. Itu tandanya pemerintah juga masih peduli dengan keadaan rakyatnya. Secara tidak langsung pemerintah juga tidak ingin rakyatnya diurus oleh pihak swasta. Walau mendapat bagian kecil pun, pemerintah juga tetap harus ikut andil.

Misalnya jika hanya ada perusahaan swasta yang memonopoli suatu sarana, maka akan ada berbagai kejadian yang berdampak tidak baik:
a.       harga barang/jasa yang dijual tersebut dapat dimainkan
Dengan kata lain, jika suatu perusahaan menguasai suatu pasar, maka harga pasar pun akan ia kuasai. Bisa jadi pihak swasta membuat harga yang terlalu tinggi.

b.      terjadi penimbunan barang
Baik pemerintah maupun swasta bila ada kesempatan menjual suatu barang yang lumayan langka, pasti akan ditimbun. Apa tujuannya? Tujuannya adalah membuat iklim langka yang secara langsung akan meningkatkan harga barang tersebut menjadi di atas harga sebelumnya.

Tanpa pemerintah pun kita akan sengsara, karena secara tidak langsung masyarakat akan kehilangan tameng dari dalam.

Dengan dibangunnya infrastruktur dengan fungsi yang sama oleh pihak swasta, maka akan tercipta iklim persaingan yang sehat. Mau tidak mau, pemerintah harus bersaing dengan pihak swasta bermodal ini. Pihak pemerintah akan berupaya untuk menunjukkan sebaik yang ia punya. Swasta juga melakukan hal yang sama. Jika iklim persaingan sudah ketara, maka masyarakat datang untuk menentukan siapa yang terbaik. Siapa yang terbaik disini dapat dilihat dari jumlah pelanggan yang menggunakan jasa infrasruktur tersebut.

Pemerintah berupaya untuk memperbaiki diri agar masyarakat tidak lari dan memilih pihak swasta sebagai fasilitatornya.

Sejauh ini memang kebanyakan infrastruktur pemerintah masih menang. Masyarakat beranggapan lain dengan adanya persaingan ini. Banyak juga yang memilih menggunakan infrastruktur pemerintah dengan alasan ada jaminan dari negara. Kalau mereka menggunakan fasilitas dari swasta, jaminannya masih sulit didapat.

Ada juga masalah harga. Biasanya fasilitas yang diberikan oleh pemerintah itu akan mendapat subsidi, sedangkan pihak swasta tidak. Dengan kualitas yang sama, kita akan mendapati harga yang lumayan mencolok dari pihak swasta dan pemerintah.

Campur tangan pihak swasta dalam sistem infrastruktur dan keterlibatan pemerintah dalam menanganinya, pastinya harus ditanggapi oleh masyarakat dengan positif. Secara langsung maupun tidak langsung, persaingan ini pun akan menguntungkan masyarakat sekitar sebagai pengguna fasilitas ini.

Referensi:

Tugas PRI 6: Perluasan Wilayah Cakupan PDAM di Bandung

Sampai dengan tahun 2009 cakupan pelayanan air bersih di kab. Bandung baru 20% yang terlayani Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di perkotaan, dan dinas pemukiman tata lingkungan dan kebersihan (dispertasih) di wilayah perdesaan. Sedangkan pemakaian air sumue terlindungi meningkat drastic mencapai 30,08% dari sebelumnya tahun 2008 sebesar 0,63%.

Dari kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa memang cakupan daerah PDAM di Bandung memang masih kurang, karena itu saya dari TIM Pro mendukung perluasan wilayah cakupan PDAM di Bandung kota maupun kabupaten. Dari atas juga dapat dilihat bahwa jika cakupan PDAM tidak diperluas, maka penggunaan air tanah di Bandung akan meningkat drastis.

Apa akibat dari peningkatan pemakaian air tanah yang terlalu ‘bebas’?

Pemakaian air tanah secara bebas memiliki beberapa akibat yang merugikan baik untuk diri sendiri maupun orang umum. Berikut ini ada beberapa akibatnya:
a.       Penggunaan air tanah pribadi tidak terkontrol
Pemakaian air tanah secara pribadi membuat pemakaiannya tidak terkontrol. Pemakaian air tanah dengan sumur pribadi tidak akan dipungut biaya seperti jika kita berlangganan air dari PDAM. Dengan tidak ada pengukuran kuota air yang digunakan, akan membuat penduduk yang menggunakan air tanah berbuat semena-mena. Semena-mena dalam artian memakai tidak dengan aturan. Manajemen air akan buruk dan akan terjadi pemborosan air secara besar-besaran oleh penduduk.

Masalah ini bukan murni kesalahan penduduk, bisa saja penduduk menggunakan air tanah karena cakupan PDAM belum sampai di daerahnya. Saya mendukung agar PDAM memeprluas cakupannya sampai kabupaten. Perluasan wilayah cakupan akan membantu masyarakat dalam memanajemen air agar dapat digunakan lebih baik dan bijaksana. PDAM juga akan membantu masyarakat dalam berhemat air, karena jika menggunakan jasa PDAM, akan dipungut biaya air per meter kubiknya. Ini akan membuat masyarakat berfikir dua kali untuk menggunakan air.

b.      Turunnya tinggi permukaan tanah
Penggunaan air tanah yang tidak bijaksana akan membuat keadaan alam akan berubah. Air tanah terletak di lapisan tanah bawah. Bila ada penyedotan air tanah yang berlebihan, akan menghilangkan lapisan air tanah di tanah, dan akan mengakibatkan space tersebiut kosong dan akan mengakibatkan penurunan tinggi permukaan tanah secara bertahap maupun tiba-tiba.

Gambar di atas menunjukkan letak air tanah permukaan. Air tanah permukaan ada karena siklus hidrologi yang terjadi seperti gambar di atas. Dari hujan, evaporasi, kondensasi, hujan, ke tanah, lalu mengalir ke laut. Misalnya hari ini hujan di Lembang, baru seratus tahun kemudian air tersebut sampai di Bandung. Air tanah permukaan (air tanah lapisan atas) akan selalu bergerak dan membutuhkan siklus yang panjang. Jika digunakan secara berlebihan, hal buruk selain turunnya tinggi permukaan tanah. Juga akan mengganggu siklus tersebut, mengganggu kembalinya air ke laut dan menjadi hujan.

Perluasan PDAM sangat diperlukan untuk membantu memanajemen sumber air baku yang masih ada. Seperti yang telah dibahas pada poin di atas, PDAM akan mengatur penggunaan air pada penduduk. Dengan dibangun pipa-pipa penyaluran air bersih dan kotor, maka pengolahan air akan semakin baik. Penggunaan air bersih yang teratur akan membuat sumber daya air tanah lebih terjaga. Pengolahan air juga akan lebih baik karena termanajemen dengan baik. Jika masyarakat atau penduduk tidak menggunakan layanan PDAM, maka secara otomatis mereka juga tidak akan mendapat pelayanan penyaluran air kotor. Penduduk akan mengurus air kotor nya sendiri. Bagaimana caranya?

Sebagian dari masyarakat yang tidak berlangganan PDAM akan membuang air kotornya ke sungai melalui pipa langsung dari rumahnya. Ini mengakibatkan sungai menjadi tercemar dengan limbah rumah tangga. Seharusnya air kotor tersebut sebelum dibuang harus diolah terlebih dahulu agar kadar racun atau zat aditif lainnya berkurang drastis, bukan langsung keluar menuju sungai.

Mencemari sungai berarti merusak ekosistem yang berada di dalamnya. Sungai yang tercemar akan mengganggu kehidupan organisme yang hidup di dalamnya, baik organisme mikro maupun organisme makro. Adanya zat fosfat (dari detergen) akan mengakibatkan pertumbuhan alga meningkat. Pertumbuhan alga yang meningkat tajam akan mengakibatkan alga tumbuh menyebar luas di permukaan sungai. Itu akan menghalangi sinar matahari yang masuk ke dalam sungai. Itu akan membuat kehidupan organisme di dalam air akan kekurangan sinar matahari dan mati. Ekosistem sungai perlahan akan rusak dan lama kelamaan akan hilang atau mati.

PDAM harus menekan angka kehilangan air yang saat ini masih cukup besar. Hingga kakhir tahu ini angka kehilangan air masih ada pada poosisi di atas 33%. PDAM memiliki target harus mencakup 80% pelayanan air bersih dan 70%  air limbah seiring peogram MDG’s tahun 2015.

Kasus kehilangan air diakibatkan karena adanya kebocoran pipa air. Hal ini akan diperbaiki secepatnya seiring dengan perbaikan kualitas dari PDAM. Target yang dibuat PDAM pasti juga akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Jika masyarakat masih menggunakan air tanah, ada beberapa kerugian lagi yang akan muncul. Salah satunya adalah tercampurnya air bersih dan air limbah.

Dengan pengolahan yang kurang baik, maka akan terjadi masalah yang cukup serius. Seperti yang dibahas di atas, air limbah dan air bersih akan terccampur. Idealnya sumber air bersih dan tempat limbah berjarak sekurang-kurangnya 10 meter. Dalam kehidupan sehari-hari di Bandung ini, pasti hal tersebut hampir mustahil dilaksanakan karena daerah Bandung banyak ditemukan kompleks rumah padat penduduk yang bahkan panjang lebarnya tidak mencapai 10 meter.

Akibat dari hal tersebut adalah, limbah dari septic tank akan mencemari air tanah yang dekat tersebut. Kita juga mengetahui bahwa limbah dari septic tank tersebut mengandung bakteri e-coli yang dapat menyebabkan berbagai penyakit yang berhubungan dengan penyakit pencernaan.

Dilihat dari masalah tersebut, kita ternyata masih butuh bantuan tenaga ahli untuk mengurus itu semua.


Perluasan cakupan PDAM, mensejahterakan masyarakat

Perluasan cakupan PDAM di daerah pinggiran akan mensejahterakan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.

Secara langsung itu pasti akan mempermudah masyarakat untuk memperoleh layanan air bersih, dan secara tidak langsung akan menyelamatkan organisme lain karena menjaga lingkungan secara teratur.

Pelayanan PDAM di daerah pinggiran akan sangat membantu masyarakat. Sebelumnya mereka menggunakan air sumur, air sungai, bahkan air hujan. Jika sumur kering, sungai kotor, dan hujan tidak turun, mereka akan bingung. Dengan dibangun pelayanan PDAM yang mencakup daerah tersebut, maka akan sangat membantu masyarakat. Mereka akan sangat merasa diuntungkan dengan kebijakan tersebut. Dengan dibangun PDAM, mereka tidak perlu susah-susah mencari air, karena di rumah mereka tersedia air yang selalu mengalir dengan deras melalui pipa-pipa air yang dipasang oleh petugas PDAM.

Dengan adanya layanan air bersih, pasti layanan air kotor pun akan diusahakan. Dengan begitu, masyarakat juga akan merasa diuntungkan karena limbah yang dulunya dibuang sembarangan akan menjadi teratur karena pembuangan limbah diatur dengan manajemen yang baik.

Saya setuju dengan perluasan wilayah cakupan PDAM di daerah pinggiran karena berbagai faktor di atas. Pembangunan sarana dan prasarana tersebut akan membantu kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan layak.

Ke depan, PDAM harus bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Tidak hanya air bersih, penanganan air kotor/limbah pun akan ditingkatkan. Dalam waktu dekat PDAM akan membangun jaringan pipa air kotor yang disalaurkan le saluran pengolahan air limbah di Bojongsoang. PDAM melakukan hal itu setelah mendapat bantuan dana hibah dari AUSaid sebesar Rp 7,5 miliar. Proses pembangunan instalasi itu akan dimulai awal 2011.




Tugas PRI 5: Jembatan Selat Sunda, Perlukah?

Jembatan Selat Sunda (JSS) adalah Jembatan yang menghubungkan antara Pulau Jawa dan Sumatera dengan melalui Selat Sunda. Pembangunan JSS ini rencana akan mulai di akhir tahun 2013. Pemerintah rencananya juga akan mengembangkan kawasan sekitar jembatan menjadi kawasan strategis kegiatan ekonomi. Sebelumnya dikabarkan dana pembangunan jembatan mencapai 140 triliun. Jembatan ini rencana memiliki panjang 30 Km. Pembangunan ini diperkirakan akan berlangsung selama tahun 2011-2025.


JSS memang dibangun dengan tujuan yang baik, tetapi setiap pembangunan sebuah/beberapa infrastruktur, pasti juga akan memberi dampak yang tidak baik. Kali ini saya tidak setuju dengan pembangunan JSS karena lebih banyak mendatangkan kerugian daripada keuntungan, dan juga pembangunan JSS ini pastinya akan mengalami hal dan kondisi yang tidak gampang. Lebih jelasnya akan saya bahas pada poin-poin di bawah ini.


a.      Pembangunan JSS: mematikan Negara maritim
Pembangunan jembatan penyebrangan antar pulau memang sebuah gagasan yang unik dan mengasyikkan untuk dibayangkan. Namun lihatlah, walaupun pemerintah berjanji akan menghidupkan kegiatan ekonomi di sekitar jembatan, bukankah hanya ekonomi darat saja yang dapat mengambil manfaatnya? Bagaimana dengan ekonomi laut? Seperti kasus jembatan Suramadu, industri penyebrangan dengan kapal feri pun terancam bubar karena masyarakat lebih memilih lewat jembatan. Masalah serupa pasti akan terjadi di jembatan selat sunda ini.

Indonesia adalah Negara maritim, tapi kenapa tidak memanfaatkan ‘sumber daya’ laut dengan sebaik-baiknya? Indonesia 2/3 bagiannya adalah laut, seharusnya kita memanfaatkan laut dengan baik, bisa dengan jalan memanfaatkannya untuk jalur transportasi.

b.      Adanya rasa ‘terlalu memiliki’
Rasa ‘terlalu memiliki’ nampaknya cocok untuk bangsa Indonesia. Seperti kasus (lagi) pada Jembatan suramadu, baru beberapa bulan diresmikan, baut-baut sudah hilang, kabel diambil, dan sebagainya. Itu saja ‘hanya’ proyek suramadu, bagaimana dengan jembatan Selat Sunda nantinya?

c.       Pergerakan lempeng tektonik di permukaan bumi
Pulau dan benua dasarnya ditopang oleh lempengan atau plat yang kuat di dasar bumi yang sebagian besar tertutup oleh lautan. Tiap pulau ataupun benua memiliki pelat atau landasan masing-masing berdiri sendiri atau bersamaan, dan pelat ini setiap saat akan bergeser sedikit demi sedikit kearah tertentu. Pelat yang bergeser menimbulkan pelat baru karena keretakan dan juga dapat membentuk sungai bawah tanah dan bawah laut (palung) karena pelat yang bergeser saling menjauhi.

Melihat kenyataan di atas, sebenarnya sangat sulit membuat jembatan dengan tingkat elastisitas dan kekuatan yang tinggi. Dengan pergeseran lempeng sekitar 5 meter setiap tahun di area selat sunda, pastinya akan sangat susah membuat pondasi yang kuat karena tempat ‘berpijak’ sang jembatan akan bergeser kearah yang berbeda-beda.

d.      Adanya anak Krakatau
Gunung Krakatau meletus tanggal 26-27 Agustus 1883 dengan mengeluarkan awan panas. Sedangkan gunung anak krakatau meletus tahun 1927. Kaldera itu masih aktif dan bertambah tinggi sekitar 20 inci setiap bulan. Setiap tahun akan bertambah sekitar 20 kaki dan lebar 40 kaki. Sekarang ketinggian anak Krakatau sekitar 230 meter dari atas permukaan laut. Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut. Beberapa ahli geologi memperkirakan letusan ini bakal terjadi antara tahun 2015-2083. anak gunung Krakatau juga aktif mengeluarkan lava pijar

Fakta di atas merupakan kendala serius yang harus diperhatikan dalam pembangunan JSS. Membangun suatu infrastruktur di atas gunung berapi yang masih aktif akan membahayakan konstruksi dan membahayakan orang yang ada di infrastruktur tersebut. Daerah gunung berapi biasanya memiliki struktur lempeng yang tidak stabil karena sering terjadi getaran dari desakan magma di bawah (gempa vulkanik). Gunung Krakatau adalah salah satu contoh gunung berapi paling aktif di dunia, ditambah dengan lokasi selat sunda yang merupakan kawasan ‘cincin api’.

e.       Iklim dan cuaca yang tidak menentu
Badan Meteorologi, klimatologi dan Geofisika memperkirakan kecepatan angin di peraiiran selat sunda mencapai 30 km/jam dengan tinggi gelombang satu sampai dua meter.

Keadaan iklim dan cuaca yang tidak menentu selalu membahayakan apapun, baik benda mati maupun benda hidup. Misalkan proyek JSS selesai, padahal selat sunda sering ada cuaca buruk seperti di atas, maka akan membuat struktur bangunan jembatan itu lebih mudah rapuh karena cuaca, begitu juga orang yang lewat di atasnya, pasti akan merasa tidak nyaman dengan cuaca yang buruk tersebut. Apalagi dengan panjang sekitar 30 kilometer. Itu bukan jarak yang dekat, jika ada kecelakaan di tengah jembatan, akan lama untuk menevakuasi ke daratan karena jaraknya yang lumayan jauh.

Demikian poin-poin yang saya bisa analisa dari masalah pembanguna jembatan Selat Sunda. Menurut pemikiran saya, jembatan selat sunda ’belum’ terlalu perlu. Alasan ini disadari dengan berbagai faktor di atas.


Sumber:

Sedikit cerita tentang FTSL

Siapa yang mau masuk FTSL? Ngakuuuuu!!!  Loh. Malah ngancem. Ehm. Mari kita mulai cerita kita.

Ga usah dalam-dalam yak ngoreknya.

FTSL itu Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Jurusannya ada tiga : Teknik Sipil(SI), teknik Lingkungan(TL), dan Teknik Kelautan (KL). Teknik Kelautan adalah satu-satunya di Indonesia yang dapat akreditasi ABET internasional (ini denger-denger sih. Yang mengajukan di ITB ada tiga: elektro, teknik kimia, dan kelautan. Tapi yang di approve baru KL).

Ehm sebenarnya saya ngga akan bahas tentang FTSL, tapi lebih tepatnya satu matakuliah khusus anak FTSL: PRI atau Pengenalan Rekayasa Infrastruktur. Anak TPB bukan hanya dapat materi dasar, tapi juga materi pengantar untuk ke jurusannya nanti. Semua fakultas ada, dan dapat 2 sks per tahun kecuali SAPPK dengan 6 sks selama 2 semester dan SITH dengan 4 sks selama 2 semester. Beda ceritanya yak SBM sama FSRD hehe.

Ehm. Fokus PRI.

PRI dibagi menjadi enam kelas. Silahkah tiga angka terakhir NIM anda dibagi enam. Sisanya adalah kelas anda. Misalnya NIM 16610100 berarti 100:6= sisa 4 berarti anda kelas PRI 4.

Setiap pertemuan pasti ada tugas. UTS dilaksanakan saat jam pelajaran dan tidak berasa UTS (hheehhe pengalaman). UTS berupa soal uraian analisis dan lucu. Misalnya ada 5 bulir soal, perintahnya : kerjakan 4 soal yang anda bisa. Kalau yang opsional malah milih satu dari dua. Terserah kita.

Nah, daripada mubadzir nih tugas seabrek saya posting aja yaaaa...

Haha. Ternyata postingan ini cuma pengantar mau posting tugas-tugas (ya, biar blognya berguna bagi orang lain juga ^_^ saya kan ngga enak kalau nyampah melulu, haisyh).

Ok. Sekiaan ^_^ 
アイサ の ノート © 2014